Pengikut

Kamis, 14 April 2016

Melejitkan Investasi Sosial Pada Anak



Bismillahirrohmannirrohim

Sungguh amat menyedihkan kalau pendidikan super yang kita bangga-banggakan dan yang terus diperbaharui supaya makin canggih, justru membuat murid-murid berjarak dari lingkungan sosialnya. Amat menyedihkan bila sejak dini anak-anak sudah terjebak sikap antisosial dan terangkap dalam keegoannya sendiri. Banyak sekolah berhasil mencetak murid cerdas yang meraih berbagai mendali penghargaan, tapi anak malah gagal dalam kehidupan sosial dan masyarakat telah banyak menuai dampak negatifnya. Dalam riwayat karirnya sebagai super teacher, Rasulullah melakukan pembinaan kejeniusan sosial terhadap murid-muridnya. Ternyata beliau memulai pendidikan sosial baru dikenal dengan masyarakat luas.
Belakangan para ahli memasukan kemampuan membangun hubungan sosial sebagai salah satu bentuk kecerdasan. Pengakuan terhadap kemampuan dahsyat terkait kejeniusan sosial ini disokong temuan-temuan menakjubkan di bidang ilmu saraf sosial. Sekarang telah berkembang berbagai jenis ilmu terkait dengan upaya meningkatkan kecerdasan sosial, kita mengenal ilmu sosiologi, psikologi, human resourse Development, komunikasi dan sebagainya. Juga berkembang pesat sekolah-sekolah yang mendidik para muridnya tentang kecakapan dalam berhubungan sosial, seprti sekolah kepribadia, sekolah PR (public relation), sekolah humas, adapula kuliah HI (hubungan internasional), dan lainnya.
Rasul mengajarkan pada anak didiknya betapa lingkungan sosial itu amat menyenangkan. Sebelum tahu seluk beluk lingkungan masyarakat, anak muri
d diajari dulu relasi sederhana antara anak dengan dirinya. Rasul tidak marah merid cilik naik kepundaknya saat shalat. Beliau menepis konsep pendidikan yang mengandalkan kemarahan. Pemakaian cara santun yang dipilih Rasul, bertujuan sujpaya anak tidak trauma membangun hubungan sosial dengan orang lain.
Lingkungan masyarakat merupakan wadah sosial baru bagi anak. Dia belum punya modal atau pondasi untuk terjun di masyarakat yang sangat beraga, dan belum tentu pula mesyarakat langsung menerima keberadaan si anak. Selain membutuhkan bimbingan, anak juga memerlukan pengukuhan keberadaannya dalam masyarakat.
Pendidikan tanpa model kompetensi sehat juga berbahaya, karena kompetensi bagi pelajar bagaikan bahan bakar pemacu semangat menuntut ilmu. Tanpa semangat tidak akan ada upaya pencarian bekal keilmuan secara percepatan. Maka salah satu strategi pendidikan dengan menciptakan iklim kompetensi yang sehat tersebut, seprti dengan memberi nilai , sistim ranking, tingkatan kelas, perlombaan, pertandingan, simulasi, dan lain lain. Dengan adanya strategi membangun iklim kompetensi yang sehat, sesungguhnya anak sedang diajarkan untuk mengakui posisi temannya yang lain dan belajar menerima kondisinya. Anak juga memiliki kepekaan sosial, dan boleh jadi berkat didikan kecerdasan sosial yang baik, mereka lebih tajam menganalisa dampak lingkungannya. Jadi, jangan pernah sepelekan saran atau anjuran dari anak-anak untuk kebaikan orang-orang sekitarnya. Murid yang super tidak saja menjadikan lingkungan sosial tempat bergaul, bermain atau belajar bermasyarakat, tetapi juga peluang pembaharu. Anak-anak mampu menajamkan kepekaan sosial, meluruskan yang keliru dan membetulkan yang salah.
Kecerdasan sosial, inilah yang kadanga kita lupakan. Melihat fenomena sekarang, apalagi diperkotaan rasanya sangat jarang orang yang memiliki kecerdasan sosial. Hal ini pun berdampak terhadap pendidikan. Menegur kita semua bahwasanya pendidikan sosial yang baik yang diperlukan guna mencapai suatu pendidikan yang super. Banyak dari orang tua justru kurang mengenalkan lingkungan sosilal kepada anak sehingga sulit untuk mandiri dan bergantung atau bahkan individualis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...