Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dengan
Media
SMART BOARD pada
Materi
Perkalian di
Kelas III SD
Oleh:
Nur
Riski Kintarti
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)
A.
Pendahuluan
Berdasar KTSP 2006, khususnya untuk mata pelajaran
matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi tiga aspek yaitu bilangan,
geometri dan pengukuran, serta pengolahan data. Ketiga aspek tersebut
dijabarkan dalam beberapa kompetensi dasar, salah satu kompetensi tersebut
adalah melakukan operasi hitung perkalian. Perkalian merupakan salah satu
materi krusial yang diajarkan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah
menengah. Sebagaimana dikemukakan oleh Marsudi et al. (2009: 1) bahwa “Pembelajaran
perkalian dipilah dalam dua hal, yaitu perkalian dasar dan perkalian lanjut”.
Perkalian dasar yang dimaksud adalah perkalian dari dua bilangan yang
masing-masing merupakan bilangan satu angka, sedangkan perkalian lanjut adalah
perkalian dua bilangan selain dua bilangan satu angka.
Pada jenjang sekolah dasar, perkalian mulai diajarkan dari
kelas II semester 2. Materi yang diajarkan adalah perkalian dasar. Barulah ketika
peserta didik duduk di kelas III, mereka diajarkan perkalian lanjut berupa
perkalian panjang atau perkalian bersusun. Artinya, perkalian dasar menjadi
materi krusial yang harus dipahami dan dikuasai siswa sebagai bekal dalam
menyelesaikan perkalian lanjut di tahap ini. Namun, pada kenyataannya banyak
siswa yang masih kesulitan dalam melakukan perkalian, karena mereka tidak faham
dan hafal perkalian dasar. Akibatnya, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam
melakukan perkalian lanjut dan pada akhirnya siswa akan merasa takut bahkan
benci.
Munculnya permasalahan di atas pastilah ada sebabnya,
diantaranya adalah gaya mengajar guru yang kurang sesuai dengan tingkat
perkembangan anak. Guru sering kali mengajarkan materi sesuai jalan pikirannya,
tanpa memperhatikan jalan pikiran siswa. Selain itu, guru sering kali nyaman
dengan gaya mengajarnya yang terus menerus berceramah tanpa adanya variasi
pembelajaran, baik itu dari segi alat peraga/media, setting kelas, dan
sebagainya. Hal ini bertentangan dengan teori belajar Piaget (Tiurlina et al. 2010: 85) yang menyatakan bahwa “Jika kita memberikan pelajaran tentang
sesuatu kepada anak didik, maka kita harus memperhatikan tingkat perkembangan
berpikir anak tersebut”. Artinya, dalam pembelajaran matematika di sekolah
dasar hendaknya guru memperhatikan tingkat perkembangan anak. Anak usia sekolah
dasar umumnya berada pada tahap operasional konkret. Sehingga, mereka
membutuhkan benda konkret untuk mempermudah siswa dalam mengkonstruk suatu
konsep.
Hal di atas juga didukung oleh dalil penyusunan
(konstruksi) dari J. Bruner yang menyatakan bahwa “Untuk melekatkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran anak, anak
harus mencoba dan melakukannya sendiri” (Tiurlina et al. 2010: 87). Artinya, dalam pembelajaran guru perlu menyiapkan
media pembelajaran sebagai penunjang penyampaian materi. Seperti yang
dikemukakan Briggs (1977), “Media
pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran
seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya”.
Penulis berpendapat bahwa pembelajaran yang baik adalah
pembelajaran yang mampu mengantarkan anak pada pemahaman konsep dengan
melibatkan interaksi sosial. Interaksi yang dimaksud adalah interaksi antara
guru dengan siswa dan antar siswa. Salah satu model pembelajaran yang mampu
memfasilitasi interaksi sosial ini adalah pembelajaran kooperatif. Sebagaimana
prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar dalam KTSP, diantaranya yaitu
berpusat pada peserta didik, belajar dengan melakukan, mengembangkan kemampuan
sosial, serta perpaduan kompetisi, kerjasama, dan solidaritas (Sitti, 2009: 2).
Berdasarkan
pemikiran di atas, penulis berpendapat
bahwa pembelajaran perkalian di
kelas III SD dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan
media SMART BOARD. Alternatif pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman perkalian siswa dalam situasi yang menyenangkan. Maka perumusan
masalahnya adalah “Bagaimana pelaksanaan
pembelajaran perkalian
di kelas III
SD melalui model kooperatif
tipe STAD dengan media SMART BOARD?”.
B. Pembahasan
Pembelajaran memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah media
pembelajaran. Media pembelajaran ini memiliki peran penting sebagai alat
menyampaikan bahan ajar, sehingga perlu dipersiapkan dengan matang. Khususnya pada
materi perkalian, media diperlukan untuk lebih memperjelas materi dan membuat
pembelajaran menjadi lebih konkret. Atas dasar pertimbangan tersebut penulis
mengusulkan SMART BOARD sebagai salah satu media pembelajaran pada materi
perkalian.
Media SMART BOARD ini didasari oleh model array pada operasi hitung perkalian. Model array diperkenalkan melalui batang yang saling berpotongan kemudian
dihitung titik potong yang terbentuk. Hal serupa juga pernah dikembangkan oleh
KMK UHAMKA berupa stik perkalian dari lidi yang ditempatkan pada selembar papan
untuk perkalian bilangan bulat dua angka. Berikut ilustrasinya:
Kedua hal diatas menjadi
pertimbangan penulis membuat SMART BOARD. Namun, ada beberapa pengembangan yang
dilakukan penulis. Berikut ilustrasi SMART BOARD yang dikembangkan penulis:
SMART BOARD ini dibuat dari papan dengan lidi sebagai benda penujuk angka
yang akan dioperasikan. Area yang ditunjukan oleh garis c sengaja diberi warna
warni oleh penulis agar lebih menarik dan mempermudah siswa dalam
penggunaannya. Media ini dapat digunakan untuk perkalian dua bilangan satu
angka, satu angka dengan dua angka, dan dua angka dengan dua angka. Berikut
contoh pengoperasian perkalian dengan SMART BOARD:
SMART BOARD ini mampu membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan
menyenangkan, sehingga aktivitas siswa meningkat ditunjukan dengan keaktifan
mengeksplorasi media. Sebagaimana yang dikemukakan Dienes bahwa “Setiap konsep atau prinsip dalam matematika
akan dapat dipahami secara penuh apabila disajikan dalam bentuk konkret dengan
berbagai macam sajian” (Turlina, 2010: 90). Ini berarti bahwa pembelajaran
yang menghadirkan benda-benda konkret dan dikemas dalam permainan akan membuat siswa
mudah memahami suatu konsep. Keunggulan lain dari media ini adalah mampu membantu
siswa dalam menguatkan konsep perkalian sebagai perkalian berulang. Selain itu
juga membantu anak yang masih kesulitan pada perkalian dasar.
Menurut penulis, SMART BOARD ini akan bekerja lebih maksimal apabila siswa
melakukannya dalam kelompok dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD. Model
kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran berkelompok dimana siswa
bekerjasama dalam mengerjakan tugas. Pembelajaran kooperatif ini juga menyoroti
pada kecepatan belajar siswa yang berbeda-beda. Sehingga, setiap siswa harus
saling membantu dalam menyelesaikan tanggung jawab masing-masing. Siswa yang
pandai akan membantu siswa yang kurang pandai. Sebaliknya, siswa yang kurang
pandai banyak belajar sehingga bertambah pemahamannya.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari beberapa tahapan (Tiurlina,
2010: 162), yaitu:
1.
Tahap
persiapan (termasuk di dalamnya penyajian materi),
2.
Tahap
kegiatan kelompok,
3.
Tahap
pelaksanaan tes individu,
4.
Tahap
perhitungan skor perkembangan individu dan
5.
Tahap
pemberian penghargaan kelompok.
Jika dalam penerapannya semua tahapan tersebut dilaksanakan maka akan
menciptakan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bermakna berawal dari
persiapan yang matang dari guru, baik dari persiapan materi, sumber-sumber
belajar yang menunjang, media belajar, sampai pada setting kelas yang akan
digunakan. Selain itu juga perlu ditunjang dengan penghargaan, sebab penghargaan
memiliki sifat menguatkan konsep agar bertahan lama dalam ingatan siswa.
Seperti dalam teori belajar Skinner yang menyatakan bahwa penguatan mempunyai
peranan yang amat penting dalam proses pembelajaran (Tiurlina, 2010: 74).
Berdasar pemaparan di atas, maka antara model pembelajaran kooperatif tipe
STAD dan media SMART BOARD saling bersinergi dalam membangun suasana
pembelajaran yang kondusif. Banyak manfaat yang dapat diambil dari situasi
belajar ini. Pertama, suasana belajar menjadi lebih konkret dan menyenangkan.
Sehingga siswa memiliki pemahaman konsep secara utuh dan bertahan lama. Kedua,
mengembangkan aspek sosial anak karena anak ditempatkan dalam situasi belajar
kelompok. Ketiga, tercipta ketergantungan yang positif antar anggota kelompok. Sehingga
mendorong setiap siswa untuk saling bekerjasama. Keempat, meminimalisir
kesalahpahaman akibat gaya mengajar yang terlalu verbalisme. Selain itu, siswa
terfasilitasi dengan adanya perhatian terhadap kecepatan belajar anak yang
berbeda-beda.
C. Rekomendasi
DAFTAR
PUSTAKA
Fajariyah, N. dan Triratnawati, D. (2008). Cerdas Berhitung Matematika untuk SD/MI Kelas 3. Jakarta: Pusat
Perbukuan.
Hartinah, Sitti. (2008). Pengembangan
Peserta Didik. Tegal: Refika Aditama.
Hernawan, A. H., Zaman, B. dan Riyana, C. (2007). Media Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press.
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI 2006.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI 2010.
Raharjo, M., Waluyati, A. dan Sutanti, T. (2009). Pembelajaran Operasi Hiutng Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di
SD. Sleman: Departemen Pendidikan Nasional.
Shadiq, Fadjar. (2009). Model-Model
Pembelajaran Matematika SMP. Sleman: Departemen Pendidikan Nasional.
Sumarwa, Mayadiana. dan Suhendra. (2009). Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI Press.
Suwangsih, Erna. dan Tiurlina. (2010). Model
Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI Press.
TIM PLPG Matematika
FKIP UHAMKA. -. Pembelajaran Matematika
Kreatif. [Online]. Tersedia: http://id.scribd/doc/88657038/Pembelajaran-Matematika.
[24 Februari 2013].
Turmudi. (2012). Landasan Filosofis,
Didaksis, dan Pedagogis Pembelajaran Matematika Untuk Siswa Sekolah Dasar. Jakarta:
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar