Pengikut

Jumat, 15 Januari 2016

Model Pembelajaran Sinektik



Penerapan Model Sinektik Berbantu Media Tangram dalam Materi Mengelompokan Bangun Datar di Kelas II
Oleh
Fitria Nuraeni
Abstrak : Penggunaan media dan proses pembelajaran yang mengandung sedikit kontruktivis menjadi salah satu penghambat pembalajaran Geometri di Sekolah Dasar. Penggunaan media kontekstual belumlah cukup utnuk membentuk pemahaman siswa yang bermakna, meluas dan mendalam. Hal inilah yang kemudian menjadi menarik untuk di telaah yang akan dibahan dalam artikel ini. Teori Van Hiele yang mengatakan bahawa pembelajaran geometri haruslah mengikuti serangkaian tahap, hal ini bertujuan agar siswa mampu memahami materi geometri secara mendalam dan luas. Selain itu menurut Jhon Van De Walle pembelajaran geometri harus diajarkan dengan benar karena pemahaman yang luas akan geometri memiliki implikasi yang jelas dan penting dalam bagian-bagian kurikulum yang lain. Karenanya untuk menciptakan sebuah pembelajaran yang menarik, menantang dan bermakna penulis menyarankan menggunakan model Sinektik dengan berbantu media Tangram. Model sienktik dengan ciri khas nya mengenai pembelajaran kreatif dirasa akan menarik jika ditunjang juga dengan media Tangram. Media Tangram yang sekilas seperti permainan dapat dijadikan sebuah media yang menunjang proses berpikir metafora dalam model Sinektik. Dengan menggunakan model Sinektik berbantu media Tangram diharapkan dapat memciptakan suasana belajar yang efektif, menyenangkan dan membantu siswa dalam memahami materi geometri. Khususnya di kelas rendah, model ini dapat dikemas dengan sedemikian rupa agar tidak terkesan membebani siswa dalam proses belajar.

A.    PENDAHULUAN
Pembelajaran Geometri di sekolah dasar tidak akan dan menantang jika hanya mengandalkan media gambar. Kehadiran benda manipulasi dapat mengundang ketertarikan siswa untuk belajar lebih baik mengenai konsep geometri. Hal ini berdasarkan terhadap penemuan penulis di Sekolah dasar mengenai materi Geometri khususnya di kelas 2. Guru memang menggunakan metode kontekstual dengan memanfaatkan benda nyata disekeliling siswa, namun jika diperhatikan penggunaan benda nyata kurang dapat mengkontrruksi siswa dalam memahami materi. Kenapa dikatakan kurang, menurut penulis kontruktivis tidak cukup menyuruh siswa memahami sendiri materinya melainkan sebuah bentuk pembelajaran yang mengarahkan siswa pada pemahaman yang bermakna. Tentu saja dengan proses yang telah dikemas sedemikian rupa sehingga pengetahuan yang didapat tidak hanya diingat melainkan juga dapat di gunakan untuk menunjang materi lain.
Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256)
Pembelajaran yang didasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung.  

Menurut Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.

Sedangkan menurut teori belajar progresivisme Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) “Memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa”.
Berbicara mengenai geometri, tentulah ini berkaitan dengan teori dari Jhon Van Hiele yang memang khusus membicarakan metode pembelajaran geometri. Sebelumnya penulis berkata bahwa pembelajaran geometri tidak cukup hanya menghadirkan pengalaman terhadap benda nyata berbentuk, melainkan ada sebuh proses yang harus diikuti oleh siswa dalam mempelajari geometri. Penadapat penulis ini diperkuat oleh teori Jhon Van Hiele (dalam Jhon Van D walle, 2007 : 151)
Fitur yang paling menonjol dari model tersebut adalah hirarki lima tingkat dari cara dalam pemahaman ide-ide ruang. Tiap tingkatan menggambarkan proses pemikiran yang diterapkan dalam konteks geometri. Tingkatan-tingkatan tersebut menjalaskan tentang bagaimana kita berpikir dan jenis-jenis ide geometri apa yang kita pikirkan, bukannya berapa banyak pengetahuan yang kita miliki. Perbedaan yang signifikan dari satu level ke level berikutnya adalah objek-objek pikiran – apa yang mampu kita pikirkan secara geometris.

Mengambil pendapat dari buku Jhon Van D Walle (2007: 149) “pemahaman yang luas akan geometri memiliki implikasi yang jelas dan penting dalam bagian-bagian kurikulum yang lain”. Setelah penulis telaah maksud dari kutipan tersebut, ternyata memang benar. Pemahaman konsep-konsep geometri sangat membantu terhadap pemahaman materi lain. Misalnya materi pengukuran yang sejalan dengan geometri dalam perkembangan rumus luas dan isi serta dalam pemahaman hubungan luas sekeliling dan permukaan. Atau pada penalaran proposional yang membutuhkan visualisasi beruba bentuk-bentuk geometris.

B.     PEMBAHASAN
Materi mengelompokan bentuk bangun datar terdapat dalam Kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa di kelas 2. Materi ini merupakan kelanjutan dan pengembangan dari materi sebelumnya di kelas 1 yaitu mengenal jenis-jenis  bangun datar. Jika sebelumnya siswa hanya mengenal jenis-jenis bangun datar yang sederhana seperti persegi, segitiga dan lingkaran, maka di kelas 2 ini siswa di kenalkan dengan bangun datar lainnya yang masih termasuk pada kelompok segitiga, persegi, dan lingkaran. Bangun datar tersebut diantaranya jajargenjang, layang-layang dan trapesium yang dapat dikelompokan menjadi bangun segi empat.
Konsep yang harus disampaikan adalah bangun datar yang memiliki sisi empat dapat dikatakan sebagi “segiempat”, dengan jenis-jenisnya yaitu persegi, persegi panjang, jajargenjang, layang-layang, belah ketupat dan trapesium. Selanjutnya bangun datar yang memiliki sisi tiga dikatakan “segitiga” dengan jenis-jenis segitiga sama sisi, segitig sama kaki, segitiga siku-siku dan segitiga sembarang. Namun untuk materi segitiga tidak terlalu di bahas.
Penulis menyarankan menggunakan media yang dapat dimanipulasi, bersifat menyenangkan dan menantang bagi siswa serta tentu saja dapat mengkontruks pemahaman siswa mengenai geometri lebih jauh dan lebih banyak. Media Tangaram, yaitu merupakan salah satu permainan edukatif, selain bisa digunakan untuk bermain tangram bisa digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep dasar matematika. Permainan tangram cocok untuk diterapkan di sekolah dasar khususnya pada mata pelajaran matematika karena dengan tangkram guru dapat memperkenalkan berbagai bidang geometri datar. Guru atau pendidik bisa membuat sendiri permainan ini dari bahan-bahan yang seadanya, yaitu karton, kayu, atau bahan-bahan lainnya yang bisa digunakan.
Para ahli berpendapat bahwa Tangram bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai hal, di antaranya Bohning and Althouse 1997; Krieger 1991; National Council of Teacher’s Mathematics 2003 (Permana, Aziz. 2013)
1.      Mengembangkan rasa suka terhadap geometri
2.      Mampu membedakan berbagai bentuk
3.      Mengembangkan perasaan intuitif terhadap bentuk-bentuk dan relasi-relasi geometri
4.      Tangram juga dapat menjadi pengalaman multi-kultural bagi para pelajar. Ada beberapa kegiatan seni bahasa yang berpusat seputar Tangram, sehingga di sini terjadi hubungan inter-disipliner bidang ilmu. Adapun bentuk dari tangram adalah sebagai berikut :

Banyak manfaat lainnya yang di dapat dari penggunaan tangram sebagai media pembelajaran. Namun hal yang penulis fokuskan adalah pembentukan sikap kreatif dan kristis dalam memahami materi. Karenanya penulis menyarankan menggunakan model Sinektik untuk membuat suasana belajar yang efektif dalam mengkontruksi pemikiran siswa.
Model  sinektik  adalah  salah  satu  model  yang  termasuk  pada  rumpun  pribadi. Model  pribadi  merupakan  model  mengajar  yang  berorientasi  kepada perkembangan  diri  individu,  model  ini  menitik  beratkan  kepada  psikologis  individual dan  pengembangan  kreativitas  melalui  aktualisasi  diri,  kesehatan  mental,  dan pengembangan kreativitas. Salah  satu  ciri  kreativitas  menurut  Munandar  (1992  :  34)  adalah  mempunyai dorongan ingin tahu yang besar dan kemampuan mengembangkan suatu gagasan.  Model Sinektik yang dikembangkan oleh Gordon bertujuan untuk  menumbuhkan  kreativitas sehingga diharapkan siswa mampu menghadapi permasalahannya.
Menurut Gordon (Daswan, 2013)sinektis dibangun oleh empat dasar yaitu pandangan bahwa kreatifitas merupakan aktivitas sehari-hari, kreatifitas merupakan hal yang dapat dipelajari, kreativitas menunjang semua bidang (seni, teknologi, pengetahuan dsb.), dan proses penemuan individu di tunjang oleh penemuan kelompok.

Dalam teknik pengajarannya, sebaiknya guru jangan batasi  pengalaman  yang  mungkin diperoleh  peserta  didik,  hormatilah  gagasan-gagasan  mereka,  hargailah  proses belajar  mandiri,  hargai  perbedaan individu dan toleransi terhadap situasi kelas yang ribut. Untuk  strategi  sinektik, Gordon dalam Joyce (Tim Pengembang Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007) mengemukakan  mengenai dua strategi prosedur sinektik, yaitu:
1.      Menciptakan sesuatu yang baru dengan metafora.
2.      Mengakrabkan  sesuatu  yang  asing  melalui  analogi-analogi  yang  sudah  dikenal dengan baik.
Agar lebih mudah penulis merangkum tahapan dari kegiatan belajar diatas sesuai tahapan model sinektik.

1.      Masukan Informasi, pada tahap pertama ini guru memberikan gambaran dasar konsep jenis bentuk bangun datar yang telah dikenali siswa dan akan dikenal siswa. Siswa memilih dua buah bentuk bangun datar yang terdapat pada tangram dan mengungkapkan hal apa yang ia temukan pada dua bangun datar tersebut. Hal ini juga sejalan dengan teori Van Hiele, yaitu masuk pada tahap visualisasi atau mengenal bentuk bangun datar.
2.      Proses metaforik, pada tahap ini siswa dibimbing untuk masuk ke tahap kreatifitas. Siswa dapat mulai memainkan tangram, yaitu dengan mulai  membentuk bangun datar yang diharapkan guru dengan menggunakan tangram. Dalam hal ini siswa diberi kebebasan memadupadankan bangun yang ada dalam tangram. Hal ini dilakukan terus menerus hingga siswa mulai memahami kelompok bangun datar berikut jenis-jenisnya. Tugas guru membimbing siswa untuk dapat menyelesaikan semua bentuk yang harus dikenali. Dalam teori van hielle tahap ini termasuk tahap analisis.
3.      Tahap Analogi langsung, analogi personal dan konflik kempaan merupakan tahan kreatifitas siswa. Analogi langsung adalah tahap dimana ia dihadapkan dengan sebuah kondisi langsung guna memancing sebuah gagasan atau ide. Tahap analogi personal adalah tahap dimana siswa mengambil tindakan secara personal yaitu mulai menuangkan idenya, proses diaman ia mulai mengkontruks pemahamannya juga mentransfer pemahamannya. Tahap konflik kempaan adalah tahap dimana ia dihadapkan dengan konflik yang bertujuan untuk memperluas gagasan atau idenya. Ketiga tahap ini di kemukakan oleh Gordon dan Joyce (1980:168) mengidentifikasikan metafora dalam tiga aktivitas yaitu personal analogy, direct analogy, compressed conflict (konflik kempaan). Pada tahap ini guru dapat memberikan sebuah tantangan dengan memberikan sebuah sketsa dengan blok-blok pola yang harus diisi dengan bengun datar yang tepat juga mewarnainya semenarik mungkin. Siswa dapat berimajinasi sesuai pemahamannya. Tentu setiap individu / setiap kelompok memiliki pemikiran yang berbeda-beda mengenai jenis bangun datar yang terdapad dalam pola. Kemudian selanjutnya mengelompokan sesuai jenisnya.
Contoh pola tersebut seperti   :                Dan setelah dikerjakan siswa menjadi :


Nama Bangun Datar
Nama Kelompok Bangun Datar
Segitiga sama sisi
Segitiga
Jajargenjang
Segiempat
Belah ketupat
Segi empat
....
....




Tahap ketiga ini dapat dikatakan tahap desuksi dalam teori Van Hiele, yaitu siswa muali memahami kesamaan sifat dalam kelompok bangun datar. Atau mulai memahami perbedaan masing bentuk bangun datar meskipun belum sampai pada materi sifat-sifat bangun datar. Tetapi hal ini sudah baik mengingat siswa sudah mulai memiliki ketertarikan terhadap geometri.
4.      Tahap mempfokuskan kembali atau feedback, tahap akhir dimana guru mengkoreksi jawaban dan meluruskan pemahaman yang melenceng sekaligus mengevaluasi hasil kerja siswa. Tahap terakhir ini dapat dikatakan tahap pengecekan ketepatan pemahaman siswa. Dalam teori Van Hiele tahapan terakhirnya adalah ketepatan. Dimana guru mengapresiasi hasil kerja siswa. Ketika siswa tidak sampai pada pemahaman yang diharapkan. Guru dapat langsung membingbing dengan menyruh siswa melihat kembali hasil kerjanya dan membingbingnya pada pemahaman  yang benar.

Tahapa-tahapan diatas masih dapat dimodifikasi, yang jelas inti dari model sinektik adalah munculnya cara berpikir metafora dan mendorong siswa pada situasi kreatif. Untuk kelas rendah tentu proses atau tahapan-tahan diatas haruslah menyenangkan dan tidak membebani siswa. Penting bagi guru menguasai keteampilan mengajar agar situasi belajar mengajar tetap kondusif, efektif dan menyenangkan tentunya.

C.     PENUTUP
Permasalahan yang menghambat pemebalajaran geometri di Sekolah Dasar dapat diatasi dengan model atau media yang dapat membelajarakan siswa pada hal-hal menarik dalam geometri. Model sinektik, selain bertujuan mengembangkan kreatifitas juga melatih siswa berpikir kritis dalam menuangkan ide-ide terbaiknya. Merujuk pada teori Van Hiele yang fokus membahas geometri, pembelajaran geometri haruslah mengikuti beberapa tahapan, tujuannya adalah agar siswa mampu memahami materi geometri dengan pemahaman yang dalam dan luas. Adapun penggunaan media Tangram yang berguna sebagai alat pembantu dalam proses pembelajaran, memiliki fungsi yang bersifat menarik dan menantang. Materi Geometri tidak akan lepas dari media, karenanya sebagai guru hendaklah menggunakan media-media yang dapat berperan maksimal dalam membantu tercapainya tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA 
Daswan. 2013. Penerapan Model Sinektik Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif dan Komuikasi Matematis Siswa Tsanawiah. Universitas Pendidikan Indonesia: Repository.com
Munandar, Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta : Gramedia Widiasarana
Permana, Aziz. 2013.Tangram : Media Pembelajaran Matematika.Tersedia di http://eostudent.blogspot.com/ tangram-media-pembelajaran-matematika.html [Online] 03/04/2014
Purnomosidi.Dkk.. 2008. Matematika 2 Untuk SD dan MI. Jakarta : Pusat perbukuan Depdiknas.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Silabus Pelajaran Matematika Kurikulum KTSP 2006
Tim Pengembang Ilmu Pendidikan Fip-upi. 2007. Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan. Bandung : Grasindo
Van De Walle. Jhon A. 2008. Matematika Sekolah Dasar dan Menengah Jilid 2 Pengembangan Pengajaran. Jakarta : Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...