Pengikut

Selasa, 07 Juni 2016

Ayah Bunda, Dengarkan Anakmu


Assalamualaikum Ayah Bunda :)

 Bagaimana kabarnya ? ....., mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah... 
rasanya sudah lama tak posting di blog, heheheh 
InsyaAllah kali ini saya akan memposting mengenai karunia mendengarkan...
silahkan disimak baik-baik dan direnungi :)


Bismillahirrohmannirrohim .....  
 
Telinga, salah satu indra karunia Allah yang bertugas mendengarkan. Dalam menjalankan perannya teling tidak pernah berhenti selalu aktif bahkan saat kita tertidur. Jika anda tidak lagi mendengar bunyi detik jam dinding atau “orkes katak sawah dan jangkrik” di luar, bukan berarti jam dinding atau katak itu berhenti berbunyi. Tetapi telinga anda sudah terbiasa dengan bunyinya dan otak anda memutuskan untuk mengabaikannya. Sama seperti mereka yang tinggal di bantaran sungai atau rel kereta api, mereka sudah tidak lagi terganggu dengan suara air atau kereta yang lewat, melainkan sudah terbiasa dan tidak terlalu memperhatikan lagi.

Bayi yang terbiasa tidur dalam suasana sunyi akan lebih mudah terbangun oleh kebisingan kecil dibandingkan dengan bayi yang terbiasa tidur dalam suasana wajar yang didalamnya sesekali terdengar jerit-tawa kakak-kakanya, dia akan tidur pulas tanpa terganggu.
Contoh-contoh diatas menunjukan bahwa telinga kita sesungguhnya terus mengirimkan sinyal-sinyal bunyi ke dalam otak. Tapi otak kita bisa memilih mana yang perlu didengarkan dan mana yang harus diabaikan.
Istilah mendengarkan yang dimaksud dalam bahasan ini adalah mendengarkan dengan penuh perhatian, atau menyimak. Dalam perkembangannya, psikologi dan pakar keayahbundaan pun memperkenalkan pula istilah emphatic listening (mendengarkan dengan empati) dan active listening (mendengarkan secara aktif).  Mendengarkan dengan empati berarti pendengar menempatkan dirinya pada posisi si pembicara, sehingga pembicara terdorong untuk lebih terbuka. Si pendengar menemani pembicara dalam berbagai momen, kegembiraan maupun kesedihan dengan  cara yang tidak menghakimi. Berbeda dengan mendengarkan secara aktif, yang berarti mendengarkan dengan cara-cara efektif diman si pembicara tahu bahwa dirinya didengarkan, pendengar melakukan kontak dengan pembicara, tidak terburu-buru memberikan tanggapan apalagi menawarkan solusi atau nasihat tanpa diminta.
Orangtua sholeh dapat menggunakan karunia mendengarkan yang mencakup dengan empati dan secara aktif.
Komponen pertama dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan diri sendiri. Adakalanya situasi dengan anak-anak membuat kita bereaksi irasional. Situasi seperti itu mungkin membangkitkan kebutuhan yang tak terpenuhi dan rasa sakit hati yang kita peroleh dari pengalaman masa kecil kita sendiri. Sebanyak apapun anda membaca litelatur keayahbundaan bahkan sebesar apapun tekad anda untuk bertindak benar, kadang sulit bagi anda menyingkirkan titik buta ini.
Ketika anda mendapati diri anda memberikan respon emosional yang kaku, merasa bingung dan terpentok, sudah saatnya anda duduk dan mendengarkan diri sendiri. Periksa ke dalam diri dan tanyalah diri anda “ apa  sebetulnya yang terjadi pada diriku ?kenapa jika anak berprilaku seperti ini selalu membuatku tak berdaya” .Tunggulah dengan tenang “jawaban” yang muncul dari pusat tubuh anda, lalu anda bisa mencari kata-kata atau gambaran yang tepat untuk menjelaskan perasaan anda.
Satu metafora untuk mendengarkan diri sendiri adalah dengan mengasuh jiwa anak dalam diri anda. Anda menggunakan karuni mendengarkan terhadap bagian-bagian luka dari diri anda. “ Menyembuhkan luka-luka masa kecil merupakan komponen untuk menjadi orangtua shaleh”. Anda tidak memiliki ruang kosong untuk mendengarkan anak-anak, kecuali anda memnuhi kebutuhan jiwa anak dalam diri anda.
Komponen yang sama pentingnya dalam upaya anda menjadi orangtua shaleh adalah mendengarkan pasangan anda dengan menjalin hubungan positif terhadap hubungan antar suami-istri. Ketidakpuasan, kekecewaan, kebingungan dan konflik diantara suami istri akan berimbas pada hubungan orangtua dan anak-anak mereka. Jika satu kebutuhan tidak terpenuhi pasangannya, maka ia akan menuntut lebih banyak dari anak-anaknya. Jika keinginan anda menjadi orangtua shaleh berjalan lancar, kerahkan energy anda untuk menjalin hubungan yang positif dengan pasangan anda.
Komponen terkahir dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan anak anda. Satu hal positif yang patut di pikirkan, setiap anak terlahir dengan kecenderungan bawaan kearah kerjasama dan altruism, dan bahwa anak memiliki cetak biru yang unik dalam keterampilan dan bakat untuk hidup didunia.
Orang tua berfungsi sebagai guru, membimbing anak menjauhi prilaku bermasalah dan menuju prilaku yang baik. Juga membantu anak-anak untuk menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dengan menenpatkan diri pada posisi anak, orangtua bisa melihat bahwa anak-anak tidak bermaksud jahat, tapi hanya mencoba mewujudkan cetak biru mereka yang unik.
Ayah- bunda kini tahu, bagaimana cara memanfaatkan karunia mendengarkan. Cobalah mulai mendengarkan secara aktif setiap pembicaraan anak kita, temukan titik emas dalam hubungan positif orang tua dan anak. Anak-anak memiliki alasan atas setiap tindakannya numun mereka memiliki keterbatasan dalam mengungkapkannya, mari kitra gunakan karunia mendengarkan untuk membantu anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang sholeh, manusia yang diridhoi Allah.    

Kamis, 14 April 2016

Melejitkan Investasi Sosial Pada Anak



Bismillahirrohmannirrohim

Sungguh amat menyedihkan kalau pendidikan super yang kita bangga-banggakan dan yang terus diperbaharui supaya makin canggih, justru membuat murid-murid berjarak dari lingkungan sosialnya. Amat menyedihkan bila sejak dini anak-anak sudah terjebak sikap antisosial dan terangkap dalam keegoannya sendiri. Banyak sekolah berhasil mencetak murid cerdas yang meraih berbagai mendali penghargaan, tapi anak malah gagal dalam kehidupan sosial dan masyarakat telah banyak menuai dampak negatifnya. Dalam riwayat karirnya sebagai super teacher, Rasulullah melakukan pembinaan kejeniusan sosial terhadap murid-muridnya. Ternyata beliau memulai pendidikan sosial baru dikenal dengan masyarakat luas.
Belakangan para ahli memasukan kemampuan membangun hubungan sosial sebagai salah satu bentuk kecerdasan. Pengakuan terhadap kemampuan dahsyat terkait kejeniusan sosial ini disokong temuan-temuan menakjubkan di bidang ilmu saraf sosial. Sekarang telah berkembang berbagai jenis ilmu terkait dengan upaya meningkatkan kecerdasan sosial, kita mengenal ilmu sosiologi, psikologi, human resourse Development, komunikasi dan sebagainya. Juga berkembang pesat sekolah-sekolah yang mendidik para muridnya tentang kecakapan dalam berhubungan sosial, seprti sekolah kepribadia, sekolah PR (public relation), sekolah humas, adapula kuliah HI (hubungan internasional), dan lainnya.
Rasul mengajarkan pada anak didiknya betapa lingkungan sosial itu amat menyenangkan. Sebelum tahu seluk beluk lingkungan masyarakat, anak muri
d diajari dulu relasi sederhana antara anak dengan dirinya. Rasul tidak marah merid cilik naik kepundaknya saat shalat. Beliau menepis konsep pendidikan yang mengandalkan kemarahan. Pemakaian cara santun yang dipilih Rasul, bertujuan sujpaya anak tidak trauma membangun hubungan sosial dengan orang lain.
Lingkungan masyarakat merupakan wadah sosial baru bagi anak. Dia belum punya modal atau pondasi untuk terjun di masyarakat yang sangat beraga, dan belum tentu pula mesyarakat langsung menerima keberadaan si anak. Selain membutuhkan bimbingan, anak juga memerlukan pengukuhan keberadaannya dalam masyarakat.
Pendidikan tanpa model kompetensi sehat juga berbahaya, karena kompetensi bagi pelajar bagaikan bahan bakar pemacu semangat menuntut ilmu. Tanpa semangat tidak akan ada upaya pencarian bekal keilmuan secara percepatan. Maka salah satu strategi pendidikan dengan menciptakan iklim kompetensi yang sehat tersebut, seprti dengan memberi nilai , sistim ranking, tingkatan kelas, perlombaan, pertandingan, simulasi, dan lain lain. Dengan adanya strategi membangun iklim kompetensi yang sehat, sesungguhnya anak sedang diajarkan untuk mengakui posisi temannya yang lain dan belajar menerima kondisinya. Anak juga memiliki kepekaan sosial, dan boleh jadi berkat didikan kecerdasan sosial yang baik, mereka lebih tajam menganalisa dampak lingkungannya. Jadi, jangan pernah sepelekan saran atau anjuran dari anak-anak untuk kebaikan orang-orang sekitarnya. Murid yang super tidak saja menjadikan lingkungan sosial tempat bergaul, bermain atau belajar bermasyarakat, tetapi juga peluang pembaharu. Anak-anak mampu menajamkan kepekaan sosial, meluruskan yang keliru dan membetulkan yang salah.
Kecerdasan sosial, inilah yang kadanga kita lupakan. Melihat fenomena sekarang, apalagi diperkotaan rasanya sangat jarang orang yang memiliki kecerdasan sosial. Hal ini pun berdampak terhadap pendidikan. Menegur kita semua bahwasanya pendidikan sosial yang baik yang diperlukan guna mencapai suatu pendidikan yang super. Banyak dari orang tua justru kurang mengenalkan lingkungan sosilal kepada anak sehingga sulit untuk mandiri dan bergantung atau bahkan individualis.

Selasa, 12 April 2016

Mengajak Anak Menuju Puncak Spiritual

Bismillahirrohmannirrohim 

Semakin mutakhir zaman ini, para ahli semakin percaya jika unsur spiritual menjadi bagian penting dari keberhasilan dan kebahagiaan hidup manusia. Aspek spiritual bahkan diyakini menjadi salah satu jenis kecerdasan, hingga dikenal pula spiritual intelligence. Kita menyambut baik berbagai model pendidikan rohani yang diciptakan manusia guna melapangkan jalan menuju Tuhan. Kita patut berkaca pada pembawa risalah agama Islam, karena Nabi Muhammad berabad-abad yang lalu telah menegakkan pendidikan spiritual ketika orang-orang sekitar mencibirnya. Rasul berhasil menciptakan metode pendidikan spiritual dengan sistem akselerasi atau percepatan, dengan mengkondisikan anak didiknya agar segera sampai pada kebutuhan mereka terhadap tuhan.
Dengan kekuatan spiritual, manusia akan tangguh mengarungi berbagai gelombang kehidupan. Sebab dirinya telah memiliki pegangan Maha Tinggi dan tak akan karam oleh badai apapun. Anak kecil juga manusia yang tentu membutuhkan kekuatan spiritual dan tak mengherankan sedari dini mereka telah bertanya dan mencari siapa Tuhan yang hakiki. Anak-anak haruslah dibimbing menuju Allah Swt. Pendidikan merupakan jalan yang benar guna menuntun anak didik menemukan kekuatan spiritualnya.
Dalam khazanah Islam, pendidikan dikenal dengan sebutan Tarbiyyah, yang dalam bahasa Arab, Tarbiyyah maupun Rabb berasal dari kata yang sama, yaitu ra ba ya. Artinya pendidikan yang super itu adalah menyertakan nilai-nilai ketuhanan dalam proses belajar mengajar. Belajar tanpa kesadaran spiritual akan membuat pelajar seperti mengejar fatamorgana di padang pasir. Mereka tidak akan sampai pada pemahaman hakikat kehidupan. Lama-kelamaan mereka akan merassakan dirinya hanya menjadi permainan kehidupan.
Salah satu rahasia pendidikan supernya, Rasul tidak membuang umur murid di bangku sekolah ssementara hasilnya minim atau malah nol. Untuk bekal spiritual, Rasul melakukakn sistim Akselerasi atau percepatan, cukup dengan materi pertama langsung menanamkan akar spiritual pada sanubari anak. Jalaludi Rakhmat menerangkan, orangtua, guru dan sekolah dapat berfungsi sebagai mursyid (pembimbing rohani) yang dengan telaten dan penuh kasih sayang membimbing muris-muridnya menyucikan batin, membersihkan diri, dan kemudian melatih mengaktualkan sifat-sifat Tuhan dalam dirinya.
Islam itu indah, jika guru menampilkan diri dengan keindahan spiritula Islam, niscaya banyak yang akan tertawan hatinya. Rasul melakukan pendekatan persahabatan, beliau membangun keakraban dengan membuka percakapan intim, turut berteduh dari teriknya matahari dan bersedia duduk bersama. Anak-anak lekas kagum dengan sesuatu yang di luar kebiasaan, hal-hal yang tidak mampu diperbuat manusia biasa.
Anak-anak adalah manusia yang paling suka meniru. Oleh sebab itu jangan sembarangan memberi mereka panutan. Para guru dan orang tua yang memberikan model terbaik terkait kekuatan spiritual. Pelajaran yang disampaikan berupa cerita akan lebih cepat diserap anak murid. Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Kecerdasan spiritual hendaknya dilakukan pula dengan metode Quantum (loncatan) dan jangan linear (bertahap).  Mereka akan mampu mencapai tujuan kesempurnaan sebagi manusia dengan jalan spiritual, seperti  Rasul mendidik keimanan muridnya hingga berkembang dahsyat.
Inilah puncak pendidikan yang sesungguhnya. Mengantarkan seorang anak menuju kesempurnaannya. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang mampu menjadikan muridnya menuju puncak spiritual mereka sebgai manusia atau makhluk bertuhan.Banyak fakta membuktikan, jika seorang anak mencapai puncak spiritual, atau tahap keimanan yang tinggi maka tidak mustahil mereka dapat menjadi manusia yang dimuliakan oleh Allah, dengan dimuliakan Allah maka manusia lainpun akan memuliakannya. Ketauladanan dan pendidikan yang tepat dapat membantu terwujudnya manusia beriman bertakwa. Seperti rasulullah yang menggabungkan teori dengan praktek. Memberi pengajaran sambil mencontohnkannya. Sehingga sangat mudah ditiru, apalagi dengan sifat anak yang senang meniru.

Senin, 04 April 2016

Mengajarkan Konsep Penjumlahan Pada Anak

Assalamualaikum sahabat Ruang Baca pencinta Ilmu, 
lama tak posting, kali ini saya akan bercerita dan berbagi info sedikit tentang bagaimana mengajarkan penjumlahan pada anak-anak. Susah- susah gampang sebetulnya. Mengajarkan matematika sejak dini merupakan hal yang penting, asalakan caranya yang betul. Orang tua mana yang tak ingin anaknya pintar matematika, dan terkadang ambisi orang tua inilah yang mengantarkan anak-anak pada berbagai tempat les yang menjanjikan kemudahan. Hal itu tidak sepenuhya salah sahabat, karena tak semua orang tua memiliki waktu mengajarkan anak-anaknya berhitung apalagi mencintai matematika.

 MATEMATIKA ITU MUDAH !!!
kata itulah yang selalu saya ulang ketika mengajarkan matematika, tentu saja dengan diiringi proses belajar yang mudah diterima siswa.
Matematika adalah ilmu yang penting, ada yang mengatakan matematika adalah Rajanya Pengetahuan, tapi perlu diingat belajar matematika tidaklah semudah membaca deretan huruf yang bisa langsung dicerna isinya. Matematika adalah bahasa simbol, artinya matematika dapat dipahami ketika kita memahami simbo-simbol dalam matematika. Angka adalah salah satu simbol dasar dalam matematika.

Mengajarkan matematika dapat dilakukan sejak dini. akan tetapi hanya sebatas pengenalan saja. seiring berjalannya waktu, ketika memasuki usia sekolah anak akan dikenalkan dengan berbagai pemahaman matematika dan akan terus berlanjut selama hidupnya (kalo masih semangat dan cinta matematika hehehe...)

Hal yang paling penting ketika mengajarkan matematika, terutama penjumlahan adalah "PEMAHAMAN KONSEP", tanpa pemahaman konsep anak tidak akan memahami matematika. Mungkin anak akan tetap mampu mengerjakan soal matematika, tapi anak tidak akan paham dan mungkin tidak akan menggunakan matematika dalam kehidupanya.


Berikut saya paparkan sedikit tips mengajarkan penjumlahan :

  1. Tekankan pada anak dan selalu ingatkan bahwa belajar matematika itu mudah dan menyenangkan. Lakukan setiap kali mengajarkan matematika, hal ini berguna untuk sugesti dan menyemangati anak-anak yang motivasinya menurun.
  2. Ajarkan anak dalam mengerjakan matematika/hitungan angka dengan logika, bukan dengan menghitung. gunakan benda-benda kongkrit yang ada di sekitar siswa .
  3. Ajarkan angka 1 - 10 dengan menggunakan hitungan jari, dan ajarkan anak untuk mengingat posisi jari  pada angka tersebut. Misalnya 7 adalah dengan membuka kelima jari tangan kiri dan 2 (jempol dan ibu jari) tangan kanan, dst. Inilah awal anak belajar menghitung.
  4. Ajarkan anak menghitung dimulai dari penjumlahan angka yang menghasilkan nilai 5. Misal: 1 + 4 = 5, 2 + 3 = 5. biarkan anak mengingatnya dengan otomatis penjumlahan tsb. (Jangan ajarkan: 1 simpan di hati, buka 4 jari lalu hitung habis 1, 2, 3, 4,5. Ini akan menyusahkan anak ketika anak sudah belajar perkalian yang membutuhkan hitungan penjumlahan yang cepat dan akurat.
  5. Ajarkan anak menghitung penjumlahan yang menghasilkan angka 10. Misalnya, 1 + 9 = 10, 2 + 8 = 10 dan seterusnya. Biarkan anak mengingat secara otomatis pasangan angka penjumlahan yang menghasilkan 10.
  6. Setelah anak mengingat pasangan angka penjumlahan yang menghasilkan 5 dan 10 ajarkan nilai tempat/angka yang dimulai dengan satuan, puluhan, ratusan, dst. Ini sangat penting. Banyak orang tua dan guru melupakan bahwa nilai tempat inilah modal anak untuk menghitung dengan cepat.
  7. Setelah mengerti nilai tempat/angka puluhan, ajarkan penjumlah angka dimulai dari 10 + 1, 10 + 2 dst.
  8. lalu ajarkan penjumlahan bilangan lain yang menghasilkan angka lebih dari 10 dengan bermain di angka puluhan.. Misalnya 7 + 8 = 15. Jangan mengajarkan anak menghitung  satu per satu, tapi mainkan pasangan angka puluhan dari salah satu angka di atas. Teman 7 adalah 3, atau 7 + 3 = 10. Jadi angka 3 sudah berpindah/berteman ke angka 7, maka 8 - 3 = 5, jadi 10 + 5 = 15. Lama kelamaan anak hanya akan menghitung nilai satuannya, karena puluhannya otomatis sudah ia hitung dengan pasangan angka puluhan seperti pada poin 5.

Oke sedikit tips diatas insyaAllah akan dilanjutkan di lain kesempatan. Untuk menambah referensi dalam mengajar anda dapat mendownload beberapa soal menarik mengenai penjumlahan.

DOWNLOAD SOAL 1
DOWNLOAD SOAL 2

Selasa, 19 Januari 2016

Untuk Abii ^_^



Pesan-pesan Al Quran Tentang Tujuan Hidup

Bismillahirrahmaanirahiim

Dengan kerendahan hati mari kita simak pesan-pesan Al-qur'an tentang tujuan hidup yang sebenarnya
Nasehat ini untuk semuanya ..........
Untuk mereka yang sudah memiliki arah.........
Untuk mereka yang belum memiliki arah.........
dan untuk mereka yang tidak memiliki arah.
nasehat ini untuk semuanya.......
Semua yang menginginkan kebaikan.

Nikah itu ibadah.......
Nikah itu suci........... ingat itu......
Memang nikah itu bisa karena harta, bisa karena
kecantikan, bisa karena keturunan dan bisa karena agama.
Jangan engkau jadikan harta, keturunan maupun kecantikan sebagai alasan.....
karena semua itu akan menyebabkan celaka.
Jadikan agama sebagai alasan..... Engkau akan mendapatkan kebahagiaan.

Tidak dipungkiri bahwa keluarga terbentuk karena cinta....
Namun...... jika cinta engkau jadikan sbg landasan,
maka keluargamu akan rapuh, akan mudah hancur.
Jadikanlah " ALLAH " sebagai landasan......
Niscaya engkau akan selamat, Tidak saja dunia, tapi juga akherat.......
Jadikanlah ridho Allah sebagai tujuan......
Niscaya mawaddah, sakinah dan rahmah akan tercapai.

Jangan engkau menginginkan menjadi raja dalam "istanamu".....
disambut istri ketika datang dan dilayani segala kebutuhan.......
Jika ini kau lakukan "istanamu" tidak akan langgeng..

Lihatlah manusia ter-agung Muhammad saw....
tidak marah ketika harus tidur di depan pintu, beralaskan
sorban, karena sang istri tercinta tdk mendengar kedatangannya.

Tetap tersenyum meski tidak mendapatkan makanan
tersaji dihadapannya ketika lapar........
Menjahit bajunya yang robek........

Jangan engkau menginginkan menjadi ratu dalam "istanamu".....
Disayang, dimanja dan dilayani suami......
Terpenuhi apa yang menjadi keinginanmu....
Jika itu engkau lakukan, "istanamu" akan menjadi neraka bagimu

Jangan engkau terlalu cinta kepada istrimu.........
Jangan engkau terlalu menuruti istrimu......
Jika itu engkau lakukan akan celaka....
Engkau tidak akan dapat melihat yang hitam dan yang putih,
tidak akan dapat melihat yang benar dan yang salah.....
Lihatlah bagaimana Allah menegur " Nabi "-mu
tatakala mengharamkan apa yang Allah halalkan hanya karena
menuruti kemauan sang istri.

Tegaslah terhadap istrimu.....
Dengan cintamu, ajaklah dia taat kepada Allah.......
Jangan biarkan dia dengan kehendaknya......
Lihatlah bagaimana istri Nuh dan Luth.....
Di bawah bimbingan manusia pilihan, justru mereka menjadi penentang.....
Istrimu bisa menjadi musuhmu....

Didiklah istrimu...
Jadikanlah dia sebagai Hajar, wanita utama yang loyal terhadap tugas suami, Ibrahim.
Jadikan dia sebagai Maryam, wanita utama yang bisa menjaga kehormatannya......
Jadikan dia sebagaiKhadijah, wanita utama yang bisa mendampingi sang
suami Muhammad saw menerima tugas risalah.....

Istrimu adalah tanggung jawabmu....
Jangan kau larang mereka taat kepada Allah.....
Biarkan mereka menjadi wanita shalilah...
Biarkan mereka menjadi hajar atau Maryam....
Jangan kau belenggu mereka dengan egomu...

Jika engkau menjadi istri...
Jangan engkau paksa suamimu menurutimu...
Jangan engkau paksa suamimu melanggar Allah......
Siapkan dirimu untuk menjadi Hajar, yang setia terhadap tugas suami.....
Siapkan dirimu untuk menjadi Maryam, yang bisa menjaga kehormatannya....
Siapkan dirimu untuk menjadi Khadijah, yang bisa yang bisa mendampingi suami menjalankan misi.

Jangan kau usik suamimu dengan rengekanmu....
Jangan kau usik suamimu dengan tangismu....
Jika itu kau lakukan..... Kecintaannya terhadapmu akan
memaksanya menjadi pendurhaka...... jangan..........

Jika engkau menjadi Bapak......
Jadilah bapak yang bijak seperti Lukmanul Hakim
Jadilah bapak yang tegas seperti Ibrahim
Jadilah bapak yang kasih seperti Muhammad saw
Ajaklah anak-anakmu mengenal Allah..........
Ajaklah mereka taat kepada Allah.......
Jadikan dia sebagai Yusuf yang berbakti.......
Jadikan dia sebagai Ismail yang taat.......
Jangan engkau jadikan mereka sebagai Kan'an yang durhaka.

Mohonlah kepada Allah..........
Mintalah kepada Allah, agar mereka menjadi anak yang shalih.....
Anak yang bisa membawa kebahagiaan.

Jika engkau menjadi ibu....
Jadilah engaku ibu yang bijak, ibu yang teduh....
Bimbinglah anak-anakmu dengan air susumu....
Jadikanlah mereka mujahid.........
Jadikanlah mereka tentara-tentara Allah.....
Jangan biarkan mereka bermanja-manja.....

Untuk suamiku yang ku cintai karena agamanya…
Untukmu, imam dan nahkoda dalam perahu kehidupan kita J
Aku mencintaimu…..

Jumat, 15 Januari 2016

Pendekatan Scientific (Ilmiah)



PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH MODEL PENEMUAN DALAM MATERI SATUAN PANJANG DI KELAS IV
Fitria Nuraeni 
Abstrak : Miskonsepsi dalam pembelajaran materi satuan panjang pada umumnnya adalah ketika siswa keliru mengubah satuan panjang  menjadi satuan panjang yang dikehandaki. Kesalahan ini bermula dari ketidaktepatan siswa memahami konsep satuan panjang. Mengutip dari pendapat pengikut aliran kontruktivis, Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 255) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran sehingga miskonsepsi dapat berkurang. Penggunaan media kongkret juga dapat membantu mengkonstruk pemahaman siswa. Media digunakan sebagi sarana pengamatan yang dapat mengantarkan siswa mengabstraksi pemahamannya. Dengan melalui proses yang terstuktur dan alamiah siswa dapat menjadikan pengalamannya sebagai bentuk rekonstruksi terhadap pemahamannya.

A.    PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 belum sepenuhnya dapat terealisasi. Hanya baru beberapa sekolah yang sudah menggunakan kurikulum 2013. Kendala yang masih sering terjadi adalah belum maksimalnya pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam penerapan kurikulum 2013. Terkadang guru masih terjebak dalam persoalan teknis. Dengan hadirnya kurikulum 2013 terutama menggunakan pendekatan ilmiah maka tugus guru semakin kompleks, dalam artian guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang dapat membuat siswa lebih aktif. Pendekatan ilmiah sangat bertolak belakang dengan proses belajar konvensional, dimana proses belajar lebih didominasi para siswa, guru hanya bertugas sebagai perancang kegiatan, pembimbing dan fasilitator dalam proses belajar. Perubahan atsmosfer dari konvensional menuju ilmiah atau dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa membuat sebagian guru masih belum dapat mengimplementasikannya, meskipun mereka telah mengetahui bahwa pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 sudah dapat dikatakan bagus.
Dalam kurikulum 2013,  pelaksanaan pemebelajaran bersifat  terpadu (integrated)  atau tematik. Semuanya telah terancang dalam buku tema, guru tidak berkenan mengubah tema, namun diberi keluluasaan dalam merancang pembalajarannya. Namun merancang pembelajaran bukanlah hal mudah, perancangan membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan dari hasil pemikiran yang mendalam. Pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 memiliki posisi dan potensi yang sangat strategis dalam keberhasilan proses pendidikan di SD. Hal ini terjadi karena pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dilandasi oleh teori belajar yang telah diuji keefektifannya. Dengan posisi seperti itu, maka pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah membutuhkan berbagai landasan yang kokoh dan kuat. Perlu  diperhatikan juga oleh para guru pada saat merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses dan hasil pembelajaran. Beberapa teori yang dapat melandasi pendekatan tersebut diantaranya teori belajar progresivisme dan kontrtuktivisme. Teori belajar progresivisme menurut  Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Dalam proses belajar siswa dihadapkan pada permasalahan yang menuntut pemecahan. Untuk memecahkan masalah tersebut, siswa harus memilih dan menyususn ulang pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256) pembelajaran yang disasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung. Menurut Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.
B.     PEMBAHASAN
Materi pengukuran dengan sub materi yang penulis pilih yaitu mengenai hubungan antar satuan panjang di kelas 4, sebenarnya telah dikenalkan di kelas 3, namun hanya sebatas pengenalan satuan panjang dan belum pada penggunaan satuan panjang dalam konteks yang lebih kompleks. Di kelas 4, barulah ada indikator siswa harus mampu menggunakan satuan panjang yang berbeda dalam satu pemecahan masalah, misalnya contoh soal “jalan yang memiliki panjang 1 km akan ditanami pohon dengan jarak setiap pohonnya 25 meter, berapakah banyak pohon yang ditanam”. Soal diatas menuntut siswa untuk menguasai konsep mengkonversi satuan dengan menggunakan tangga satuan panjang. Atau siswa harus mengubah satuan panjang yang berbeda-beda menjadi satuan yang telah ditentukan melalui operasi satuan panajng, misalnya 3 km + 8 dam – 20 hm = ... m. Pada intinya siswa harus menguasai tangga satuan panjang untuk dapat mengkonversikan setiap satuan menjadi satuan yang setara. Dalam buku Asiknya belajar Matematika kelas 4 karangan Sumarmi dengan kurikulum KTSP 2006 materi satuan panjang disampaikan dengan langkah pertama mengingatkan siswa pada materi satuan panjang yang telah dipelajarinya dulu di kelas 3 melalui tangga satuan panjang, berikut gambar tangga satuan panjang .
 Selanjutnya setelah disajikan gambar, guru mengajak siswa untuk berlatih mengubah satuan melalui operasi satuan panjang. Seperti contoh soal yang penulis jelaskan diatas. Konsep yang harus dikuasai siswa adalah jika mengubah (mengkonversikan) satuan panjang terbesar ke satuan panjang terkecil maka setiap turun satu satuan harus dikalikan 10 (kelipatan 10), sedangkan jika ingin mengubah satuan terkecil ke satuan terbesar maka setiap naik satu satuan harus dibagi 10.
Konsep satuan panjang baik dalam kurikulum KTSP maupun Kurikulum 2013 tetaplah sama, namun dalam pembentukan pemahaman konsep terlihat jelas perbedaannya. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas materi satuan panjang dalam pandangan kurikulum 2013. Jadi pada saat penanaman konsep penulis akan melihat dari sudut pandang kurikulum 2013.
Untuk mendukung proses pembelajaran tentu dibutuhkan sebuah media pembelajaran, media tersebut haruslah mampu membantu siswa membangun pemahamannya. Khusus untuk materi satuan panjang, penulis akan menggunakan pendekatan ilmiah, otomatis media yang digunakan mendukung proses penemuan konsep oleh siswa. Dalam buku Tema Panduan untuk Guru, media yang disarankan adalah benda kongkret seperti penggaris dengan beragam satuan panjang, misalnya satuan milimeter (mm), satuan centimeter (cm), satuan desimeter (dm) dan satuan meter (m). Media ini nantinya akan digunakan siswa untuk melakukan pengamatan terhadap satuan panjang tersebut guna menemukan konsep kelipatan 10 dalam tangga satuan panjang.
Media lainnya yang dapat mendukung suksesnya pendekatan ilmiah adalah peta, sesuai dengan materi yang terdapat di dalam Buku Tema Pahlawanku dengan kurikulum 2013, penggunaan peta rute Anyer dan Panarukan membantu siswa dalam pemecahan masalah. Selanjutnya gambar tangga satuan pun diperlukan, hal ini berguna saat siswa mulai mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan yang penulis gunakan dalam materi satuan panjang adalah pendekatan ilmiah (scientific approach), seperti yang telah penulis singgung sebelumnya,  proses belajar haruslah mampu memberikan pengalaman belajar yang dapat merekonstruksi pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.  Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Menurut Faiq (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com), Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
2.     Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3.     Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam bukunya, Trianto (2011 : 54) Pendekatan Scientific dalam pelajaran tertentu tidak sama dengan pelajaran lainnya. Dalam pelajaran Matematika pendekatan Scientific (5M) –nya adalah : Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Menyajikan (Mempublikasikan). Dalam pendekatan scientific ada tiga model pembelajaran yang digunakan, yaitu discovery learning (penemuan), project based learning (berbasis proyek), dan problem based learning (berbasis masalah).
Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. Dalam materi satuan panjang penulis akan memakai model penemuan (discovery learning), tahapan proses pembelajranya sebagai berikut :
1.      Mengamati
Dalam matematika, hal yang diamati berupa fakta. Dalam buku Tema Pahlawanku Kurikulum 2013, sebelum menuju konsep satuan panjang siswa diarahkan untuk mengamati Peta Rute Anyer sampai Panarukan. Siswa harus mencatat hal-hal penting dari hasil pengamatan itu. Misalnya jarak dari Anyer sampai Panarukan.
2.      Menanya
Untuk menumbuhkan pola berpikir yang rasional pada siswa, maka dapat dimulai dengan pertanyaan. Misalkan guru bertanya jika sepanjang rute Anyer sampai Panaruka akan ditanami pohon asem dengan jarak 25 m setiap pohonnya, berapa banyak pohon asem yang dapat ditanam. Guru memberikan siswa untuk mengerjakan sesuai penalarannya. Guru menanpung semua jawaba siswa.
3.      Menalar
Menalar berarti melakukan proses berpikir secara logis dan sistematis atas fakta-fakta yang ada untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Untuk proses penalaran guru mengajak siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan mengenai pengamatan satuan panjang. Setiap kelompok harus dapat membuktikan bahwa 1m=100 cm, 1 dm=10 cm, 1m= 10dm dengan bantuan media yang telah disediakan guru.
4.      Mencoba
Mencoba dapat diartikan sebagai menunjukkan atau membuktikan. Misalnya dari kesimpulan yang di dapat dari penalaran tadi akan dibuktikan bahwa kesimpulan yang diambil itu benar dengan cara memasukkan nilai-nilai yang diperlukan. Pada tahap ini siswa bereksplorasi menemukan hubungan antar satuan panjang.
5.      Menyajikan
Setelah dilakukan pembuktian terhadap kesimpulan dari penalaran yang di dapat tadi, maka kesimpulan akhirnya dapat disajikan atau dipublikasikan. Jika siswa belum mencapai kesimpulan yang diharapkan, maka guru mengingatkan untuk kembali mengkaji hasil pengamatannya.

Untuk pemahaman konsep tangga satuan, guru dapat mengulangi langkah diatas dengan media tangga satuan panjang, diawali dengan pengamatan, menjawab pertanyaan, mencoba, menalar, dan menyajikannya.

C.     PENUTUP
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas    kreatif dalam berinovasi atau berkarya. 
Pengalaman dalam belajar sangatlah berpengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Penting bagi seorang guru menciptakan sebuah proses belajar yang dapat memberikan pengalaman nyata yang dapat mengantarkan siswanya mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan ilmiah dengan model penemuan akan memberikan pengalaman dalam belajar, menghargai setiap usaha siswa dalam menemukan sebuah pemahaman lalu mengkondisikannya untuk terus berada dalam pemahaman yang benar.
DAPTAR PUSTAKA
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Buku Panduan Guru. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Buku Panduan Siswa. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Sumarmi. Mas Titing dkk. 2009. Asyiknya Belajar Matematika untuk SD/MI kelas IV. Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...