Pengikut

Selasa, 07 Juni 2016

Ayah Bunda, Dengarkan Anakmu


Assalamualaikum Ayah Bunda :)

 Bagaimana kabarnya ? ....., mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah... 
rasanya sudah lama tak posting di blog, heheheh 
InsyaAllah kali ini saya akan memposting mengenai karunia mendengarkan...
silahkan disimak baik-baik dan direnungi :)


Bismillahirrohmannirrohim .....  
 
Telinga, salah satu indra karunia Allah yang bertugas mendengarkan. Dalam menjalankan perannya teling tidak pernah berhenti selalu aktif bahkan saat kita tertidur. Jika anda tidak lagi mendengar bunyi detik jam dinding atau “orkes katak sawah dan jangkrik” di luar, bukan berarti jam dinding atau katak itu berhenti berbunyi. Tetapi telinga anda sudah terbiasa dengan bunyinya dan otak anda memutuskan untuk mengabaikannya. Sama seperti mereka yang tinggal di bantaran sungai atau rel kereta api, mereka sudah tidak lagi terganggu dengan suara air atau kereta yang lewat, melainkan sudah terbiasa dan tidak terlalu memperhatikan lagi.

Bayi yang terbiasa tidur dalam suasana sunyi akan lebih mudah terbangun oleh kebisingan kecil dibandingkan dengan bayi yang terbiasa tidur dalam suasana wajar yang didalamnya sesekali terdengar jerit-tawa kakak-kakanya, dia akan tidur pulas tanpa terganggu.
Contoh-contoh diatas menunjukan bahwa telinga kita sesungguhnya terus mengirimkan sinyal-sinyal bunyi ke dalam otak. Tapi otak kita bisa memilih mana yang perlu didengarkan dan mana yang harus diabaikan.
Istilah mendengarkan yang dimaksud dalam bahasan ini adalah mendengarkan dengan penuh perhatian, atau menyimak. Dalam perkembangannya, psikologi dan pakar keayahbundaan pun memperkenalkan pula istilah emphatic listening (mendengarkan dengan empati) dan active listening (mendengarkan secara aktif).  Mendengarkan dengan empati berarti pendengar menempatkan dirinya pada posisi si pembicara, sehingga pembicara terdorong untuk lebih terbuka. Si pendengar menemani pembicara dalam berbagai momen, kegembiraan maupun kesedihan dengan  cara yang tidak menghakimi. Berbeda dengan mendengarkan secara aktif, yang berarti mendengarkan dengan cara-cara efektif diman si pembicara tahu bahwa dirinya didengarkan, pendengar melakukan kontak dengan pembicara, tidak terburu-buru memberikan tanggapan apalagi menawarkan solusi atau nasihat tanpa diminta.
Orangtua sholeh dapat menggunakan karunia mendengarkan yang mencakup dengan empati dan secara aktif.
Komponen pertama dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan diri sendiri. Adakalanya situasi dengan anak-anak membuat kita bereaksi irasional. Situasi seperti itu mungkin membangkitkan kebutuhan yang tak terpenuhi dan rasa sakit hati yang kita peroleh dari pengalaman masa kecil kita sendiri. Sebanyak apapun anda membaca litelatur keayahbundaan bahkan sebesar apapun tekad anda untuk bertindak benar, kadang sulit bagi anda menyingkirkan titik buta ini.
Ketika anda mendapati diri anda memberikan respon emosional yang kaku, merasa bingung dan terpentok, sudah saatnya anda duduk dan mendengarkan diri sendiri. Periksa ke dalam diri dan tanyalah diri anda “ apa  sebetulnya yang terjadi pada diriku ?kenapa jika anak berprilaku seperti ini selalu membuatku tak berdaya” .Tunggulah dengan tenang “jawaban” yang muncul dari pusat tubuh anda, lalu anda bisa mencari kata-kata atau gambaran yang tepat untuk menjelaskan perasaan anda.
Satu metafora untuk mendengarkan diri sendiri adalah dengan mengasuh jiwa anak dalam diri anda. Anda menggunakan karuni mendengarkan terhadap bagian-bagian luka dari diri anda. “ Menyembuhkan luka-luka masa kecil merupakan komponen untuk menjadi orangtua shaleh”. Anda tidak memiliki ruang kosong untuk mendengarkan anak-anak, kecuali anda memnuhi kebutuhan jiwa anak dalam diri anda.
Komponen yang sama pentingnya dalam upaya anda menjadi orangtua shaleh adalah mendengarkan pasangan anda dengan menjalin hubungan positif terhadap hubungan antar suami-istri. Ketidakpuasan, kekecewaan, kebingungan dan konflik diantara suami istri akan berimbas pada hubungan orangtua dan anak-anak mereka. Jika satu kebutuhan tidak terpenuhi pasangannya, maka ia akan menuntut lebih banyak dari anak-anaknya. Jika keinginan anda menjadi orangtua shaleh berjalan lancar, kerahkan energy anda untuk menjalin hubungan yang positif dengan pasangan anda.
Komponen terkahir dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan anak anda. Satu hal positif yang patut di pikirkan, setiap anak terlahir dengan kecenderungan bawaan kearah kerjasama dan altruism, dan bahwa anak memiliki cetak biru yang unik dalam keterampilan dan bakat untuk hidup didunia.
Orang tua berfungsi sebagai guru, membimbing anak menjauhi prilaku bermasalah dan menuju prilaku yang baik. Juga membantu anak-anak untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dengan menenpatkan diri pada posisi anak, orangtua bisa melihat bahwa anak-anak tidak bermaksud jahat, tapi hanya mencoba mewujudkan cetak biru mereka yang unik.
Ayah- bunda kini tahu, bagaimana cara memanfaatkan karunia mendengarkan. Cobalah mulai mendengarkan secara aktif setiap pembicaraan anak kita, temukan titik emas dalam hubungan positif orang tua dan anak. Anak-anak memiliki alasan atas setiap tindakannya numun mereka memiliki keterbatasan dalam mengungkapkannya, mari kitra gunakan karunia mendengarkan untuk membantu anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sholeh, manusia yang diridhoi Allah.    

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...