Pengikut

Rabu, 11 Oktober 2017

Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD Dengan Media SMART BOARD

Pembelajaran Kooperatif  Tipe STAD Dengan Media SMART BOARD pada Materi Perkalian di Kelas III SD
Oleh:
Nur Riski Kintarti
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)
A.      Pendahuluan
Berdasar KTSP 2006, khususnya untuk mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD/MI meliputi tiga aspek yaitu bilangan, geometri dan pengukuran, serta pengolahan data. Ketiga aspek tersebut dijabarkan dalam beberapa kompetensi dasar, salah satu kompetensi tersebut adalah melakukan operasi hitung perkalian. Perkalian merupakan salah satu materi krusial yang diajarkan mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Sebagaimana dikemukakan oleh Marsudi et al. (2009: 1) bahwa “Pembelajaran perkalian dipilah dalam dua hal, yaitu perkalian dasar dan perkalian lanjut”. Perkalian dasar yang dimaksud adalah perkalian dari dua bilangan yang masing-masing merupakan bilangan satu angka, sedangkan perkalian lanjut adalah perkalian dua bilangan selain dua bilangan satu angka.
Pada jenjang sekolah dasar, perkalian mulai diajarkan dari kelas II semester 2. Materi yang diajarkan adalah perkalian dasar. Barulah ketika peserta didik duduk di kelas III, mereka diajarkan perkalian lanjut berupa perkalian panjang atau perkalian bersusun. Artinya, perkalian dasar menjadi materi krusial yang harus dipahami dan dikuasai siswa sebagai bekal dalam menyelesaikan perkalian lanjut di tahap ini. Namun, pada kenyataannya banyak siswa yang masih kesulitan dalam melakukan perkalian, karena mereka tidak faham dan hafal perkalian dasar. Akibatnya, siswa akan mengalami banyak kesulitan dalam melakukan perkalian lanjut dan pada akhirnya siswa akan merasa takut bahkan benci.
Munculnya permasalahan di atas pastilah ada sebabnya, diantaranya adalah gaya mengajar guru yang kurang sesuai dengan tingkat perkembangan anak. Guru sering kali mengajarkan materi sesuai jalan pikirannya, tanpa memperhatikan jalan pikiran siswa. Selain itu, guru sering kali nyaman dengan gaya mengajarnya yang terus menerus berceramah tanpa adanya variasi pembelajaran, baik itu dari segi alat peraga/media, setting kelas, dan sebagainya. Hal ini bertentangan dengan teori belajar Piaget (Tiurlina et al. 2010: 85) yang menyatakan bahwa “Jika kita memberikan pelajaran tentang sesuatu kepada anak didik, maka kita harus memperhatikan tingkat perkembangan berpikir anak tersebut”. Artinya, dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar hendaknya guru memperhatikan tingkat perkembangan anak. Anak usia sekolah dasar umumnya berada pada tahap operasional konkret. Sehingga, mereka membutuhkan benda konkret untuk mempermudah siswa dalam mengkonstruk suatu konsep.
Hal di atas juga didukung oleh dalil penyusunan (konstruksi) dari J. Bruner yang menyatakan bahwa “Untuk melekatkan ide atau definisi tertentu dalam pikiran anak, anak harus mencoba dan melakukannya sendiri” (Tiurlina et al. 2010: 87). Artinya, dalam pembelajaran guru perlu menyiapkan media pembelajaran sebagai penunjang penyampaian materi. Seperti yang dikemukakan Briggs (1977), “Media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya”.
Penulis berpendapat bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu mengantarkan anak pada pemahaman konsep dengan melibatkan interaksi sosial. Interaksi yang dimaksud adalah interaksi antara guru dengan siswa dan antar siswa. Salah satu model pembelajaran yang mampu memfasilitasi interaksi sosial ini adalah pembelajaran kooperatif. Sebagaimana prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar dalam KTSP, diantaranya yaitu berpusat pada peserta didik, belajar dengan melakukan, mengembangkan kemampuan sosial, serta perpaduan kompetisi, kerjasama, dan solidaritas (Sitti, 2009: 2).
Berdasarkan pemikiran di atas, penulis berpendapat bahwa pembelajaran perkalian di kelas III SD dapat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan media SMART BOARD. Alternatif pembelajaran ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman perkalian siswa dalam situasi yang menyenangkan. Maka perumusan masalahnya adalah “Bagaimana pelaksanaan pembelajaran perkalian di kelas III SD melalui model kooperatif tipe STAD dengan media SMART BOARD?”.
B.       Pembahasan
Pembelajaran memiliki beberapa komponen, salah satunya adalah media pembelajaran. Media pembelajaran ini memiliki peran penting sebagai alat menyampaikan bahan ajar, sehingga perlu dipersiapkan dengan matang. Khususnya pada materi perkalian, media diperlukan untuk lebih memperjelas materi dan membuat pembelajaran menjadi lebih konkret. Atas dasar pertimbangan tersebut penulis mengusulkan SMART BOARD sebagai salah satu media pembelajaran pada materi perkalian.
Media SMART BOARD ini didasari oleh model array pada operasi hitung perkalian. Model array diperkenalkan melalui batang yang saling berpotongan kemudian dihitung titik potong yang terbentuk. Hal serupa juga pernah dikembangkan oleh KMK UHAMKA berupa stik perkalian dari lidi yang ditempatkan pada selembar papan untuk perkalian bilangan bulat dua angka. Berikut ilustrasinya:

 Kedua hal diatas menjadi pertimbangan penulis membuat SMART BOARD. Namun, ada beberapa pengembangan yang dilakukan penulis. Berikut ilustrasi SMART BOARD yang dikembangkan penulis:




SMART BOARD ini dibuat dari papan dengan lidi sebagai benda penujuk angka yang akan dioperasikan. Area yang ditunjukan oleh garis c sengaja diberi warna warni oleh penulis agar lebih menarik dan mempermudah siswa dalam penggunaannya. Media ini dapat digunakan untuk perkalian dua bilangan satu angka, satu angka dengan dua angka, dan dua angka dengan dua angka. Berikut contoh pengoperasian perkalian dengan SMART BOARD:



   SMART BOARD ini mampu membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan, sehingga aktivitas siswa meningkat ditunjukan dengan keaktifan mengeksplorasi media. Sebagaimana yang dikemukakan Dienes bahwa “Setiap konsep atau prinsip dalam matematika akan dapat dipahami secara penuh apabila disajikan dalam bentuk konkret dengan berbagai macam sajian” (Turlina, 2010: 90). Ini berarti bahwa pembelajaran yang menghadirkan benda-benda konkret dan dikemas dalam permainan akan membuat siswa mudah memahami suatu konsep. Keunggulan lain dari media ini adalah mampu membantu siswa dalam menguatkan konsep perkalian sebagai perkalian berulang. Selain itu juga membantu anak yang masih kesulitan pada perkalian dasar.
Menurut penulis, SMART BOARD ini akan bekerja lebih maksimal apabila siswa melakukannya dalam kelompok dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD. Model kooperatif tipe STAD merupakan model pembelajaran berkelompok dimana siswa bekerjasama dalam mengerjakan tugas. Pembelajaran kooperatif ini juga menyoroti pada kecepatan belajar siswa yang berbeda-beda. Sehingga, setiap siswa harus saling membantu dalam menyelesaikan tanggung jawab masing-masing. Siswa yang pandai akan membantu siswa yang kurang pandai. Sebaliknya, siswa yang kurang pandai banyak belajar sehingga bertambah pemahamannya.
Pembelajaran kooperatif tipe STAD terdiri dari beberapa tahapan (Tiurlina, 2010: 162), yaitu:
1.      Tahap persiapan (termasuk di dalamnya penyajian materi),
2.      Tahap kegiatan kelompok,
3.      Tahap pelaksanaan tes individu,
4.      Tahap perhitungan skor perkembangan individu dan
5.      Tahap pemberian penghargaan kelompok.
Jika dalam penerapannya semua tahapan tersebut dilaksanakan maka akan menciptakan pembelajaran yang bermakna. Pembelajaran bermakna berawal dari persiapan yang matang dari guru, baik dari persiapan materi, sumber-sumber belajar yang menunjang, media belajar, sampai pada setting kelas yang akan digunakan. Selain itu juga perlu ditunjang dengan penghargaan, sebab penghargaan memiliki sifat menguatkan konsep agar bertahan lama dalam ingatan siswa. Seperti dalam teori belajar Skinner yang menyatakan bahwa penguatan mempunyai peranan yang amat penting dalam proses pembelajaran (Tiurlina, 2010: 74).
Berdasar pemaparan di atas, maka antara model pembelajaran kooperatif tipe STAD dan media SMART BOARD saling bersinergi dalam membangun suasana pembelajaran yang kondusif. Banyak manfaat yang dapat diambil dari situasi belajar ini. Pertama, suasana belajar menjadi lebih konkret dan menyenangkan. Sehingga siswa memiliki pemahaman konsep secara utuh dan bertahan lama. Kedua, mengembangkan aspek sosial anak karena anak ditempatkan dalam situasi belajar kelompok. Ketiga, tercipta ketergantungan yang positif antar anggota kelompok. Sehingga mendorong setiap siswa untuk saling bekerjasama. Keempat, meminimalisir kesalahpahaman akibat gaya mengajar yang terlalu verbalisme. Selain itu, siswa terfasilitasi dengan adanya perhatian terhadap kecepatan belajar anak yang berbeda-beda.
C.      Rekomendasi
Keterampilan guru dalam merancang dan menjalankan pembelajaran sangat menentukan hasil belajar siswa. Sehingga, guru harus selalu mengembangkan pengetahuannya agar mampu menciptakan pembelajaran yang kreatif, inovatif dan bermakna. Upaya mengembangkan pengetahuan tersebut dapat dilakukan dengan membaca buku. Khususnya dalam pembelajaran perkalian ada banyak cara yang dapat digunakan oleh guru. Salah satunya adalah menerapkan pembelajaran kooperatif  tipe STAD dengan media SMART BOARD.
DAFTAR PUSTAKA
Fajariyah, N. dan Triratnawati, D. (2008). Cerdas Berhitung Matematika untuk SD/MI Kelas 3. Jakarta: Pusat Perbukuan.
Hartinah, Sitti. (2008). Pengembangan Peserta Didik. Tegal: Refika Aditama.
Hernawan, A. H., Zaman, B. dan Riyana, C. (2007). Media Pembelajaran Sekolah Dasar. Bandung: UPI Press.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) SD/MI 2006.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah UPI 2010.
Raharjo, M., Waluyati, A. dan Sutanti, T. (2009). Pembelajaran Operasi Hiutng Perkalian dan Pembagian Bilangan Cacah di SD. Sleman: Departemen Pendidikan Nasional.
Shadiq, Fadjar. (2009). Model-Model Pembelajaran Matematika SMP. Sleman: Departemen Pendidikan Nasional.
Sumarwa, Mayadiana. dan Suhendra. (2009). Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI Press.
Suwangsih, Erna. dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI Press.
TIM PLPG Matematika FKIP UHAMKA. -. Pembelajaran Matematika Kreatif. [Online]. Tersedia: http://id.scribd/doc/88657038/Pembelajaran-Matematika. [24 Februari 2013].

Turmudi. (2012). Landasan Filosofis, Didaksis, dan Pedagogis Pembelajaran Matematika Untuk Siswa Sekolah Dasar. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...