Penerapan Model Sinektik Berbantu Media Tangram dalam Materi
Mengelompokan Bangun Datar di Kelas II
Oleh
Fitria Nuraeni
Abstrak : Penggunaan
media dan proses pembelajaran yang mengandung sedikit kontruktivis menjadi
salah satu penghambat pembalajaran Geometri di Sekolah Dasar. Penggunaan media
kontekstual belumlah cukup utnuk membentuk pemahaman siswa yang bermakna,
meluas dan mendalam. Hal inilah yang kemudian menjadi menarik untuk di telaah
yang akan dibahan dalam artikel ini. Teori Van Hiele yang mengatakan bahawa
pembelajaran geometri haruslah mengikuti serangkaian tahap, hal ini bertujuan
agar siswa mampu memahami materi geometri secara mendalam dan luas. Selain itu
menurut Jhon Van De Walle pembelajaran geometri harus diajarkan dengan benar
karena pemahaman yang luas akan geometri memiliki implikasi yang jelas dan
penting dalam bagian-bagian kurikulum yang lain. Karenanya untuk menciptakan
sebuah pembelajaran yang menarik, menantang dan bermakna penulis menyarankan
menggunakan model Sinektik dengan berbantu media Tangram. Model sienktik dengan
ciri khas nya mengenai pembelajaran kreatif dirasa akan menarik jika ditunjang
juga dengan media Tangram. Media Tangram yang sekilas seperti permainan dapat
dijadikan sebuah media yang menunjang proses berpikir metafora dalam model
Sinektik. Dengan menggunakan model Sinektik berbantu media Tangram diharapkan
dapat memciptakan suasana belajar yang efektif, menyenangkan dan membantu siswa
dalam memahami materi geometri. Khususnya di kelas rendah, model ini dapat
dikemas dengan sedemikian rupa agar tidak terkesan membebani siswa dalam proses
belajar.
A.
PENDAHULUAN
Pembelajaran
Geometri di sekolah dasar tidak akan dan menantang jika hanya mengandalkan
media gambar. Kehadiran benda manipulasi dapat mengundang ketertarikan siswa
untuk belajar lebih baik mengenai konsep geometri. Hal ini berdasarkan terhadap
penemuan penulis di Sekolah dasar mengenai materi Geometri khususnya di kelas 2.
Guru memang menggunakan metode kontekstual dengan memanfaatkan benda nyata
disekeliling siswa, namun jika diperhatikan penggunaan benda nyata kurang dapat
mengkontrruksi siswa dalam memahami materi. Kenapa dikatakan kurang, menurut
penulis kontruktivis tidak cukup menyuruh siswa memahami sendiri materinya melainkan
sebuah bentuk pembelajaran yang mengarahkan siswa pada pemahaman yang bermakna.
Tentu saja dengan proses yang telah dikemas sedemikian rupa sehingga
pengetahuan yang didapat tidak hanya diingat melainkan juga dapat di gunakan
untuk menunjang materi lain.
Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256)
Pembelajaran
yang didasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct
experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau
materi pembelajaran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung.
Menurut
Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan
manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek,
fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer
begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan
sendiri oleh masing-masing siswa.
Sedangkan
menurut teori belajar progresivisme Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) “Memandang
proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian
sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman
siswa”.
Berbicara
mengenai geometri, tentulah ini berkaitan dengan teori dari Jhon Van Hiele yang
memang khusus membicarakan metode pembelajaran geometri. Sebelumnya penulis
berkata bahwa pembelajaran geometri tidak cukup hanya menghadirkan pengalaman
terhadap benda nyata berbentuk, melainkan ada sebuh proses yang harus diikuti
oleh siswa dalam mempelajari geometri. Penadapat penulis ini diperkuat oleh
teori Jhon Van Hiele (dalam Jhon Van D walle, 2007 : 151)
Fitur
yang paling menonjol dari model tersebut adalah hirarki lima tingkat dari cara
dalam pemahaman ide-ide ruang. Tiap tingkatan menggambarkan proses pemikiran
yang diterapkan dalam konteks geometri. Tingkatan-tingkatan tersebut
menjalaskan tentang bagaimana kita berpikir dan jenis-jenis ide geometri apa
yang kita pikirkan, bukannya berapa banyak pengetahuan yang kita miliki.
Perbedaan yang signifikan dari satu level ke level berikutnya adalah
objek-objek pikiran – apa yang mampu kita pikirkan secara geometris.
Mengambil
pendapat dari buku Jhon Van D Walle (2007: 149) “pemahaman yang luas akan
geometri memiliki implikasi yang jelas dan penting dalam bagian-bagian
kurikulum yang lain”. Setelah penulis telaah maksud dari kutipan tersebut,
ternyata memang benar. Pemahaman konsep-konsep geometri sangat membantu
terhadap pemahaman materi lain. Misalnya materi pengukuran yang sejalan dengan
geometri dalam perkembangan rumus luas dan isi serta dalam pemahaman hubungan
luas sekeliling dan permukaan. Atau pada penalaran proposional yang membutuhkan
visualisasi beruba bentuk-bentuk geometris.
B.
PEMBAHASAN
Materi
mengelompokan bentuk bangun datar terdapat dalam Kompetensi dasar yang harus
dimiliki siswa di kelas 2. Materi ini merupakan kelanjutan dan pengembangan
dari materi sebelumnya di kelas 1 yaitu mengenal jenis-jenis bangun datar. Jika sebelumnya siswa hanya
mengenal jenis-jenis bangun datar yang sederhana seperti persegi, segitiga dan
lingkaran, maka di kelas 2 ini siswa di kenalkan dengan bangun datar lainnya
yang masih termasuk pada kelompok segitiga, persegi, dan lingkaran. Bangun
datar tersebut diantaranya jajargenjang, layang-layang dan trapesium yang dapat
dikelompokan menjadi bangun segi empat.
Konsep
yang harus disampaikan adalah bangun datar yang memiliki sisi empat dapat
dikatakan sebagi “segiempat”, dengan jenis-jenisnya yaitu persegi, persegi
panjang, jajargenjang, layang-layang, belah ketupat dan trapesium. Selanjutnya
bangun datar yang memiliki sisi tiga dikatakan “segitiga” dengan jenis-jenis
segitiga sama sisi, segitig sama kaki, segitiga siku-siku dan segitiga
sembarang. Namun untuk materi segitiga tidak terlalu di bahas.
Penulis
menyarankan menggunakan media yang dapat dimanipulasi, bersifat menyenangkan
dan menantang bagi siswa serta tentu saja dapat mengkontruks pemahaman siswa
mengenai geometri lebih jauh dan lebih banyak. Media Tangaram, yaitu merupakan
salah satu permainan edukatif, selain bisa digunakan untuk bermain tangram bisa
digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep dasar matematika. Permainan tangram
cocok untuk diterapkan di sekolah dasar khususnya pada mata pelajaran
matematika karena dengan tangkram guru dapat memperkenalkan berbagai bidang
geometri datar. Guru atau pendidik bisa membuat sendiri permainan ini dari
bahan-bahan yang seadanya, yaitu karton, kayu, atau bahan-bahan lainnya yang
bisa digunakan.
Para ahli berpendapat
bahwa Tangram bermanfaat bagi anak-anak dalam berbagai hal, di antaranya
Bohning and Althouse 1997; Krieger 1991; National Council of Teacher’s
Mathematics 2003 (Permana, Aziz.
2013)
1. Mengembangkan rasa suka terhadap geometri
2. Mampu membedakan berbagai bentuk
3. Mengembangkan perasaan intuitif terhadap bentuk-bentuk dan relasi-relasi
geometri
4. Tangram juga dapat menjadi pengalaman multi-kultural bagi para pelajar. Ada
beberapa kegiatan seni bahasa yang berpusat seputar Tangram, sehingga di sini
terjadi hubungan inter-disipliner bidang ilmu. Adapun bentuk dari tangram
adalah sebagai berikut :
Banyak manfaat lainnya
yang di dapat dari penggunaan tangram sebagai media pembelajaran. Namun hal
yang penulis fokuskan adalah pembentukan sikap kreatif dan kristis dalam
memahami materi. Karenanya penulis menyarankan menggunakan model Sinektik untuk
membuat suasana belajar yang efektif dalam mengkontruksi pemikiran siswa.
Model
sinektik adalah salah
satu model yang
termasuk pada rumpun
pribadi. Model pribadi merupakan
model mengajar yang
berorientasi kepada
perkembangan diri individu, model
ini menitik beratkan
kepada psikologis individual dan pengembangan
kreativitas melalui aktualisasi
diri, kesehatan mental,
dan pengembangan kreativitas. Salah
satu ciri kreativitas
menurut Munandar (1992
: 34) adalah
mempunyai dorongan ingin tahu yang besar dan kemampuan mengembangkan
suatu gagasan. Model Sinektik yang dikembangkan oleh Gordon bertujuan untuk menumbuhkan
kreativitas sehingga diharapkan siswa mampu menghadapi permasalahannya.
Menurut Gordon (Daswan, 2013)sinektis dibangun oleh empat dasar yaitu
pandangan bahwa kreatifitas merupakan aktivitas sehari-hari, kreatifitas
merupakan hal yang dapat dipelajari, kreativitas menunjang semua bidang (seni,
teknologi, pengetahuan dsb.), dan proses penemuan individu di tunjang oleh
penemuan kelompok.
Dalam teknik pengajarannya, sebaiknya guru jangan batasi pengalaman
yang mungkin diperoleh peserta
didik, hormatilah gagasan-gagasan mereka,
hargailah proses belajar mandiri,
hargai perbedaan individu dan toleransi
terhadap situasi kelas yang ribut. Untuk
strategi sinektik, Gordon dalam
Joyce (Tim Pengembang
Ilmu Pendidikan FIP-UPI, 2007)
mengemukakan mengenai dua strategi
prosedur sinektik, yaitu:
1.
Menciptakan
sesuatu yang baru dengan metafora.
2.
Mengakrabkan sesuatu
yang asing melalui
analogi-analogi yang sudah
dikenal dengan baik.
Agar lebih mudah penulis merangkum
tahapan dari kegiatan belajar diatas sesuai tahapan model sinektik.
1.
Masukan
Informasi, pada tahap pertama ini guru memberikan gambaran dasar konsep jenis
bentuk bangun datar yang telah dikenali siswa dan akan dikenal siswa. Siswa
memilih dua buah bentuk bangun datar yang terdapat pada tangram dan
mengungkapkan hal apa yang ia temukan pada dua bangun datar tersebut. Hal ini
juga sejalan dengan teori Van Hiele, yaitu masuk pada tahap visualisasi atau
mengenal bentuk bangun datar.
2.
Proses
metaforik, pada tahap ini siswa dibimbing untuk masuk ke tahap kreatifitas.
Siswa dapat mulai memainkan tangram, yaitu dengan mulai membentuk bangun datar yang diharapkan guru dengan
menggunakan tangram. Dalam hal ini siswa diberi kebebasan memadupadankan bangun
yang ada dalam tangram. Hal ini dilakukan terus menerus hingga siswa mulai
memahami kelompok bangun datar berikut jenis-jenisnya. Tugas guru membimbing
siswa untuk dapat menyelesaikan semua bentuk yang harus dikenali. Dalam teori
van hielle tahap ini termasuk tahap analisis.
3.
Tahap
Analogi langsung, analogi personal dan konflik kempaan merupakan tahan
kreatifitas siswa. Analogi langsung adalah tahap dimana ia dihadapkan dengan
sebuah kondisi langsung guna memancing sebuah gagasan atau ide. Tahap analogi
personal adalah tahap dimana siswa mengambil tindakan secara personal yaitu
mulai menuangkan idenya, proses diaman ia mulai mengkontruks pemahamannya juga
mentransfer pemahamannya. Tahap konflik kempaan adalah tahap dimana ia dihadapkan
dengan konflik yang bertujuan untuk memperluas gagasan atau idenya. Ketiga
tahap ini di kemukakan oleh Gordon dan Joyce (1980:168) mengidentifikasikan
metafora dalam tiga aktivitas yaitu personal analogy, direct analogy,
compressed conflict (konflik kempaan). Pada tahap ini guru dapat memberikan
sebuah tantangan dengan memberikan sebuah sketsa dengan blok-blok pola yang
harus diisi dengan bengun datar yang tepat juga mewarnainya semenarik mungkin.
Siswa dapat berimajinasi sesuai pemahamannya. Tentu setiap individu / setiap
kelompok memiliki pemikiran yang berbeda-beda mengenai jenis bangun datar yang
terdapad dalam pola. Kemudian selanjutnya mengelompokan sesuai jenisnya.
Contoh pola
tersebut seperti : Dan setelah dikerjakan siswa
menjadi :
Nama Bangun Datar
|
Nama
Kelompok Bangun Datar
|
Segitiga
sama sisi
|
Segitiga
|
Jajargenjang
|
Segiempat
|
Belah
ketupat
|
Segi
empat
|
....
|
....
|
Tahap ketiga
ini dapat dikatakan tahap desuksi dalam teori Van Hiele, yaitu siswa muali
memahami kesamaan sifat dalam kelompok bangun datar. Atau mulai memahami
perbedaan masing bentuk bangun datar meskipun belum sampai pada materi
sifat-sifat bangun datar. Tetapi hal ini sudah baik mengingat siswa sudah mulai
memiliki ketertarikan terhadap geometri.
4.
Tahap
mempfokuskan kembali atau feedback, tahap akhir dimana guru mengkoreksi
jawaban dan meluruskan pemahaman yang melenceng sekaligus mengevaluasi hasil
kerja siswa. Tahap terakhir ini dapat dikatakan tahap pengecekan ketepatan
pemahaman siswa. Dalam teori Van Hiele tahapan terakhirnya adalah ketepatan.
Dimana guru mengapresiasi hasil kerja siswa. Ketika siswa tidak sampai pada
pemahaman yang diharapkan. Guru dapat langsung membingbing dengan menyruh siswa
melihat kembali hasil kerjanya dan membingbingnya pada pemahaman yang benar.
Tahapa-tahapan
diatas masih dapat dimodifikasi, yang jelas inti dari model sinektik adalah
munculnya cara berpikir metafora dan mendorong siswa pada situasi kreatif.
Untuk kelas rendah tentu proses atau tahapan-tahan diatas haruslah menyenangkan
dan tidak membebani siswa. Penting bagi guru menguasai keteampilan mengajar
agar situasi belajar mengajar tetap kondusif, efektif dan menyenangkan tentunya.
C.
PENUTUP
Permasalahan
yang menghambat pemebalajaran geometri di Sekolah Dasar dapat diatasi dengan
model atau media yang dapat membelajarakan siswa pada hal-hal menarik dalam
geometri. Model sinektik, selain bertujuan mengembangkan kreatifitas juga
melatih siswa berpikir kritis dalam menuangkan ide-ide terbaiknya. Merujuk pada
teori Van Hiele yang fokus membahas geometri, pembelajaran geometri haruslah
mengikuti beberapa tahapan, tujuannya adalah agar siswa mampu memahami materi
geometri dengan pemahaman yang dalam dan luas. Adapun penggunaan media Tangram
yang berguna sebagai alat pembantu dalam proses pembelajaran, memiliki fungsi
yang bersifat menarik dan menantang. Materi Geometri tidak akan lepas dari
media, karenanya sebagai guru hendaklah menggunakan media-media yang dapat
berperan maksimal dalam membantu tercapainya tujuan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Daswan.
2013. Penerapan Model Sinektik Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kreatif dan
Komuikasi Matematis Siswa Tsanawiah. Universitas Pendidikan Indonesia:
Repository.com
Munandar,
Utami. 1992. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah. Jakarta :
Gramedia Widiasarana
Permana,
Aziz. 2013.Tangram : Media Pembelajaran Matematika.Tersedia di http://eostudent.blogspot.com/ tangram-media-pembelajaran-matematika.html [Online] 03/04/2014
Purnomosidi.Dkk..
2008. Matematika 2 Untuk SD dan MI. Jakarta : Pusat perbukuan Depdiknas.
Rusman.
2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Silabus
Pelajaran Matematika Kurikulum KTSP 2006
Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan Fip-upi. 2007. Ilmu Dan Aplikasi Pendidikan.
Bandung : Grasindo
Van
De Walle. Jhon A. 2008. Matematika Sekolah Dasar dan Menengah Jilid 2
Pengembangan Pengajaran. Jakarta : Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar