Assalamualaikum Ayah Bunda :)
Bagaimana kabarnya ? ....., mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah...
rasanya sudah lama tak posting di blog, heheheh
InsyaAllah kali ini saya akan memposting mengenai karunia mendengarkan...
silahkan disimak baik-baik dan direnungi :)
Bismillahirrohmannirrohim .....
Telinga,
salah satu indra karunia Allah yang bertugas mendengarkan. Dalam menjalankan
perannya teling tidak pernah berhenti selalu aktif bahkan saat kita tertidur.
Jika anda tidak lagi mendengar bunyi detik jam dinding atau “orkes katak sawah
dan jangkrik” di luar, bukan berarti jam dinding atau katak itu berhenti berbunyi.
Tetapi telinga anda sudah terbiasa dengan bunyinya dan otak anda memutuskan
untuk mengabaikannya. Sama seperti mereka yang tinggal di bantaran sungai atau
rel kereta api, mereka sudah tidak lagi terganggu dengan suara air atau kereta
yang lewat, melainkan sudah terbiasa dan tidak terlalu memperhatikan lagi.
Bayi
yang terbiasa tidur dalam suasana sunyi akan lebih mudah terbangun oleh
kebisingan kecil dibandingkan dengan bayi yang terbiasa tidur dalam suasana
wajar yang didalamnya sesekali terdengar jerit-tawa kakak-kakanya, dia akan
tidur pulas tanpa terganggu.
Contoh-contoh
diatas menunjukan bahwa telinga kita sesungguhnya terus mengirimkan
sinyal-sinyal bunyi ke dalam otak. Tapi otak kita bisa memilih mana yang perlu
didengarkan dan mana yang harus diabaikan.
Istilah
mendengarkan yang dimaksud dalam bahasan ini adalah mendengarkan dengan penuh
perhatian, atau menyimak. Dalam perkembangannya, psikologi dan pakar
keayahbundaan pun memperkenalkan pula istilah emphatic listening (mendengarkan dengan empati) dan active listening (mendengarkan secara
aktif). Mendengarkan dengan empati berarti pendengar
menempatkan dirinya pada posisi si pembicara, sehingga pembicara terdorong
untuk lebih terbuka. Si pendengar menemani pembicara dalam berbagai momen,
kegembiraan maupun kesedihan dengan cara
yang tidak menghakimi. Berbeda dengan mendengarkan secara aktif, yang berarti
mendengarkan dengan cara-cara efektif diman si pembicara tahu bahwa dirinya
didengarkan, pendengar melakukan kontak dengan pembicara, tidak terburu-buru
memberikan tanggapan apalagi menawarkan solusi atau nasihat tanpa diminta.
Orangtua
sholeh dapat menggunakan karunia mendengarkan yang mencakup dengan empati dan
secara aktif.
Komponen
pertama dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan diri sendiri. Adakalanya
situasi dengan anak-anak membuat kita bereaksi irasional. Situasi seperti itu
mungkin membangkitkan kebutuhan yang tak terpenuhi dan rasa sakit hati yang
kita peroleh dari pengalaman masa kecil kita sendiri. Sebanyak apapun anda
membaca litelatur keayahbundaan bahkan sebesar apapun tekad anda untuk
bertindak benar, kadang sulit bagi anda menyingkirkan titik buta ini.
Ketika
anda mendapati diri anda memberikan respon emosional yang kaku, merasa bingung
dan terpentok, sudah saatnya anda duduk dan mendengarkan diri sendiri. Periksa
ke dalam diri dan tanyalah diri anda “ apa
sebetulnya yang terjadi pada diriku ?kenapa jika anak berprilaku seperti
ini selalu membuatku tak berdaya” .Tunggulah dengan tenang “jawaban” yang
muncul dari pusat tubuh anda, lalu anda bisa mencari kata-kata atau gambaran
yang tepat untuk menjelaskan perasaan anda.
Satu
metafora untuk mendengarkan diri sendiri adalah dengan mengasuh jiwa anak dalam
diri anda. Anda menggunakan karuni mendengarkan terhadap bagian-bagian luka
dari diri anda. “ Menyembuhkan luka-luka
masa kecil merupakan komponen untuk menjadi orangtua shaleh”. Anda tidak
memiliki ruang kosong untuk mendengarkan anak-anak, kecuali anda memnuhi
kebutuhan jiwa anak dalam diri anda.
Komponen
yang sama pentingnya dalam upaya anda menjadi orangtua shaleh adalah
mendengarkan pasangan anda dengan menjalin hubungan positif terhadap hubungan
antar suami-istri. Ketidakpuasan, kekecewaan, kebingungan dan konflik diantara
suami istri akan berimbas pada hubungan orangtua dan anak-anak mereka. Jika
satu kebutuhan tidak terpenuhi pasangannya, maka ia akan menuntut lebih banyak
dari anak-anaknya. Jika keinginan anda menjadi orangtua shaleh berjalan lancar,
kerahkan energy anda untuk menjalin hubungan yang positif dengan pasangan anda.
Komponen
terkahir dalam karunia mendengarkan adalah mendengarkan anak anda. Satu hal
positif yang patut di pikirkan, setiap anak terlahir dengan kecenderungan
bawaan kearah kerjasama dan altruism, dan bahwa anak memiliki cetak biru yang
unik dalam keterampilan dan bakat untuk hidup didunia.
Orang
tua berfungsi sebagai guru, membimbing anak menjauhi prilaku bermasalah dan
menuju prilaku yang baik. Juga membantu anak-anak untuk menyelesaikan masalah
mereka sendiri. Dengan menenpatkan diri pada posisi anak, orangtua bisa melihat
bahwa anak-anak tidak bermaksud jahat, tapi hanya mencoba mewujudkan cetak biru
mereka yang unik.
Ayah-
bunda kini tahu, bagaimana cara memanfaatkan karunia mendengarkan. Cobalah
mulai mendengarkan secara aktif setiap pembicaraan anak kita, temukan titik
emas dalam hubungan positif orang tua dan anak. Anak-anak memiliki alasan atas
setiap tindakannya numun mereka memiliki keterbatasan dalam mengungkapkannya,
mari kitra gunakan karunia mendengarkan untuk membantu anak-anak kita tumbuh
menjadi anak yang sholeh, manusia yang diridhoi Allah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar