PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH MODEL PENEMUAN
DALAM MATERI SATUAN PANJANG DI KELAS IV
Fitria Nuraeni
Abstrak : Miskonsepsi dalam pembelajaran materi satuan panjang
pada umumnnya adalah ketika siswa keliru mengubah satuan panjang menjadi satuan panjang yang dikehandaki.
Kesalahan ini bermula dari ketidaktepatan siswa memahami konsep satuan panjang.
Mengutip dari pendapat pengikut aliran kontruktivis, Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 255) memandang proses
pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah
kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Kurikulum 2013 mengamanatkan
esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific
approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap,
keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pembelajaran berbasis pendekatan
ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional.
Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan,
pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan
Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam
mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi
pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola
berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran sehingga miskonsepsi dapat berkurang.
Penggunaan media kongkret juga dapat membantu mengkonstruk pemahaman siswa.
Media digunakan sebagi sarana pengamatan yang dapat mengantarkan siswa
mengabstraksi pemahamannya. Dengan melalui proses yang terstuktur dan alamiah
siswa dapat menjadikan pengalamannya sebagai bentuk rekonstruksi terhadap
pemahamannya.
A. PENDAHULUAN
Kurikulum 2013
belum sepenuhnya dapat terealisasi. Hanya baru beberapa sekolah yang sudah
menggunakan kurikulum 2013. Kendala yang masih sering terjadi adalah belum
maksimalnya pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam penerapan
kurikulum 2013. Terkadang guru masih terjebak dalam persoalan teknis. Dengan
hadirnya kurikulum 2013 terutama menggunakan pendekatan ilmiah maka tugus guru
semakin kompleks, dalam artian guru harus dapat menciptakan suasana belajar
yang dapat membuat siswa lebih aktif. Pendekatan ilmiah sangat bertolak
belakang dengan proses belajar konvensional, dimana proses belajar lebih
didominasi para siswa, guru hanya bertugas sebagai perancang kegiatan,
pembimbing dan fasilitator dalam proses belajar. Perubahan atsmosfer dari
konvensional menuju ilmiah atau dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada
siswa membuat sebagian guru masih belum dapat mengimplementasikannya, meskipun
mereka telah mengetahui bahwa pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 sudah
dapat dikatakan bagus.
Dalam kurikulum
2013, pelaksanaan pemebelajaran bersifat terpadu (integrated) atau tematik. Semuanya telah terancang dalam
buku tema, guru tidak berkenan mengubah tema, namun diberi keluluasaan dalam
merancang pembalajarannya. Namun merancang pembelajaran bukanlah hal mudah,
perancangan membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan dari hasil
pemikiran yang mendalam. Pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dalam
kurikulum 2013 memiliki posisi dan potensi yang sangat strategis dalam
keberhasilan proses pendidikan di SD. Hal ini terjadi karena pembelajaran
tematik dengan pendekatan ilmiah dilandasi oleh teori belajar yang telah diuji
keefektifannya. Dengan posisi seperti itu, maka pembelajaran tematik dengan
pendekatan ilmiah membutuhkan berbagai landasan yang kokoh dan kuat. Perlu diperhatikan juga oleh para guru pada saat
merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses dan hasil pembelajaran. Beberapa
teori yang dapat melandasi pendekatan tersebut diantaranya teori belajar progresivisme
dan kontrtuktivisme. Teori belajar progresivisme menurut Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) memandang
proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian
sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman
siswa.
Dalam proses
belajar siswa dihadapkan pada permasalahan yang menuntut pemecahan. Untuk
memecahkan masalah tersebut, siswa harus memilih dan menyususn ulang
pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Teori belajar
kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256) pembelajaran yang disasari
aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience)
sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajran
perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung. Menurut Piaget (Rusman,
2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia
mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena,
pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja
dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh
masing-masing siswa.
B. PEMBAHASAN
Materi
pengukuran dengan sub materi yang penulis pilih yaitu mengenai hubungan antar
satuan panjang di kelas 4, sebenarnya telah dikenalkan di kelas 3, namun hanya
sebatas pengenalan satuan panjang dan belum pada penggunaan satuan panjang
dalam konteks yang lebih kompleks. Di kelas 4, barulah ada indikator siswa
harus mampu menggunakan satuan panjang yang berbeda dalam satu pemecahan
masalah, misalnya contoh soal “jalan yang memiliki panjang 1 km akan ditanami
pohon dengan jarak setiap pohonnya 25 meter, berapakah banyak pohon yang
ditanam”. Soal diatas menuntut siswa untuk menguasai konsep mengkonversi satuan
dengan menggunakan tangga satuan panjang. Atau siswa harus mengubah satuan panjang
yang berbeda-beda menjadi satuan yang telah ditentukan melalui operasi satuan
panajng, misalnya 3 km + 8 dam – 20 hm = ... m. Pada intinya siswa
harus menguasai tangga satuan panjang untuk dapat mengkonversikan setiap satuan
menjadi satuan yang setara. Dalam buku Asiknya belajar Matematika kelas 4
karangan Sumarmi dengan kurikulum KTSP 2006 materi satuan panjang disampaikan
dengan langkah pertama mengingatkan siswa pada materi satuan panjang yang telah
dipelajarinya dulu di kelas 3 melalui tangga satuan panjang, berikut gambar
tangga satuan panjang .
Selanjutnya setelah disajikan
gambar, guru mengajak siswa untuk berlatih mengubah satuan melalui operasi
satuan panjang. Seperti contoh soal yang penulis jelaskan diatas. Konsep yang
harus dikuasai siswa adalah jika mengubah (mengkonversikan) satuan panjang
terbesar ke satuan panjang terkecil maka setiap turun satu satuan harus
dikalikan 10 (kelipatan 10), sedangkan jika ingin mengubah satuan terkecil ke
satuan terbesar maka setiap naik satu satuan harus dibagi 10.
Konsep satuan panjang baik dalam kurikulum KTSP maupun Kurikulum 2013
tetaplah sama, namun dalam pembentukan pemahaman konsep terlihat jelas
perbedaannya. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas materi satuan
panjang dalam pandangan kurikulum 2013. Jadi pada saat penanaman konsep penulis
akan melihat dari sudut pandang kurikulum 2013.
Untuk mendukung proses pembelajaran tentu dibutuhkan sebuah media
pembelajaran, media tersebut haruslah mampu membantu siswa membangun
pemahamannya. Khusus untuk materi satuan panjang, penulis akan menggunakan
pendekatan ilmiah, otomatis media yang digunakan mendukung proses penemuan
konsep oleh siswa. Dalam buku Tema Panduan untuk Guru, media yang disarankan
adalah benda kongkret seperti penggaris dengan beragam satuan panjang, misalnya
satuan milimeter (mm), satuan centimeter (cm), satuan desimeter (dm) dan satuan
meter (m). Media ini nantinya akan digunakan siswa untuk melakukan pengamatan
terhadap satuan panjang tersebut guna menemukan konsep kelipatan 10 dalam tangga
satuan panjang.
Media lainnya yang dapat mendukung suksesnya pendekatan ilmiah adalah
peta, sesuai dengan materi yang terdapat di dalam Buku Tema Pahlawanku dengan
kurikulum 2013, penggunaan peta rute Anyer dan Panarukan membantu siswa dalam
pemecahan masalah. Selanjutnya gambar tangga satuan pun diperlukan, hal ini
berguna saat siswa mulai mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan yang penulis gunakan dalam materi satuan panjang adalah
pendekatan ilmiah (scientific approach), seperti yang telah penulis
singgung sebelumnya, proses belajar
haruslah mampu memberikan pengalaman belajar yang dapat merekonstruksi
pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik
modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah. Pendekatan
ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud
meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan
mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau
situasi tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat
diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses
pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan
menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Menurut Faiq (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com),
Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan
menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan
keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka
diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif,
inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan
yang terintegrasi. Ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.
Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik “tahu mengapa.”
2.
Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar
agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3.
Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar
peserta didik “tahu apa.”
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan
antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik (soft skills) dan
manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard
skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan. Dalam bukunya, Trianto (2011 : 54) Pendekatan
Scientific dalam pelajaran tertentu tidak sama dengan pelajaran lainnya. Dalam
pelajaran Matematika pendekatan Scientific (5M) –nya adalah : Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Menyajikan (Mempublikasikan). Dalam
pendekatan scientific ada tiga model pembelajaran yang digunakan, yaitu discovery
learning (penemuan), project based learning (berbasis proyek), dan problem
based learning (berbasis masalah).
Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan
tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan
materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan
pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. Dalam materi satuan panjang penulis akan memakai
model penemuan (discovery learning), tahapan proses pembelajranya
sebagai berikut :
1. Mengamati
Dalam matematika, hal yang diamati berupa fakta. Dalam buku Tema Pahlawanku Kurikulum 2013, sebelum
menuju konsep satuan panjang siswa diarahkan untuk mengamati Peta Rute Anyer
sampai Panarukan. Siswa harus mencatat hal-hal penting dari hasil pengamatan
itu. Misalnya jarak dari Anyer sampai Panarukan.
2. Menanya
Untuk menumbuhkan pola berpikir yang rasional pada
siswa, maka dapat dimulai dengan pertanyaan. Misalkan guru bertanya jika sepanjang rute Anyer sampai Panaruka akan
ditanami pohon asem dengan jarak 25 m setiap pohonnya, berapa banyak pohon asem
yang dapat ditanam. Guru memberikan siswa untuk mengerjakan sesuai
penalarannya. Guru menanpung semua jawaba siswa.
3. Menalar
Menalar berarti melakukan proses berpikir secara
logis dan sistematis atas fakta-fakta yang ada untuk mendapatkan suatu
kesimpulan. Untuk
proses penalaran guru mengajak siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan
mengenai pengamatan satuan panjang. Setiap kelompok harus dapat membuktikan
bahwa 1m=100 cm, 1 dm=10 cm, 1m= 10dm dengan bantuan media yang telah
disediakan guru.
4. Mencoba
Mencoba dapat diartikan sebagai menunjukkan atau
membuktikan. Misalnya dari kesimpulan yang di dapat dari penalaran tadi akan
dibuktikan bahwa kesimpulan yang diambil itu benar dengan cara memasukkan
nilai-nilai yang diperlukan. Pada tahap ini siswa bereksplorasi menemukan hubungan antar satuan
panjang.
5. Menyajikan
Setelah dilakukan pembuktian terhadap kesimpulan
dari penalaran yang di dapat tadi, maka kesimpulan akhirnya dapat disajikan
atau dipublikasikan. Jika
siswa belum mencapai kesimpulan yang diharapkan, maka guru mengingatkan untuk
kembali mengkaji hasil pengamatannya.
Untuk pemahaman konsep tangga satuan, guru dapat mengulangi langkah
diatas dengan media tangga satuan panjang, diawali dengan pengamatan, menjawab
pertanyaan, mencoba, menalar, dan menyajikannya.
C. PENUTUP
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran
tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan
observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan
keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas kreatif
dalam berinovasi atau berkarya.
Pengalaman dalam belajar sangatlah berpengaruh
terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Penting bagi
seorang guru menciptakan sebuah proses belajar yang dapat memberikan pengalaman
nyata yang dapat mengantarkan siswanya mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan ilmiah dengan model penemuan akan
memberikan pengalaman dalam belajar, menghargai setiap usaha siswa dalam
menemukan sebuah pemahaman lalu mengkondisikannya untuk terus berada dalam
pemahaman yang benar.
DAPTAR PUSTAKA
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya.
Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
Rusman. 2010. Model-Model
Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Buku Panduan Guru. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu
Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Buku Panduan Siswa. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu
Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Sumarmi. Mas Titing dkk. 2009. Asyiknya Belajar Matematika untuk
SD/MI kelas IV. Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.