Pengikut

Senin, 16 Oktober 2017

Umi Amira #5 “Don’t Panic !!! Ada Allah ”

Umi Amira
(Curhatan Emak-Emak Pemula)

#5 “Don’t Panic !!! Ada Allah ”


Hai, Assalamualaikum…
Jumpa lagi sama umi di episode ke 5 nih..
Semoga yang membaca tulisan ini sedang dalam kebaikan dan kebahagian ya, aamiin

Episode kali ini umi ingin bahas sedikit pengalaman tentang rezeki. Buat kalian yang belum menikah, pengalaman ini bisa dijadikan pelajaran dan persiapan untuk nanti berumah tangga ya,untuk yang sudah senior alias sudah menikah, semoga kita bisa berbagi pengalaman dan saling mengingatkan.

Rumah tangga itu tidak segampang yang dipikirkan dan direncanakan loh, agak sedikit menantang ketika kita menjalaninya secara langsung.  Kalau dulu saat masih gadis, masih sekolah kita terbiasa mendapat jatah jajan dari orangtua, sehingga kita tinggal atur dengan kebutuhan. Tapi setelah menikah, selain mengatur kita juga kudu pinter cari pemasukannya. Kalau dipikirin mah mumet, belum pengeluaran kita sebagai emak-emak, belum kebutuhan suami, belum lagi kebutuhan anak… wahhhh bisa stress kalo dipikirin.
Bayangkan saja, pemasukan dari gaji suami yang segitu-segitu aja setiap bulan, sedangkan pengeluaran untuk kebutuhan keluarga yang tiap hari bisa beda-beda. Pusing kan cocokinnya. Kadang kurang dan jarang lebih L
Eitsssss…… tunggu dulu, segala kepusingan itu hanya ada dalam pikiran manusia saja. Karena kalau pakai aturan Allah mah ga ada yang belibet kaya pikiran kita. kuncinya cuman satu ko biar ga pusing : BERSYUKUR.
Menurut umi rezeki itu tentang cara kita bersyukur.
Ada sedikit pengalaman nih, dulu sebelum punya anak umi kan kerja tuh disekolah dengan gaji yang lumayan, lalu menikah dengan abiyah yang jiga punya gaji dari pekerjaannya. Itug-itungannya harusnya sih kebutuhan keluarga umi saat itu tercukupi bahkan lebih, tapi kenyataannya yang umi rasain waktu itu kurang dan kurang, bahkan harus pinjem dulu ke tabungan buat Menuhin kebutuhan. Meskipun sudah mengatur pengeluaran untuk kebutuhan tetap saja rasanya gaji ga cukup.
Lalu umi keluar kerja, otomatis pemasukan dari gaji umi hilang dong, dan cuman ngandelin suami aja. Tapi apa yang terjadi pemirsa, selama umi diem di rumah ga pernah sedikitpun kekurangan, saat itu umi lagi hamil, tau kan kebutuhan ibu hamil kalau lagi ngidam, maunya banyak banget hehee. Tapi Allah mah Maha Penyayang dong, beberapa bulan setelah umi keluar abiyah dapet promosi di pekerjaanya dan Alhamdulillah ada kenaikan gaji.  Dengan ketelatenan mengatur pengeluaran untuk kebutuhan, Alhamdulillah meskipun hanya mengandalkan gaji suami, kita masih bisa menabung untuk persiapan lahiran Amira, dan tetap memenuhi kebutuhan yang tiap harinya ada aja yang beda hehehe. Kuncinya cuman satu BERSYUKUR, terima dan manfaatkan apa yang sudah diusahakan suami, diamata dunia mungkin nominal itu sedikit, tapi sesungguhnya dimata Allah, rezeki kita tak bergantung pada nominal itu.
Ketika Amira lahir, otomatis kebutuhan bertambah, dan umi masih menjadi ibu rumah tangga. Tapi dengan keyakinan bahwa Amira juga punya rezekinya sendiri Alhamdulillah, si kecil tak pernah kekurangan popok ataupun susu. Semua kebutuhan selalu terpenuhi J.
Pertengahan tahun, umi harus kembali bekerja karena sesuatu hal. Sangat mendesak dan mau tak mau harus rela menitipkan amira ke neneknya. Wajarnya pemasukan bertambah dong, dan coba tebak apa yang terjadi. Selama umi bekerja lagi, perasaan serba kurang itu datang lagi, ada saja kebutuhan mendesak yang harus dipenuhi sehingga harus memotong anggaran yang sudah direncanakan. Mulai lah umi mengeluh pada abiyah, karena merasa lelah bekerja namun tak ada yang berubah. Masih enakan pas diem dirumah. Mau apa aja ada. Heheh.
Akhirnya umi keluar dan taraaaaaa, dengan sedikit kemauan dan kreativitas, umi berada di rumah dan tetap menghasilkan.
Intinya, yang ingin umi sampaikan disini, rezeki itu tak harus punya uang banyak dan bisa beli apa saja. Sehat itu rezeki, tidak puya hutang itu rezeki, dapet kiriman dari tetangga itu juga rezeki. So rezeki itu hak perogatif Allah atas kita, meskipun kita ingin berusaha utuk mendatangkan rezeki lebih banyak dengan lebih rajin bekerja namun jika Allah berkehendak rezeki kita segitu yam aka dapetnya cuman segitu, gakan segini hehehe.
Umi bukan menyarankan untuk diam saja karena rezeki Allah yang atur. Hanya ingin menyarankan untuk sedikit mengubah mindset kita. Kita jangan terlalu sibuk bekerja atau mencari materi dengan alasan biar dapet rezeki melimpah, namun mengabaikan apa yang seharusnya kita lakukan. Lakukan sesuai peran kita saja, dan biarkan Allah mengatur rezeki kita. Bekerja sewajarnya saja, jangan malas tapi cukup rajin dan ulet. Dan jangan lupa BERSYUKUR.

Ini hanya saran, jika setuju lakukan, jika tidak setuju tidak usah mendebat karena ini bukan perdebatan. J


Bandung, 13102017
Menemani putriku bermain

Kamis, 12 Oktober 2017

Umi Amira #4 Be a Teacher or Mother

Umi Amira

#4 “ Be a Teacher OR Mother“


Hai, Assalamualaikum…
Gimana kabar kalian ? semoga Allah seantiasa memberkahi kalian dengan sehat dan kebaikan… Aamiin
Episode kali ini Ummi ingin bercerita tentang pengalaman Ummi yang superrr sekali. Kenapa super, karena pengalaman ini berkaitan dengan sebuah pilihan yang berat dan rumit. Tapi dengan bantuan Allah Yang Maha Kuasa, InsyaAllah Ummi akhirnya bisa memilih pilihan yang paling BAIK, InsyaAllah.

Pilihan apa itu mi ? ko ampe segitunya…
Umi adalah seorang lulusan pendidikan guru sekolah dasar disingkat PGSD, inget ya PGSD (googling aja kalo ga tau yaa) bukan PDKT !!! heheheh. So setelah lulus kuliah umi harus menjadi GURU SD, mungkin bisa disebut mengabdi, mungkin bisa disebut nguli (baca:kerja). Entahlah mana yang lebih tepat, dan nanti kalian akan tau mana yang lebih tepat.

Singkat cerita, setelah sidang skripsi selesai umi langsug melamar ke sebuah sekolah swasta, karena kebetulan pada waktu itu hanya sekolah itu yang nerima lowongan tanpa KKN seperti kebanyak sekolah lainnya (KKN itu buka Kuliah Kerja Nyata, tapi singkatan dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, atau lebih dikenal jalur persaudaraan dan pertemanan). Alhamdulillah lolos uji tes dan wawancara, lalu mengajarlah umi disana. Dengan semangat yang menggelora karena masih Fresh Graduate (Lulusan Baru) umi mendidik dan mengajari siswa-siswa SD tersebut. Pada awalnya umi sangat nyaman mengajar di sekolah tersebut, selain kesejahteraan yang lumayan terjamin, fasilitas sekolah yang lengkap serta guru-guru berkualitas dan dedikasi yang tinggi pada yayasan. Mungkin seperti itulah gambarang kebanyakan sekolah swasta yang notabene siswa siswinya berasal dari kalangan menengah keatas. Jujur sebagai guru umi merasa dihargai dan dibanggakan. Namun masalah mulai mucul ketika umi menikah dan hamil, waktu tersita habis di sekolah, 8 jam bekerja dari pagi hingga sore, hampir tidak ada waktu bersama suami selain week end, ditambah suami yang kerja nya tidak beraturan semakin menyita waktu kebersamaan kami. akhirnya demi sikecil yang sedang tumbuh dalam perut umi juga demi si cinta yang perlu perhatian, umi tinggalkan dunia pendidikan. Hampir setahun ummi mengajar disana, dengan segala pengalaman berharga yang takan pernah umi lupakan.
Tak lama kemudian, putri kecil kamipun lahir kedunia, segala perhatian dan dedikasi sebagai seorang ibu, dilimpahkan tanpa hambatan dan halangan apapun, I’am A Mother ! and I proud of it. Meski cibiran datang silih berganti, belum lagi sindiran yang cukup menyakitkan hati “sarjana ko jadi ibu rumah tangga sih, ga sayang sama gelarnya”. Ingin rasanya ngelitikin sampe jungkir balik ibu-ibu yang ngomong gini, dikiranya jadi ibu rumah tangga ga pake ilmu apa, modal pendidikan bagi seorang perempuan itu penting, karena dialah madrasah pertama anak-anaknya, menurut umi seorang perempuan punya pendidikan tinggi itu sangat penting,  karena dari tangan merekalah tercetak generasi bangsa dan agama yang berkualitas. Bedakan dengan ibu yang hanya sekolah apa adanya, mengasuh anak asal-asalan, jadi apa anak-anaknya ? …
Maka dari itu, untuk para orangtua, mertua dan ibu-ibu yang suka ngegosipin tetangganya. Berhentilah menghakimi pilihan kami, menjadi seorang ibu dengan titel sarjana membuatku sangat bangga. Kewajiban mengmalkan ilmu tak harus selalu dalam kelas atau sekolah. Karena mengurus anak dan keluarga juga adalah sebuah kewajiban mulia dan utama.
Umi tak bermaksud menyalahkan mereka yang tetap memilih jalur karir, umi pun bangga pada mereka, karena umi tau susahnya menjalani dua peran sekaligus (menjadi ibu dan menjadi wanita karir), sibuknya luar biasa. Dan mereka adalah wanita-wanita kuat,  mereka sanggup mengorbankan salah satu hal yang mereka cintai (mungkin waktu, mungkin perasaan). Yang terpenting segalanya sudah dibicarakan dan diridhoi oleh suami dan anak, karena mereka bisa saja mereka menjadi korban dari waktu dan perhatian yang tersita karena pekerjaan.
 Bagi umi seperti apa pilihan dari seorang perempuan, itu sudah menjadi pilihannya, tak perlu didebat atau dipermasalahkan. Menjadi ibu rumah tangga atau ibu rumah tangga yang berkarir, keduanya tetaplah seorang IBU.
Dan umi salah satu dari mereka yang memilih stay at home with my little princes, dan Umi BANGGA dengan itu !!


Bandung, 11102017

Bersama putri kecilku

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA TENTANG MEMBANDINGKAN PECAHAN SEDERHANA MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)
Oleh :
Ghina Raudlotul Jannah, S.Pd    
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)    

I.          PENDAHULUAN
Dalam KTSP 2006 sudah dipaparkan bahwa pada kelas 3 semester II Sekolah Dasar terdapat materi mengenai memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan sederhana. Jika dilihat dari tujuan matematika itu sendiri dijelaskan bahwa matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Oleh karena itu, kemampuan memecahkan masalah sangat perlu dipahami dan dimiliki oleh siswa-siswa di Sekolah Dasar. Jika dilihat dari realita yang ada di masyarakat, kemampuan menyelesaikan soal cerita terutama di kelas awal Sekolah Dasar masih sangat rendah karena kemampuan  memahami kalimat masih kurang. Padahal kemampuan memahami kalimat merupakan salah satu prasyarat untuk bisa mengerjakan soal cerita. Beberapa kenyataan perilaku siswa dalam pembelajaran, yaitu kurangnya aktifitas siswa yang mempunyai inisiatif untuk bertanya pada guru, sibuk menyalin apa yang ditulis dan diucapkan guru, apabila ditanya guru tidak ada yang mau menjawab tetapi mereka menjawab secara bersamaan sehingga suaranya tidak jelas, siswa terkadang ribut sendiri waktu guru menerangkan atau mengajar. Aktifitas siswa yang demikian kurang mendukung untuk bisa memahami kalimat dalam soal cerita, sehingga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Selain itu, penyebab yang lain adalah kurangnya media pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada dasarnya pecahan yaitu suatu bilangan bulat a adalah habis dibagi oleh suatu bilangan bulat b  0 jika dan hanya jika ada suatu bilangan bulat x sehingga a = bx. Sedangkan jika faktor persekutuan terbesar (FPB) dari (a,b) = 1, maka pecahan  disebut pecahan sederhana. Namun dalam buku paket Sekolah Dasar pecahan diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimaksud adalah bagian yang biasanya ditandai dengan arsiran yang disebut pembilang. Sedangkan bagian yang utuh atau bagian yang dianggap satuan dinamakan penyebut. Pecahan merupakan salah satu topik yang sulit untuk diajarkan karena terlihat dari kurang bermaknanya kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan sulitnya penggunaan media pembelajaran. Akibatnya, guru biasanya langsung mengajarkan pengenalan angka, seperti pada pecahan  dimana 1 disebut pembilang dan 2 disebut penyebut. Pemilihan teori belajar, metode, media dan pendekatan dalam pembelajaran pun harus selalu diperhatikan seorang guru, karena itu semua yang akan menilai berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Untuk kelas rendah biasanya menggunakan teori Jerome.S.Bruner dimana didalamnya terdapat tahap enactive, iconic, dan symbolic. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bisa digunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), karena RME sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika pada diri siswa. Pada dasarnya konsep RME ini berkembang sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika khususnya Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar pada diri siswa. Adapun ciri-ciri dari RME tersebut, yaitu menggunakan masalah yang kontekstual, menggunakan model atau alat pembelajaran, menggunakan hasil konstruksi siswa itu sendiri, pembelajarannya terfokus pada diri siswa, dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. Sehingga pada pelaksanaannya, RME ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru dan pada akhirnya siswa memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika.
II.            PEMBAHASAN
Dari beberapa mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Dasar, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi kebutuhan sistem dalam melatih penalaran siswa. Melalui pengajaran matematika diharapkan akan menambah kemampuan mengembangkan keterampilan pada diri siswa khususnya dalam pemecahan masalah yang berkaitan tentang pecahan sederhana. Dilihat dari buku paket Sekolah Dasar kelas 3 Semester II materi memecahkan masalah yang melibatkan pecahan sederhana yaitu membandingkan pecahan. Dapat kita analisis masalah yang akan muncul yaitu, penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai dan kurangnya pemahaman konsep dalam penyampaian materi dengan menggunakan benda-benda nyata atau media sehingga siswa hanya sekedar mendengar ceramah guru saja tanpa melakukan pembelajaran yang bermakna. Sebagai guru seharusnya kita bisa memilih media, metode apa yang sesuai dan pendekatan apa yang cocok dalam penyampaian materi tersebut.
Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengajarkan materi memecahkan masalah tentang membandingkan pecahan sederhana adalah pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), karena pendekatan pembelajaran ini dapat mendorong keaktifan, membangkitkan minat dan kreativitas belajar siswa agar dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalahnya yang akan berakibat langsung pada hasil belajar siswa tersebut. Metode yang digunakan bisa ekspositori serta penugasan, karena dengan ekspositori interaksi antara siswa dan guru akan lebih terlihat dan dengan penugasan kemampuan siswa bisa dioptimalkan. Disini guru juga bisa menggunakan teori belajar Bruner karena setiap pembelajarannya dimulai dengan pengenalan masalah sesuai dengan situasi (contextual problem) dan dengan bantuan media yang dimanipulasi oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika dan melalui benda atau media pembelajaran yang ditelitinya, siswa akan menemukan sendiri pengetahuan dan konsep awalnya sehingga mempermudah siswa untuk memahami materi yang di pelajarinya.
Ketika dalam pembelajarannya, disini guru bisa mengajak siswa untuk bertanya jawab tentang membandingkan pecahan sederhana terlebih dahulu. Guru bisa menyuruh setiap siswa untuk menyediakan dua lembar kertas. Satu kertas dilipat menjadi dua bagian yang sama, dan salah satu bagian diarsir untuk menunjukkan pecahan  . Kemudian, kertas yang satu lagi dilipat menjadi 4 bagian yang sama, dan salah satu bagian diarsir untuk menunjukkan pecahan  (Tahap Enactive). Kemudian guru menyuruh siswa membandingkan dua kertas hasil lipatan yang telah diarsir dan meminta siswa untuk menggambarkan kertas hasil lipatan yang telah diarsir kedalam buku tugas (Tahap Iconic), setelah itu barulah guru meminta siswa mengubahnya ke dalam bentuk angka dan memberikan simbolnya yaitu lebih besar (>), lebih kecil (<), dan sama dengan (=)  (Tahap Symbolic).

Dalam menyampaikan materinya guru bisa memberikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan sederhana. Pada kegiatan inti, guru membagi siswa kedalam 3 kelompok kemudian setiap kelompok diberikan buah apel, kue, dan pisau untung memotongnya. Guru memberikan lembar kerja siswa yang didalamnya terdapat soal dan langkah-langkah pengerjaan yang harus dipecahkan secara berkelompok. Contohnya:
Soal 1 : Ibu mempunyai 1 buah apel, apel ini akan Ibu bagi menjadi 4 bagian yang sama besarnya dan akan Ibu berikan kepada Tina, Ani, Aji, dan Nani. Maka berapa bagian yang akan mereka dapatkan ?
Soal 2 : Ibu mempunyai 1 kue brownies, akan ibu bagikan sama banyak kepada 6 orang teman arisannya. Maka mereka mendapat berapa bagian?
Pertanyaan  : Dari soal diatas, coba jelaskan mana yang mendapat bagian banyak? Apakah yang mendapat bagian apel atau bagian kue ?
Setelah membaca soal-soal tersebut maka siswa akan berdiskusi dengan kelompoknya dan memecahkan masalah dengan menggunakan benda-benda nyata yang sudah disediakan (Tahap Enactive). Kemudian, guru bisa meminta setiap kelompok untuk menggambarkan apel dan kue yang sudah dipotong dipapan tulis (Tahap Iconic). Siswa menuliskan bentuk pecahan dari gambar tersebut dan guru menyajikan gambar simbol lebih besar (>), lebih kecil (<), atau sama dengan (=). Selanjutnya siswa diminta untuk membandingkannya dan menempelkan simbol tersebut (Tahap Symbolic). Barulah nantinya setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka dan dilanjutkan dengan menyamakan persepsi. Agar guru lebih mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan soal cerita, disini guru bisa memberikan beberapa latihan soal yang masih menyangkut dengan permasalahan yang kontekstual. Contoh :
a.       Ibu mempunyai roti. Roti tersebut dipotong menjadi 6 bagian sama besar. Kemudian ,bagian yang  dimakan oleh Kak Yuda dan yang   dimakan Ayah. Siapakah yang makan bagian roti paling banyak ?
b.      Untuk membuat bolu, Tante Yuli menggunakan terigu  gelas dan gula pasir  gelas. Bahan apakah yang lebih banyak dibutuhkan ?
Dengan menggunakan pembelajaran yang menggunakan konsep soal cerita yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari dan realistik (RME) serta penggunaan media pembelajaran, maka siswa akan lebih dapat memahami bagaiman cara menyelesaikan permasalahan tentang membandingkan pecahan sederhana. Kemampuan menyelesaikan soal cerita pecahan sangat diperlukan siswa, karena dalam kehidupan sehari-hari siswa sering dihadapkan dengan masalah pecahan. Maka siswa membutuhkan solusi agar mampu menjawab permasalahan yang dihadapi dan mampu menyampaikan pertanyaan dan tanggapan terhadap masalah yang berkaitan dengan pecahan.
III.            REKOMENDASI
            Berdasarkan analisis dari permasalahan yang ada serta pemecahan masalah dalam pembelajarannya. Disusunlah artikel ini yang membahas tentang penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dalam mengatasi   kesulitan siswa memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan pecahan sederhana serta membantu guru dalam menerapkan konsep pecahan menggunakan media pembelajaran yang ada. Karena dengan menggunakan pendekatan RME dalam pemecahan masalah, siswa dapat lebih mengembangkan potensi dirinya dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan. Dengan adanya media yang digunakan juga akan lebih membangun kemampuan siswa dalam menemukan konsepnya sendiri. Sehingga pendekatan RME dan penggunaan media sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran matematika khususnya di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Adjie, N. dan Maulana. (2009). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan Kontekstual dalam Melaksanakan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika.
Fajariyah, N. dan Triratnawati, D. (2008). Matematika 3 Untuk SD/MI Kelas 3. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003. 
Heruman. (2007). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.(2006). Jakarta: BP. Dharma Bhakti.
Sagala, S.(2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Suwangsih, E. dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.(2010). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia 2010.
Priatna, D. et al. (2004). Pendidikan Matematika II. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Windayana, H. et  al. (2005). Pendidikan Matematika I. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Nurul Qamariyah, S. (2012). Pembelajaran Soal Cerita Pecahan Sederhana. [Online].Tersedia:http://mahkotangariboyo.wordpress.com/2012/11/14/pembelajaran-soal-cerita-pecahan-sederhana/ [19 Februari 2013]



           


PEMBELAJARAN BERMAKNA MELALUI PENDEKATAN INTEGRATED DI KELAS 1 SD

PEMBELAJARAN BERMAKNA MELALUI PENDEKATAN INTEGRATED DENGAN TEMA BENDA DI SEKITARKU DI KELAS 1 SEKOLAH DASAR
Oleh:
Ratih Ratnaningsih, S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)


A.      PENDAHULUAN
Pembelajaran matematika merupakan pelajaran yang mempelajari perhitungan. Perhitungan adalah salah satu pelajaran yang paling sukar menurut siswa karena pembelajarannya yang memusingkan dan yang abstrak. Hal ini yang membuat siswa malas belajar pelajaran matematika.
Dalam setiap pembelajaran diusahakan untuk menyediakan media untuk membantupembelajaran agar lebih bermakna, apalagi di kelas rendah haruslah menyediakan media untuk membantunya. Setiap pembelajaran matematika tidak akan berhasil apabila gurunya juga tidak berusaha untuk memaksimalkan pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didiknya.
Setiap siswa pastilah mempunyai kemampuan untuk berpikir dengan caranya masing-masing, guru juga harus dapat percaya bahwa siswa tersebut dapat memecahkan masalahnya sendiri tanpa harus disuapi terus-menerus oleh guru.
Media merupakan alat bantu guru dalam pembelajaran agar pembelajaran tersebut lebih efektif dan siswa akanlebih termotivasi jika ada sesuatu benda yang dapat dimanipulasinya tanpa bersifat abstrak.
Biasanya guru dilapangan jarang sekali yang menggunakan media untuk membantu pembelajaran agar pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna. Akibatnya siswa pun malas untuk mengikuti pembelajaran matematika tersebut, karena pembelajarannya yang membosankan, bersifat abstrak dan membuat siswa bingung. Jadi banyak siswa yang mengatakan malas untuk belajar matematika tersebut.
Untuk membantu pembelajaran lebih bermakna dan siswa mau untuk belajar matematika, haruslah guru menyediakan medianya. Biasanya siswa paling senang apabila ia ikut serta dalam pembelajaran dan bermain. Karena siswa kelas 1 SD masih senang bermain dan menggunakan benda-benda yang konkrit. Maka dari itu, guru harus bisa menggunakan benda-benda konkrit atau media lainnya untuk membantu pembelajaran di kelas rendah agar siswa tersebut dapat terbiasa untuk menyukai pembelajaran matematika dan anak tersebut juga akan memahami apa yang mereka pelajari jika pembelajaran tersebut diajarkan secara terus-menerus.
Sama halnya dengan yang diungkapkan dengan teori William Brownell (Erna dan Tiurlina, 2010:89) yaitu didasarkan pada keyakinan bahwa anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara permanen atau secara terus-menerus untuk waktu yang lama. Salah satu cara bagi anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan menggunakan benda-benda tertentu ketika mereka mempelajari konsep matematika.
Untuk itu, sebagai guru kita harus dapat kreatif untuk membuat atau memanfaatkan media yang ada disekitar untuk membantu pembelajarn yang lebih bermakna dan lebih efektif agar dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika yang lebih kritis.
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimana proses pembelajaran bermakna melalui pendekatan integrated dengan tema benda di sekitarku di kelas 1 sekolah dasar?”


B.       PEMBAHASAN
Didalam artikel ini akan menggunakan kurikiulum 2013 yang lebih menekankan kepada nilai karakter. Kurikulum 2013 juga menganjurkan untuk menggunakan pendekatan tematik yang integratif. Pembelajaran integratif ini merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran kedalam satu tema.
Berangkat dari kurikulum baru yaitu kurikulum 2013, guru harus bisa mengintegrasikan mata pelajaran yang benar-benar saling berkesinambungan dan memilih tema yang cocok agar pembelajaran tersebut lebih menarik untuk dapat memotivasi siswa untuk belajar matematika.
Dalam suatu pembelajaran tersebut haruslah bersifat menyenangkan dan menarik agar siswa mau mengikuti pembelajaran tersebut. Apabila tema tersebut menarik dan sesuai dengan karakteristik siswa tersebut, maka siswapun akan bersemangat untuk mengikuti pembelajaran karena ia seperti sedang bermain padahal ia sedang belajar.
Artikel ini akan menggunakan pendekatan integrated (Udin dkk, 2006:34) Pendekatan integrated ini merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Model ini berangkat dari adanya tumpang tindih beberapa konsep, keterampilan dan sikap yang dituntut dalam pembelajaran, sehingga perluadanya pengintegrasian multidisiplin.
Dalam artikel ini penulis akan mengintegrasikan antara mata pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia yaitu kompetensi dasar Matematika adalah membandingkan dengan memperkirakan panjang suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih panjang, lebih pendek) dan kompetensi dasar Bahasa Indonesia adalah memiliki kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.
Melihat kompetensi dasar tersebut, terlihat keterpaduan antara benda-benda yang dapat digunakan sebagai media pembelajarannya dan penulis menggunakan tema yaitu Benda Di Sekitarku.
Pemanfaatan media benda-benda yang terdapat disekitar siswa akan lebih membantu penyesuaian dirinya terhadap pembelajaran dengan lingkungannya yang ternyata dapat dipelajarinya dan mendapat pengetahuan yang baru bahwa benda-benda yang terdapat disekitarnya juga dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran matematika dan bahasa Indonesia.
Pada tahap awal guru mengajarkan terlebih dahulu dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu kegunaan benda. Dengan pembelajaran bahasa Indonesia ini siswa dapat memulainya dengan melihat kegunaan benda yang telah diperlihatkan oleh guru, siswapun dapat melatih kemampuan berbicaranya dengan mengeluarkan pendapat tentang kegunaan benda yang telah dilihatnya tersebut.
Lalu siswa diberi LKS, karena masih siswa kelas 1  takut ada yang belum bisa membaca, maka perintah tersebut jangan terlalu banyak teks dan dengan bantuan guru siswa dapat membacanya.
Setiap siswa mengerjakan LKS tersebut tentang kegunaan benda yang ada disekitar lingkungan sekolah, dengan cara mencari tahu sendiri dan melihatnya langsung, lalu setiap siswa dapat melaporkannya langsung didepan kelas secara bergiliran apa yang telah ia lihat sebelumnya tentang benda yang ada sekitar sekolah dan kegunaannya.
Setelah itu, dilanjutkan dengan pembelajaran matematika yaitu membandingkan panjang benda. Guru harus menyediakan media yang dapat membantu proses pembelajaran.
Setelah itu, guru memberikan contoh kepada siswa dan siswa diberikan LKS kembali untuk membantu pembelajarannya.

 Lalu siswa belajar untuk membandingkan panjang suatu benda yang ada dilingkungan sekolah. Siswa disana dapat mencari tahu apa saja benda yang ukurannya lebih panjang dan mana benda yang ukurannya lebih pendek. Seperti penggaris dengan pensil lebih panjang mana, meja dengan buku lebih pendek mana dan sebagainya.
Siswa dapat melaporkannya kembali didepan kelas apa yang telah ia temukan dalam membandingkan panjang suatu benda yang ada dilingkungan sekolah.
Dengan itu, siswa dapat melihat dan tahu bahwa suatu benda mempunyai panjang yang berbeda-beda. Tanpa siswa tersebut mengukurnya benda tersebut dapat terlihat bahwa benda tersebut lebih panjang atau lebih pendek.
Setiap siswa pastilah dapat berpikir secara kreatif apabila tidak selalu dimanjakan oleh gurunya. Siswa akan ketergantungan kepada guru apabila terus-menerus disuapi pelajran tanpa ia tahu bahwa pembelajaran tersebut terdapat dalam kehidupan sehari-harinya.
Dengan pembelajaran tersebut diselipi dengan permainan yang membuat anak senang, maka pembelajaran itu tidak akan membosankan. Biasanya siswa kelas 1 sekolah dasar masih senang-senangnya bermain dan menggunakan benda-benda konkrit yang dapat dimanipulasinya.
Ataupun dengan nyanyian-nyanyian yang membuat anak senang dan bisa menghapal pelajaran tersebut dengan jangka waktu yang lama, karena lagu tersebut dapat lebih meresap dari pada hanya ceramah saja.
Dengan guru yang kreatif dalam mengemas pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristis siswa, maka pembelajaran pun akan menarik dan membuat anak menjadi lebih memahami isi pembelajaran tersebut. Dibandingkan dengan hanya teori saja tanpa adanya bantuan apapun dengan benda-benda yang bersifat konkrit.
Siswa akan lebih terpancing dengan permainan-permainan yang baru untuk membantu sebuah proses pembelajaran. Dan siswa akan selalu rindu apabila pembelajaran tersebut menyenangkan.
Untuk itu, guru harus dapat memanipulasi setiap pembelajaran agar lebih menarik dan menyenangkan tanpa meninggalkan pembelajaran yang seharusnya diajarkan dan pembelajaran tersebut akan lebih bermakna.
C.      REKOMENDASI
Artikel ini memang jauh dari kata sempurna, tetapi artikel yang saya buat ini adalah salah satu contoh untuk pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas 1 sekolah dasar. Pembelajaran yang terdapat dalam artikel ini menggunakan pendekatan dalam pembelajaran agar pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna dan mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dalam setiap pembelajaran haruslah kita merencanakannya sebelumnya dan menggunakan pendekatan dan strategi-strategi yang tepat agar dapat sesuai dengan karakteristik siswa, karena tanpa adanya perencanaan dan strategi yang tepat dalam pembelajaran maka pembelajaran tersebut tidak akan efektif dan tidak akan berjalan sesuai dengan seharusnya. Maka dari itu, kita harus benar-benar kreatif dalam menggunakan pendekatan dan strategi yang cocok untuk siswa.

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Y. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter. Bandung: Refika Aditama
Kompetensi Dasar SD/MI. 2013
Nasution. 2009. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Dan Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Nur’aini, U. dan Indriyani. 2008. Bahasa Indonesia Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. UPI. 2012
Purnomosidi, dkk. 2008. Matematika Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Rositawaty, S. dan Muharam, A. 2008. Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Saud, U. S dan dkk. 2006. Pembelajaran Terpadu. Bandung: UPI PRESS
Suwangsih, E. dan Tiurlina. 2010. Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS

Suwarma, D. M. dan Suhendra. 2009. Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI PRESS

Rabu, 11 Oktober 2017

Umi Amira #3 AMIRA

Umi Amira
( Curhatan Emak-Emak Pemula )

#3 “Amira ”


Assalamulaikum, hai apa kabar semua ?
Kali ini umi mau cerita tentang gadis kecil umi nihh. Kami memberi nama dia Amira, panggil saja dia ara. Ara adalah anak pertama  kami. Alhamdulillah sebulan setelah menikah kami dianugrahkan titipan yang berharga. Sama seperti pasangan lainnya, kehadiran anak menjadi momen yang sangat berharga dan ditunggu-tunggu. Begitu juga ummi kala itu, meskipun abiyah selalu mengingatkan untuk tidak terlalu berharap tetap saja yang namanya seorang wanita pasti menunggu momen kesempurnaan itu.
Sebelum menikah ummi memang sudah menjalani program kehamilan bahasa kerennya promil pemirsa. Lohhh ko sebelum nikah sudah promil ? heheheh. Jangan salah paham dulu yaa, jadi begini penjelasannya …..
Sebelum menikah seorang wanita harus menyiapkan dirinya. Menyiapkan untuk menjadi istri sekaligus calon ibu. Umi banyak baca artikel soal persiapan menikah dan ketemulah saran ini, katanya agar subur ketika nanti setelah menikah harus disipkan dulu beberapa bulan sebelum menikah. Bukan Cuma umi loh, calon suami dulu juga ikutan mempersiapkan diri. Dulu umi bawelin abiyah untuk jaga makan, hanya makan yang sehat-sehat dan protein tinggi.  Tentu saja ritual ini dilakukan setelah khitbah yaa, awas kalo di tiru hal ini ke pacar kalian, mau promil apaan kalau menikah masih jauh dari angan. #ups
Promil yang dijalanin cukup mudah ko, hanya menjaga asupan makanan dan minum susu prakehamilan. Itung-itung menjaga kesehatan sebelum menikah heheh salmbil menyelam minum air ceritanya. Yang paling penting juga terus cari informasi mengenai prakehamilan agar promilnya tetap jalan.
Oh iya, jangan ditiru yaa. Dulu umi sangat berharap memiliki anak laki-laki. Secara di keluarga ummi semuanya perempuan kecuali bapake. Jadi gemes kalo liat anak laki-laki. Umi juga terobsesi mendidik anak menjadi pemimpin hehe, pemimpin umat maksudnya. Gara-gara banyak baca buku sejarah islam jadi perasaan cinta agar islam tetap jaya menggebu dalam diri umi. Heheh. Sekali lagi abiyah mengingatkan bahwa anak adalah titipan, dan Allah lebih tau mana yang terbaik bagi hambanya. Dan untuk keluarga kecil kami amira adalah titipan yang tepat. Amira Zehra Arkania, pemimpin para wanita yang cantik seperti bunga dan berhati lurus. Lahir pada tanggal 29 Oktober.
Ahhh terharu sekaligus takjub kalau ingat proses kehamilan dan melahirkan. Itu proses yang sungguh ajaib dan luar biasa. Maha Suci Allah yang berkuasa atas makhluknya. Bayi kecil yang ada di dalm perut selama 9 bulan lalu lahir melalui proses melahirkan yang tidak menyakitkan. Lohh katanya melahirkan itu sakit yaaa ?
Umi ceritain yaa, proses keluarnya bayi dari dalam Rahim itu sama sekali ga sakit, itu yang ummi alamin. Tiga kali mengejan  ara pun lahir. Cumannnnnn yang sakit dan bikin ga tahan itu ketika proses sebelum melahirkan nama kerennya pembukaan. Waduhhh waktu itu ummi pecah ketuban dulu di pembukaan 1, jadi mau ga mau menunggu dengan sabar proses kontraksi. Masuk rumah bersalin pukul 8 malam dan Ara lahir pukul 8 pagi, 12 jam pemirsa ummi harus nahan kontraksi.    
Ada cerita lucu, jadi ketika pembukaan awal, kontraksi tuh kan ga terlalu kuat dan jaraknya juga masih jauh. Umi nanya tuh ke sodara yang memng profesinya seorang bidan, “ sal, ko mules tèh gak sakit ya ?” dengan polosnya umi nanya. Lalu dia menjawab “tunggu tanggal mainya yaaa!!!”. Dan wallaaaaaa ketika masuk pembukaan 6, mulesnya gak nahan.  Sampe-sampe liat abiyah yang ketiduran ummi timpukin karena kesel. Istri lagi bertaruh nyawa ini malah tidur, munggungin pula, siapa yang ga kesel coba. #maaf ya abiyah.
Ada juga cerita haru, bukan terharu karena Ara lahir dengan selamat, itu sih pasti terharu banget. Jadi waktu ummi timpukin abiyah pake kain karena ketiduran, itu sebernernya abiyah lagi nangis T_T. Umi baru tau setelah di ceritain mamah. Itupun pas udah pulang dari rumah sakit, merasa bersalah banget lahhh. Dan ada lagi kisah haru lainnya yaitu ketika sesaat setelah ara lahir, kehadiran mamah yang setia mendampingi ketika proses melahirkan. Baru dehh kerasa perjuangan ibu itu ga gampang, ketika merasakan sendiri proses melahirkan itu, entah kenapa ada perasaan yang sulit dijelaskan. Ketika Ara sudah lahir, ummi langsung tengok mamah, sambil nangis bilang ini ke mamah “ makasih ya mah, dulu udah lahirin teteh. Makasih buat segalanya”. Itu momen paling membahagiakan sekaligus mengharukan dalam hidup umi. 
“Oaaa oaaaa oaaaa” suara kecil itu menggema di ruangan bersalin.  Bayi kecil itu menangis di dada ummi, “assalamualaikum cantik J” . senyum kebahagian dan rasa bangga terpancar dari hati. Akhirnya saya menjadi seorang ibu, dan dipanggilah saya “umi Amira”.
Begitulah pemirsa kisah dibalik nama Amira, sebuah nama yang membawa berjuta kebahagiaan dan momen berharga dalam hidup umi dan abiyah. Kini bayi kecil itu sedang tumbuh, ada saja tingkah lucunya setiap hari.  Doa kami, kelak dia menjadi bagian dari perjuangan menegakan agama Allah, menjadi bidadari dunia yang dicintai syurga. Menjadi bunga yang indah di hati kedua orang tuanya, penyejuk dan penentram jiwa. Aamiin …Peluk cium Ara sholehahhhh.
Untuk semua wanita, para ibu ataupun calon ibu. Anak adalah titipan Allah. Kehadirannya adalah kehendak Allah. Untuk kalian yang belum diberi kepercayaan oleh Allah, jangan bosan untuk terus berikhtiar, semangat terus. Rayulah Allah dengan doa-doa penuh harap kalian. Karena anak adalah milik Allah, bukan kehendak kita. Untuk kalian calon ibu, yang sedang hamil atau yang telah menajdi seorang ibu, tolong dijaga baik-baik titipan itu yaaa.
See you next time yaa di tulisan umi selanjutnya J


Baleendah, 22022107
Bersama Amira yang baru bangun tidur







Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...