Pengikut

Selasa, 19 Januari 2016

Untuk Abii ^_^



Pesan-pesan Al Quran Tentang Tujuan Hidup

Bismillahirrahmaanirahiim

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya
Nasehat ini untuk semuanya ..........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.

Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci........... ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena
kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan.....
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan..... Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun...... jika cinta engkau jadikan sbg landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan......
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan......
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu".....
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan
sorban, karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu".....
Disayang, dimanja dan dilayani suami......
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu.....
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya......
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth.....
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu....

Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagaiKhadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....

Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam....
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan..... Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka...... jangan..........

Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....

Untuk suamiku yang ku cintai karena agamanya…
Untukmu, imam dan nahkoda dalam perahu kehidupan kita J
Aku mencintaimu…..

Jumat, 15 Januari 2016

Pendekatan Scientific (Ilmiah)



PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH MODEL PENEMUAN DALAM MATERI SATUAN PANJANG DI KELAS IV
Fitria Nuraeni 
Abstrak : Miskonsepsi dalam pembelajaran materi satuan panjang pada umumnnya adalah ketika siswa keliru mengubah satuan panjang  menjadi satuan panjang yang dikehandaki. Kesalahan ini bermula dari ketidaktepatan siswa memahami konsep satuan panjang. Mengutip dari pendapat pengikut aliran kontruktivis, Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 255) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran sehingga miskonsepsi dapat berkurang. Penggunaan media kongkret juga dapat membantu mengkonstruk pemahaman siswa. Media digunakan sebagi sarana pengamatan yang dapat mengantarkan siswa mengabstraksi pemahamannya. Dengan melalui proses yang terstuktur dan alamiah siswa dapat menjadikan pengalamannya sebagai bentuk rekonstruksi terhadap pemahamannya.

A.    PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 belum sepenuhnya dapat terealisasi. Hanya baru beberapa sekolah yang sudah menggunakan kurikulum 2013. Kendala yang masih sering terjadi adalah belum maksimalnya pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam penerapan kurikulum 2013. Terkadang guru masih terjebak dalam persoalan teknis. Dengan hadirnya kurikulum 2013 terutama menggunakan pendekatan ilmiah maka tugus guru semakin kompleks, dalam artian guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang dapat membuat siswa lebih aktif. Pendekatan ilmiah sangat bertolak belakang dengan proses belajar konvensional, dimana proses belajar lebih didominasi para siswa, guru hanya bertugas sebagai perancang kegiatan, pembimbing dan fasilitator dalam proses belajar. Perubahan atsmosfer dari konvensional menuju ilmiah atau dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa membuat sebagian guru masih belum dapat mengimplementasikannya, meskipun mereka telah mengetahui bahwa pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 sudah dapat dikatakan bagus.
Dalam kurikulum 2013,  pelaksanaan pemebelajaran bersifat  terpadu (integrated)  atau tematik. Semuanya telah terancang dalam buku tema, guru tidak berkenan mengubah tema, namun diberi keluluasaan dalam merancang pembalajarannya. Namun merancang pembelajaran bukanlah hal mudah, perancangan membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan dari hasil pemikiran yang mendalam. Pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 memiliki posisi dan potensi yang sangat strategis dalam keberhasilan proses pendidikan di SD. Hal ini terjadi karena pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dilandasi oleh teori belajar yang telah diuji keefektifannya. Dengan posisi seperti itu, maka pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah membutuhkan berbagai landasan yang kokoh dan kuat. Perlu  diperhatikan juga oleh para guru pada saat merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses dan hasil pembelajaran. Beberapa teori yang dapat melandasi pendekatan tersebut diantaranya teori belajar progresivisme dan kontrtuktivisme. Teori belajar progresivisme menurut  Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Dalam proses belajar siswa dihadapkan pada permasalahan yang menuntut pemecahan. Untuk memecahkan masalah tersebut, siswa harus memilih dan menyususn ulang pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256) pembelajaran yang disasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung. Menurut Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.
B.     PEMBAHASAN
Materi pengukuran dengan sub materi yang penulis pilih yaitu mengenai hubungan antar satuan panjang di kelas 4, sebenarnya telah dikenalkan di kelas 3, namun hanya sebatas pengenalan satuan panjang dan belum pada penggunaan satuan panjang dalam konteks yang lebih kompleks. Di kelas 4, barulah ada indikator siswa harus mampu menggunakan satuan panjang yang berbeda dalam satu pemecahan masalah, misalnya contoh soal “jalan yang memiliki panjang 1 km akan ditanami pohon dengan jarak setiap pohonnya 25 meter, berapakah banyak pohon yang ditanam”. Soal diatas menuntut siswa untuk menguasai konsep mengkonversi satuan dengan menggunakan tangga satuan panjang. Atau siswa harus mengubah satuan panjang yang berbeda-beda menjadi satuan yang telah ditentukan melalui operasi satuan panajng, misalnya 3 km + 8 dam – 20 hm = ... m. Pada intinya siswa harus menguasai tangga satuan panjang untuk dapat mengkonversikan setiap satuan menjadi satuan yang setara. Dalam buku Asiknya belajar Matematika kelas 4 karangan Sumarmi dengan kurikulum KTSP 2006 materi satuan panjang disampaikan dengan langkah pertama mengingatkan siswa pada materi satuan panjang yang telah dipelajarinya dulu di kelas 3 melalui tangga satuan panjang, berikut gambar tangga satuan panjang .
 Selanjutnya setelah disajikan gambar, guru mengajak siswa untuk berlatih mengubah satuan melalui operasi satuan panjang. Seperti contoh soal yang penulis jelaskan diatas. Konsep yang harus dikuasai siswa adalah jika mengubah (mengkonversikan) satuan panjang terbesar ke satuan panjang terkecil maka setiap turun satu satuan harus dikalikan 10 (kelipatan 10), sedangkan jika ingin mengubah satuan terkecil ke satuan terbesar maka setiap naik satu satuan harus dibagi 10.
Konsep satuan panjang baik dalam kurikulum KTSP maupun Kurikulum 2013 tetaplah sama, namun dalam pembentukan pemahaman konsep terlihat jelas perbedaannya. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas materi satuan panjang dalam pandangan kurikulum 2013. Jadi pada saat penanaman konsep penulis akan melihat dari sudut pandang kurikulum 2013.
Untuk mendukung proses pembelajaran tentu dibutuhkan sebuah media pembelajaran, media tersebut haruslah mampu membantu siswa membangun pemahamannya. Khusus untuk materi satuan panjang, penulis akan menggunakan pendekatan ilmiah, otomatis media yang digunakan mendukung proses penemuan konsep oleh siswa. Dalam buku Tema Panduan untuk Guru, media yang disarankan adalah benda kongkret seperti penggaris dengan beragam satuan panjang, misalnya satuan milimeter (mm), satuan centimeter (cm), satuan desimeter (dm) dan satuan meter (m). Media ini nantinya akan digunakan siswa untuk melakukan pengamatan terhadap satuan panjang tersebut guna menemukan konsep kelipatan 10 dalam tangga satuan panjang.
Media lainnya yang dapat mendukung suksesnya pendekatan ilmiah adalah peta, sesuai dengan materi yang terdapat di dalam Buku Tema Pahlawanku dengan kurikulum 2013, penggunaan peta rute Anyer dan Panarukan membantu siswa dalam pemecahan masalah. Selanjutnya gambar tangga satuan pun diperlukan, hal ini berguna saat siswa mulai mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan yang penulis gunakan dalam materi satuan panjang adalah pendekatan ilmiah (scientific approach), seperti yang telah penulis singgung sebelumnya,  proses belajar haruslah mampu memberikan pengalaman belajar yang dapat merekonstruksi pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.  Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Menurut Faiq (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com), Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
2.     Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3.     Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam bukunya, Trianto (2011 : 54) Pendekatan Scientific dalam pelajaran tertentu tidak sama dengan pelajaran lainnya. Dalam pelajaran Matematika pendekatan Scientific (5M) –nya adalah : Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Menyajikan (Mempublikasikan). Dalam pendekatan scientific ada tiga model pembelajaran yang digunakan, yaitu discovery learning (penemuan), project based learning (berbasis proyek), dan problem based learning (berbasis masalah).
Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. Dalam materi satuan panjang penulis akan memakai model penemuan (discovery learning), tahapan proses pembelajranya sebagai berikut :
1.      Mengamati
Dalam matematika, hal yang diamati berupa fakta. Dalam buku Tema Pahlawanku Kurikulum 2013, sebelum menuju konsep satuan panjang siswa diarahkan untuk mengamati Peta Rute Anyer sampai Panarukan. Siswa harus mencatat hal-hal penting dari hasil pengamatan itu. Misalnya jarak dari Anyer sampai Panarukan.
2.      Menanya
Untuk menumbuhkan pola berpikir yang rasional pada siswa, maka dapat dimulai dengan pertanyaan. Misalkan guru bertanya jika sepanjang rute Anyer sampai Panaruka akan ditanami pohon asem dengan jarak 25 m setiap pohonnya, berapa banyak pohon asem yang dapat ditanam. Guru memberikan siswa untuk mengerjakan sesuai penalarannya. Guru menanpung semua jawaba siswa.
3.      Menalar
Menalar berarti melakukan proses berpikir secara logis dan sistematis atas fakta-fakta yang ada untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Untuk proses penalaran guru mengajak siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan mengenai pengamatan satuan panjang. Setiap kelompok harus dapat membuktikan bahwa 1m=100 cm, 1 dm=10 cm, 1m= 10dm dengan bantuan media yang telah disediakan guru.
4.      Mencoba
Mencoba dapat diartikan sebagai menunjukkan atau membuktikan. Misalnya dari kesimpulan yang di dapat dari penalaran tadi akan dibuktikan bahwa kesimpulan yang diambil itu benar dengan cara memasukkan nilai-nilai yang diperlukan. Pada tahap ini siswa bereksplorasi menemukan hubungan antar satuan panjang.
5.      Menyajikan
Setelah dilakukan pembuktian terhadap kesimpulan dari penalaran yang di dapat tadi, maka kesimpulan akhirnya dapat disajikan atau dipublikasikan. Jika siswa belum mencapai kesimpulan yang diharapkan, maka guru mengingatkan untuk kembali mengkaji hasil pengamatannya.

Untuk pemahaman konsep tangga satuan, guru dapat mengulangi langkah diatas dengan media tangga satuan panjang, diawali dengan pengamatan, menjawab pertanyaan, mencoba, menalar, dan menyajikannya.

C.     PENUTUP
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas    kreatif dalam berinovasi atau berkarya. 
Pengalaman dalam belajar sangatlah berpengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Penting bagi seorang guru menciptakan sebuah proses belajar yang dapat memberikan pengalaman nyata yang dapat mengantarkan siswanya mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan ilmiah dengan model penemuan akan memberikan pengalaman dalam belajar, menghargai setiap usaha siswa dalam menemukan sebuah pemahaman lalu mengkondisikannya untuk terus berada dalam pemahaman yang benar.
DAPTAR PUSTAKA
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Buku Panduan Guru. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Buku Panduan Siswa. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Sumarmi. Mas Titing dkk. 2009. Asyiknya Belajar Matematika untuk SD/MI kelas IV. Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.

Model Pembelajaran Sinektik



Penerapan Model Sinektik Berbantu Media Tangram dalam Materi Mengelompokan Bangun Datar di Kelas II
Oleh
Fitria Nuraeni
Abstrak : Penggunaan media dan proses pembelajaran yang mengandung sedikit kontruktivis menjadi salah satu penghambat pembalajaran Geometri di Sekolah Dasar. Penggunaan media kontekstual belumlah cukup utnuk membentuk pemahaman siswa yang bermakna, meluas dan mendalam. Hal inilah yang kemudian menjadi menarik untuk di telaah yang akan dibahan dalam artikel ini. Teori Van Hiele yang mengatakan bahawa pembelajaran geometri haruslah mengikuti serangkaian tahap, hal ini bertujuan agar siswa mampu memahami materi geometri secara mendalam dan luas. Selain itu menurut Jhon Van De Walle pembelajaran geometri harus diajarkan dengan benar karena pemahaman yang luas akan geometri memiliki implikasi yang jelas dan penting dalam bagian-bagian kurikulum yang lain. Karenanya untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang menarik, menantang dan bermakna penulis menyarankan menggunakan model Sinektik dengan berbantu media Tangram. Model sienktik dengan ciri khas nya mengenai pembelajaran kreatif dirasa akan menarik jika ditunjang juga dengan media Tangram. Media Tangram yang sekilas seperti permainan dapat dijadikan sebuah media yang menunjang proses berpikir metafora dalam model Sinektik. Dengan menggunakan model Sinektik berbantu media Tangram diharapkan dapat memciptakan suasana belajar yang efektif, menyenangkan dan membantu siswa dalam memahami materi geometri. Khususnya di kelas rendah, model ini dapat dikemas dengan sedemikian rupa agar tidak terkesan membebani siswa dalam proses belajar.

A.    PENDAHULUAN
Pembelajaran Geometri di sekolah dasar tidak akan dan menantang jika hanya mengandalkan media gambar. Kehadiran benda manipulasi dapat mengundang ketertarikan siswa untuk belajar lebih baik mengenai konsep geometri. Hal ini berdasarkan terhadap penemuan penulis di Sekolah dasar mengenai materi Geometri khususnya di kelas 2. Guru memang menggunakan metode kontekstual dengan memanfaatkan benda nyata disekeliling siswa, namun jika diperhatikan penggunaan benda nyata kurang dapat mengkontrruksi siswa dalam memahami materi. Kenapa dikatakan kurang, menurut penulis kontruktivis tidak cukup menyuruh siswa memahami sendiri materinya melainkan sebuah bentuk pembelajaran yang mengarahkan siswa pada pemahaman yang bermakna. Tentu saja dengan proses yang telah dikemas sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang didapat tidak hanya diingat melainkan juga dapat di gunakan untuk menunjang materi lain.
Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256)
Pembelajaran yang didasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung.  

Menurut Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.

Sedangkan menurut teori belajar progresivisme Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) “Memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa”.
Berbicara mengenai geometri, tentulah ini berkaitan dengan teori dari Jhon Van Hiele yang memang khusus membicarakan metode pembelajaran geometri. Sebelumnya penulis berkata bahwa pembelajaran geometri tidak cukup hanya menghadirkan pengalaman terhadap benda nyata berbentuk, melainkan ada sebuh proses yang harus diikuti oleh siswa dalam mempelajari geometri. Penadapat penulis ini diperkuat oleh teori Jhon Van Hiele (dalam Jhon Van D walle, 2007 : 151)
Fitur yang paling menonjol dari model tersebut adalah hirarki lima tingkat dari cara dalam pemahaman ide-ide ruang. Tiap tingkatan menggambarkan proses pemikiran yang diterapkan dalam konteks geometri. Tingkatan-tingkatan tersebut menjalaskan tentang bagaimana kita berpikir dan jenis-jenis ide geometri apa yang kita pikirkan, bukannya berapa banyak pengetahuan yang kita miliki. Perbedaan yang signifikan dari satu level ke level berikutnya adalah objek-objek pikiran – apa yang mampu kita pikirkan secara geometris.

Mengambil pendapat dari buku Jhon Van D Walle (2007: 149) “pemahaman yang luas akan geometri memiliki implikasi yang jelas dan penting dalam bagian-bagian kurikulum yang lain”. Setelah penulis telaah maksud dari kutipan tersebut, ternyata memang benar. Pemahaman konsep-konsep geometri sangat membantu terhadap pemahaman materi lain. Misalnya materi pengukuran yang sejalan dengan geometri dalam perkembangan rumus luas dan isi serta dalam pemahaman hubungan luas sekeliling dan permukaan. Atau pada penalaran proposional yang membutuhkan visualisasi beruba bentuk-bentuk geometris.

B.     PEMBAHASAN
Materi mengelompokan bentuk bangun datar terdapat dalam Kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa di kelas 2. Materi ini merupakan kelanjutan dan pengembangan dari materi sebelumnya di kelas 1 yaitu mengenal jenis-jenis  bangun datar. Jika sebelumnya siswa hanya mengenal jenis-jenis bangun datar yang sederhana seperti persegi, segitiga dan lingkaran, maka di kelas 2 ini siswa di kenalkan dengan bangun datar lainnya yang masih termasuk pada kelompok segitiga, persegi, dan lingkaran. Bangun datar tersebut diantaranya jajargenjang, layang-layang dan trapesium yang dapat dikelompokan menjadi bangun segi empat.
Konsep yang harus disampaikan adalah bangun datar yang memiliki sisi empat dapat dikatakan sebagi “segiempat”, dengan jenis-jenisnya yaitu persegi, persegi panjang, jajargenjang, layang-layang, belah ketupat dan trapesium. Selanjutnya bangun datar yang memiliki sisi tiga dikatakan “segitiga” dengan jenis-jenis segitiga sama sisi, segitig sama kaki, segitiga siku-siku dan segitiga sembarang. Namun untuk materi segitiga tidak terlalu di bahas.
Penulis menyarankan menggunakan media yang dapat dimanipulasi, bersifat menyenangkan dan menantang bagi siswa serta tentu saja dapat mengkontruks pemahaman siswa mengenai geometri lebih jauh dan lebih banyak. Media Tangaram, yaitu merupakan salah satu permainan edukatif, selain bisa digunakan untuk bermain tangram bisa digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep dasar matematika. Permainan tangram cocok untuk diterapkan di sekolah dasar khususnya pada mata pelajaran matematika karena dengan tangkram guru dapat memperkenalkan berbagai bidang geometri datar. Guru atau pendidik bisa membuat sendiri permainan ini dari bahan-bahan yang seadanya, yaitu karton, kayu, atau bahan-bahan lainnya yang bisa digunakan.
Para ahli berpendapat bahwa Tangram bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai hal, di antaranya Bohning and Althouse 1997; Krieger 1991; National Council of Teacher’s Mathematics 2003 (Permana, Aziz. 2013)
1.      Mengembangkan rasa suka terhadap geometri
2.      Mampu membedakan berbagai bentuk
3.      Mengembangkan perasaan intuitif terhadap bentuk-bentuk dan relasi-relasi geometri
4.      Tangram juga dapat menjadi pengalaman multi-kultural bagi para pelajar. Ada beberapa kegiatan seni bahasa yang berpusat seputar Tangram, sehingga di sini terjadi hubungan inter-disipliner bidang ilmu. Adapun bentuk dari tangram adalah sebagai berikut :

Banyak manfaat lainnya yang di dapat dari penggunaan tangram sebagai media pembelajaran. Namun hal yang penulis fokuskan adalah pembentukan sikap kreatif dan kristis dalam memahami materi. Karenanya penulis menyarankan menggunakan model Sinektik untuk membuat suasana belajar yang efektif dalam mengkontruksi pemikiran siswa.
Model  sinektik  adalah  salah  satu  model  yang  termasuk  pada  rumpun  pribadi. Model  pribadi  merupakan  model  mengajar  yang  berorientasi  kepada perkembangan  diri  individu,  model  ini  menitik  beratkan  kepada  psikologis  individual dan  pengembangan  kreativitas  melalui  aktualisasi  diri,  kesehatan  mental,  dan pengembangan kreativitas. Salah  satu  ciri  kreativitas  menurut  Munandar  (1992  :  34)  adalah  mempunyai dorongan ingin tahu yang besar dan kemampuan mengembangkan suatu gagasan.  Model Sinektik yang dikembangkan oleh Gordon bertujuan untuk  menumbuhkan  kreativitas sehingga diharapkan siswa mampu menghadapi permasalahannya.
Menurut Gordon (Daswan, 2013)sinektis dibangun oleh empat dasar yaitu pandangan bahwa kreatifitas merupakan aktivitas sehari-hari, kreatifitas merupakan hal yang dapat dipelajari, kreativitas menunjang semua bidang (seni, teknologi, pengetahuan dsb.), dan proses penemuan individu di tunjang oleh penemuan kelompok.

Dalam teknik pengajarannya, sebaiknya guru jangan batasi  pengalaman  yang  mungkin diperoleh  peserta  didik,  hormatilah  gagasan-gagasan  mereka,  hargailah  proses belajar  mandiri,  hargai  perbedaan individu dan toleransi terhadap situasi kelas yang ribut. Untuk  strategi  sinektik, Gordon dalam Joyce (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007) mengemukakan  mengenai dua strategi prosedur sinektik, yaitu:
1.      Menciptakan sesuatu yang baru dengan metafora.
2.      Mengakrabkan  sesuatu  yang  asing  melalui  analogi-analogi  yang  sudah  dikenal dengan baik.
Agar lebih mudah penulis merangkum tahapan dari kegiatan belajar diatas sesuai tahapan model sinektik.

1.      Masukan Informasi, pada tahap pertama ini guru memberikan gambaran dasar konsep jenis bentuk bangun datar yang telah dikenali siswa dan akan dikenal siswa. Siswa memilih dua buah bentuk bangun datar yang terdapat pada tangram dan mengungkapkan hal apa yang ia temukan pada dua bangun datar tersebut. Hal ini juga sejalan dengan teori Van Hiele, yaitu masuk pada tahap visualisasi atau mengenal bentuk bangun datar.
2.      Proses metaforik, pada tahap ini siswa dibimbing untuk masuk ke tahap kreatifitas. Siswa dapat mulai memainkan tangram, yaitu dengan mulai  membentuk bangun datar yang diharapkan guru dengan menggunakan tangram. Dalam hal ini siswa diberi kebebasan memadupadankan bangun yang ada dalam tangram. Hal ini dilakukan terus menerus hingga siswa mulai memahami kelompok bangun datar berikut jenis-jenisnya. Tugas guru membimbing siswa untuk dapat menyelesaikan semua bentuk yang harus dikenali. Dalam teori van hielle tahap ini termasuk tahap analisis.
3.      Tahap Analogi langsung, analogi personal dan konflik kempaan merupakan tahan kreatifitas siswa. Analogi langsung adalah tahap dimana ia dihadapkan dengan sebuah kondisi langsung guna memancing sebuah gagasan atau ide. Tahap analogi personal adalah tahap dimana siswa mengambil tindakan secara personal yaitu mulai menuangkan idenya, proses diaman ia mulai mengkontruks pemahamannya juga mentransfer pemahamannya. Tahap konflik kempaan adalah tahap dimana ia dihadapkan dengan konflik yang bertujuan untuk memperluas gagasan atau idenya. Ketiga tahap ini di kemukakan oleh Gordon dan Joyce (1980:168) mengidentifikasikan metafora dalam tiga aktivitas yaitu personal analogy, direct analogy, compressed conflict (konflik kempaan). Pada tahap ini guru dapat memberikan sebuah tantangan dengan memberikan sebuah sketsa dengan blok-blok pola yang harus diisi dengan bengun datar yang tepat juga mewarnainya semenarik mungkin. Siswa dapat berimajinasi sesuai pemahamannya. Tentu setiap individu / setiap kelompok memiliki pemikiran yang berbeda-beda mengenai jenis bangun datar yang terdapad dalam pola. Kemudian selanjutnya mengelompokan sesuai jenisnya.
Contoh pola tersebut seperti   :                Dan setelah dikerjakan siswa menjadi :


Nama Bangun Datar
Nama Kelompok Bangun Datar
Segitiga sama sisi
Segitiga
Jajargenjang
Segiempat
Belah ketupat
Segi empat
....
....




Tahap ketiga ini dapat dikatakan tahap desuksi dalam teori Van Hiele, yaitu siswa muali memahami kesamaan sifat dalam kelompok bangun datar. Atau mulai memahami perbedaan masing bentuk bangun datar meskipun belum sampai pada materi sifat-sifat bangun datar. Tetapi hal ini sudah baik mengingat siswa sudah mulai memiliki ketertarikan terhadap geometri.
4.      Tahap mempfokuskan kembali atau feedback, tahap akhir dimana guru mengkoreksi jawaban dan meluruskan pemahaman yang melenceng sekaligus mengevaluasi hasil kerja siswa. Tahap terakhir ini dapat dikatakan tahap pengecekan ketepatan pemahaman siswa. Dalam teori Van Hiele tahapan terakhirnya adalah ketepatan. Dimana guru mengapresiasi hasil kerja siswa. Ketika siswa tidak sampai pada pemahaman yang diharapkan. Guru dapat langsung membingbing dengan menyruh siswa melihat kembali hasil kerjanya dan membingbingnya pada pemahaman  yang benar.

Tahapa-tahapan diatas masih dapat dimodifikasi, yang jelas inti dari model sinektik adalah munculnya cara berpikir metafora dan mendorong siswa pada situasi kreatif. Untuk kelas rendah tentu proses atau tahapan-tahan diatas haruslah menyenangkan dan tidak membebani siswa. Penting bagi guru menguasai keteampilan mengajar agar situasi belajar mengajar tetap kondusif, efektif dan menyenangkan tentunya.

C.     PENUTUP
Permasalahan yang menghambat pemebalajaran geometri di Sekolah Dasar dapat diatasi dengan model atau media yang dapat membelajarakan siswa pada hal-hal menarik dalam geometri. Model sinektik, selain bertujuan mengembangkan kreatifitas juga melatih siswa berpikir kritis dalam menuangkan ide-ide terbaiknya. Merujuk pada teori Van Hiele yang fokus membahas geometri, pembelajaran geometri haruslah mengikuti beberapa tahapan, tujuannya adalah agar siswa mampu memahami materi geometri dengan pemahaman yang dalam dan luas. Adapun penggunaan media Tangram yang berguna sebagai alat pembantu dalam proses pembelajaran, memiliki fungsi yang bersifat menarik dan menantang. Materi Geometri tidak akan lepas dari media, karenanya sebagai guru hendaklah menggunakan media-media yang dapat berperan maksimal dalam membantu tercapainya tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA 
Daswan. 2013. Penerapan Model Sinektik Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif dan Komuikasi Matematis Siswa Tsanawiah. Universitas Pendidikan Indonesia: Repository.com
Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : Gramedia Widiasarana
Permana, Aziz. 2013.Tangram : Media Pembelajaran Matematika.Tersedia di http://eostudent.blogspot.com/ tangram-media-pembelajaran-matematika.html [Online] 03/04/2014
Purnomosidi.Dkk.. 2008. Matematika 2 Untuk SD dan MI. Jakarta : Pusat perbukuan Depdiknas.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Silabus Pelajaran Matematika Kurikulum KTSP 2006
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fip-upi. 2007. Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan. Bandung : Grasindo
Van De Walle. Jhon A. 2008. Matematika Sekolah Dasar dan Menengah Jilid 2 Pengembangan Pengajaran. Jakarta : Erlangga

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...