PEMBELAJARAN
BERMAKNA MELALUI PENDEKATAN INTEGRATED DENGAN TEMA BENDA DI SEKITARKU DI KELAS
1 SEKOLAH DASAR
Oleh:
Ratih Ratnaningsih, S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)
A.
PENDAHULUAN
Pembelajaran
matematika merupakan pelajaran yang mempelajari perhitungan. Perhitungan adalah
salah satu pelajaran yang paling sukar menurut siswa karena pembelajarannya
yang memusingkan dan yang abstrak. Hal ini yang membuat siswa malas belajar
pelajaran matematika.
Dalam setiap
pembelajaran diusahakan untuk menyediakan media untuk membantupembelajaran agar
lebih bermakna, apalagi di kelas rendah haruslah menyediakan media untuk
membantunya. Setiap pembelajaran matematika tidak akan berhasil apabila gurunya
juga tidak berusaha untuk memaksimalkan pembelajaran yang akan diajarkan kepada
peserta didiknya.
Setiap siswa
pastilah mempunyai kemampuan untuk berpikir dengan caranya masing-masing, guru
juga harus dapat percaya bahwa siswa tersebut dapat memecahkan masalahnya
sendiri tanpa harus disuapi terus-menerus oleh guru.
Media merupakan
alat bantu guru dalam pembelajaran agar pembelajaran tersebut lebih efektif dan
siswa akanlebih termotivasi jika ada sesuatu benda yang dapat dimanipulasinya
tanpa bersifat abstrak.
Biasanya guru
dilapangan jarang sekali yang menggunakan media untuk membantu pembelajaran
agar pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna. Akibatnya siswa pun malas
untuk mengikuti pembelajaran matematika tersebut, karena pembelajarannya yang
membosankan, bersifat abstrak dan membuat siswa bingung. Jadi banyak siswa yang
mengatakan malas untuk belajar matematika tersebut.
Untuk membantu
pembelajaran lebih bermakna dan siswa mau untuk belajar matematika, haruslah
guru menyediakan medianya. Biasanya siswa paling senang apabila ia ikut serta
dalam pembelajaran dan bermain. Karena siswa kelas 1 SD masih senang bermain
dan menggunakan benda-benda yang konkrit. Maka dari itu, guru harus bisa
menggunakan benda-benda konkrit atau media lainnya untuk membantu pembelajaran
di kelas rendah agar siswa tersebut dapat terbiasa untuk menyukai pembelajaran
matematika dan anak tersebut juga akan memahami apa yang mereka pelajari jika
pembelajaran tersebut diajarkan secara terus-menerus.
Sama halnya
dengan yang diungkapkan dengan teori William Brownell (Erna dan Tiurlina, 2010:89) yaitu didasarkan pada keyakinan bahwa
anak-anak pasti memahami apa yang sedang mereka pelajari jika belajar secara
permanen atau secara terus-menerus untuk waktu yang lama. Salah satu cara bagi
anak-anak untuk mengembangkan pemahaman tentang matematika adalah dengan
menggunakan benda-benda tertentu ketika mereka mempelajari konsep matematika.
Untuk itu,
sebagai guru kita harus dapat kreatif untuk membuat atau memanfaatkan media
yang ada disekitar untuk membantu pembelajarn yang lebih bermakna dan lebih
efektif agar dapat mengembangkan kemampuan siswa dalam pembelajaran matematika
yang lebih kritis.
Berdasarkan
latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah “Bagaimana proses
pembelajaran bermakna melalui pendekatan integrated dengan tema benda di
sekitarku di kelas 1 sekolah dasar?”
B.
PEMBAHASAN
Didalam artikel
ini akan menggunakan kurikiulum 2013 yang lebih menekankan kepada nilai
karakter. Kurikulum 2013 juga menganjurkan untuk menggunakan pendekatan tematik
yang integratif. Pembelajaran integratif ini merupakan pembelajaran yang
mengintegrasikan berbagai kompetensi dari berbagai mata pelajaran kedalam satu
tema.
Berangkat dari
kurikulum baru yaitu kurikulum 2013, guru harus bisa mengintegrasikan mata
pelajaran yang benar-benar saling berkesinambungan dan memilih tema yang cocok
agar pembelajaran tersebut lebih menarik untuk dapat memotivasi siswa untuk
belajar matematika.
Dalam suatu
pembelajaran tersebut haruslah bersifat menyenangkan dan menarik agar siswa mau
mengikuti pembelajaran tersebut. Apabila tema tersebut menarik dan sesuai
dengan karakteristik siswa tersebut, maka siswapun akan bersemangat untuk
mengikuti pembelajaran karena ia seperti sedang bermain padahal ia sedang
belajar.
Artikel ini akan
menggunakan pendekatan integrated (Udin dkk, 2006:34) Pendekatan integrated ini
merupakan pemaduan sejumlah topik dari mata pelajaran yang berbeda, tetapi
esensinya sama dalam sebuah topik tertentu. Model ini berangkat dari adanya
tumpang tindih beberapa konsep, keterampilan dan sikap yang dituntut dalam
pembelajaran, sehingga perluadanya pengintegrasian multidisiplin.
Dalam artikel
ini penulis akan mengintegrasikan antara mata pelajaran Matematika dan Bahasa
Indonesia yaitu kompetensi dasar Matematika adalah membandingkan dengan
memperkirakan panjang suatu benda menggunakan istilah sehari-hari (lebih
panjang, lebih pendek) dan kompetensi dasar Bahasa Indonesia adalah memiliki
kepedulian dan rasa ingin tahu terhadap keberadaan wujud dan sifat benda
melalui pemanfaatan bahasa Indonesia dan/atau bahasa daerah.
Melihat
kompetensi dasar tersebut, terlihat keterpaduan antara benda-benda yang dapat
digunakan sebagai media pembelajarannya dan penulis menggunakan tema yaitu
Benda Di Sekitarku.
Pemanfaatan
media benda-benda yang terdapat disekitar siswa akan lebih membantu penyesuaian
dirinya terhadap pembelajaran dengan lingkungannya yang ternyata dapat
dipelajarinya dan mendapat pengetahuan yang baru bahwa benda-benda yang
terdapat disekitarnya juga dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran matematika dan
bahasa Indonesia.
Pada tahap awal
guru mengajarkan terlebih dahulu dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu
kegunaan benda. Dengan pembelajaran bahasa Indonesia ini siswa dapat memulainya
dengan melihat kegunaan benda yang telah diperlihatkan oleh guru, siswapun
dapat melatih kemampuan berbicaranya dengan mengeluarkan pendapat tentang
kegunaan benda yang telah dilihatnya tersebut.
Lalu siswa
diberi LKS, karena masih siswa kelas 1 takut
ada yang belum bisa membaca, maka perintah tersebut jangan terlalu banyak teks
dan dengan bantuan guru siswa dapat membacanya.
Setiap siswa
mengerjakan LKS tersebut tentang kegunaan benda yang ada disekitar lingkungan
sekolah, dengan cara mencari tahu sendiri dan melihatnya langsung, lalu setiap siswa
dapat melaporkannya langsung didepan kelas secara bergiliran apa yang telah ia
lihat sebelumnya tentang benda yang ada sekitar sekolah dan kegunaannya.
Setelah itu,
dilanjutkan dengan pembelajaran matematika yaitu membandingkan panjang benda. Guru
harus menyediakan media yang dapat membantu proses pembelajaran.
Setelah itu,
guru memberikan contoh kepada siswa dan siswa diberikan LKS kembali untuk
membantu pembelajarannya.
Lalu siswa belajar untuk membandingkan panjang
suatu benda yang ada dilingkungan sekolah. Siswa disana dapat mencari tahu apa
saja benda yang ukurannya lebih panjang dan mana benda yang ukurannya lebih
pendek. Seperti penggaris dengan pensil lebih panjang mana, meja dengan buku
lebih pendek mana dan sebagainya.
Siswa dapat
melaporkannya kembali didepan kelas apa yang telah ia temukan dalam
membandingkan panjang suatu benda yang ada dilingkungan sekolah.
Dengan itu,
siswa dapat melihat dan tahu bahwa suatu benda mempunyai panjang yang
berbeda-beda. Tanpa siswa tersebut mengukurnya benda tersebut dapat terlihat
bahwa benda tersebut lebih panjang atau lebih pendek.
Setiap siswa
pastilah dapat berpikir secara kreatif apabila tidak selalu dimanjakan oleh
gurunya. Siswa akan ketergantungan kepada guru apabila terus-menerus disuapi
pelajran tanpa ia tahu bahwa pembelajaran tersebut terdapat dalam kehidupan
sehari-harinya.
Dengan
pembelajaran tersebut diselipi dengan permainan yang membuat anak senang, maka
pembelajaran itu tidak akan membosankan. Biasanya siswa kelas 1 sekolah dasar
masih senang-senangnya bermain dan menggunakan benda-benda konkrit yang dapat
dimanipulasinya.
Ataupun dengan
nyanyian-nyanyian yang membuat anak senang dan bisa menghapal pelajaran tersebut
dengan jangka waktu yang lama, karena lagu tersebut dapat lebih meresap dari
pada hanya ceramah saja.
Dengan guru yang
kreatif dalam mengemas pembelajaran tersebut sesuai dengan karakteristis siswa,
maka pembelajaran pun akan menarik dan membuat anak menjadi lebih memahami isi
pembelajaran tersebut. Dibandingkan dengan hanya teori saja tanpa adanya
bantuan apapun dengan benda-benda yang bersifat konkrit.
Siswa akan lebih
terpancing dengan permainan-permainan yang baru untuk membantu sebuah proses
pembelajaran. Dan siswa akan selalu rindu apabila pembelajaran tersebut
menyenangkan.
Untuk itu, guru
harus dapat memanipulasi setiap pembelajaran agar lebih menarik dan
menyenangkan tanpa meninggalkan pembelajaran yang seharusnya diajarkan dan
pembelajaran tersebut akan lebih bermakna.
C.
REKOMENDASI
Artikel ini
memang jauh dari kata sempurna, tetapi artikel yang saya buat ini adalah salah
satu contoh untuk pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas
1 sekolah dasar. Pembelajaran yang terdapat dalam artikel ini menggunakan
pendekatan dalam pembelajaran agar pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna
dan mampu mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Dalam setiap
pembelajaran haruslah kita merencanakannya sebelumnya dan menggunakan
pendekatan dan strategi-strategi yang tepat agar dapat sesuai dengan
karakteristik siswa, karena tanpa adanya perencanaan dan strategi yang tepat
dalam pembelajaran maka pembelajaran tersebut tidak akan efektif dan tidak akan
berjalan sesuai dengan seharusnya. Maka dari itu, kita harus benar-benar kreatif
dalam menggunakan pendekatan dan strategi yang cocok untuk siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin, Y. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan
Karakter. Bandung: Refika Aditama
Kompetensi Dasar SD/MI. 2013
Nasution. 2009. Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar Dan
Mengajar. Bandung: Bumi Aksara
Nur’aini, U. dan Indriyani. 2008.
Bahasa Indonesia Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.
UPI. 2012
Purnomosidi, dkk. 2008. Matematika
Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Rositawaty, S. dan Muharam, A.
2008. Senang Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Kelas 1. Jakarta: Departemen Pendidikan
Nasional
Saud, U. S dan dkk. 2006. Pembelajaran Terpadu. Bandung: UPI PRESS
Suwangsih, E. dan Tiurlina. 2010. Model Pembelajaran Matematika. Bandung:
UPI PRESS
Suwarma, D. M. dan Suhendra. 2009. Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI
PRESS