PENGGUNAAN MEDIA
CUISENAIRE DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KPK DAN FPB
DI KELAS 5 SEKOLAH DASAR
Teguh Firmansyah, S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)
A.
PENDAHULUAN
KPK dan FPB merupakan
materi yang pertama dipelajari di kelas 4. Namun setelah penulis melakukan
observasi lapangan dengan memberikan pertanyaan seputar masalah yang
berhubungan dengan KPK dan FPB kepada kelas 5 yang mestinya sudah memahami
konsep tersebut seperti: Lampu A menyala setiap 4 detik, Lampu B menyala setiap
3 detik. Pada detik berapa kedua lampu menyala bersama-sama? hanya sebagian
kecil yang mengerti dan mampu menjawab, itupun dengan dibantu arahan-arahan, sedangkan
sebagian siswa yang lain sudah benar-benar lupa apa itu KPK dan FPB. Tentu saja
konsep bilangan khususnya kelipatan persekutuan dan faktor persekutuan tidak
berbekas atau belum mereka pahami. Ini bisa disebabkan pembelajaran pada kelas
4 dahulu tidak menarik ataupun guru kurang tepat dalam menyampaikan konsep baik
dalam segi strategi, metode atau media. Pembelajaran yang baik idealnya meliputi
komponen-komponen tersebut yang tentu saja telah disesuaikan dengan tujuan
pembelajaran, karakteristik siswa, materi pembelajaran dan faktor lainnya.
Materi
KPK dan FPB masih abstrak untuk dipelajari siswa sekolah dasar, untuk itu
materi KPK dan FPB perlu disajikan dalam bentuk yang lebih kongkrit yaitu
dengan menggunakan media. Peran media dalam proses pembelajaran sangatlah
penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang efektif
dapat menumbuhkan sikap ketertarikan siswa terhadap pembelajaran. Dengan adanya
ketertarikan siswa terhadap pembelajaran, diharapkan pemahaman konsep KPK dan
FPB tidak sekedar menjadi pemahaman instrumental atau hanya hafal rumus,
melainkan menjadi pemahaman yang didapatkan dari mengaitkan konsep satu dengan
lainnya.
Sejalan
dengan hal tersebut, Bruner menyatakan hal berikut
sebagaimana dikutip Erna Suwangsih dan Tiurlina (2006:90):
Dalam proses
belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat
peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung
bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang
diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudia oleh anak dihubungkan dengan
keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.
Bruner
juga membagi pemerolehan pengetahuan siswa menjadi tiga tahapan. Pertama tahap
enaktif, dalam tahap ini siswa memanipulasi benda kongkrit untuk mendapatkan
informasi secara langsung. Kedua tahap ikonik, pada tahap ini, informasi yang
didapat ditransformasikan dalam bentuk gambar atau grafik (semi kongkrit). Tahap
ketiga adalah simbolik, dalam tahap ini siswa sudah mampu mengkomunikasikan
pengetahuan yang didapat kedalam symbol-simbol abstrak.
Dalam
bahasan kali ini, penulis hanya akan menjelaskan mengenai pemanfaatan
cuiseneire rods dalam peningkatan pemahaman konsep siswa terhadap KPK dan FPB.
Siswa ditunutut untuk mampu memodifikasi sendiri media yang disediakan, setelah
paham mengenai konsep KPK dan FPB, siswa diinstruksikan untuk mentransformasikan
hasil temuannya itu kedalam bentuk yang lebih abstrak.
B.
PEMBAHASAN
Sebelum
mempelajari KPK dan FPB, ada beberapa prasyarat yang harus siswa pahami seperti
konsep perkalian, pembagian dan bilangan prima. Perkalian akan menjadi dasar
dalam menentukan kelipatan suatu bilangan. Kelipatan merupakan hasil kali suatu
bilangan dengan bilangan asli, sebagai contoh kelipatan 3 = 3x1, 3x2, 3x3, 3x4,
3x5,…. Namun ironisnya masih banyak siswa dalam menentukan kelipatan suatu
bilangan tidak menggunakan konsep perkalian melainkan menggunakan penjumlahan
yang pastinya memakan waktu cukup lama. Konsep perkalian tidak terlepas dari
pembagian, yang selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan faktor suatu
bilangan, tinjau a x b = c dengan a, b dan c adalah anggota bilangan bulat dan
a,b dan c
, maka a dan b adalah faktor dari c. Sebagai contoh,
|
1 x 12 = 12
|
|
2 x 6 = 12
|
|
3 x 4 = 12
|
Dalam
table di atas dapat dilihat bahwa 1, 2, 3, 4, 6, dan 12 merupakan pengali yang menghasilkan bilangan
12 atau bilangan-bilangan tersebut bisa membagi habis 12. Oleh karena itu
faktor dari 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 12. Apabila
siswa sudah memahami prasyarat tersebut, tahap selanjutnya adalah menentukan
KPK atau FPB dari dua buah bilangan atau lebih.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsep KPK dan FPB di
sekolah dasar masih abstrak untuk dipelajari secara langsung. Oleh karena itu kurang
tepat jika guru mengajarkan konsep KPK dan FPB dari segi definisi disertai
rumus untuk menyelesaikannya. Diperlukan benda kongkrit untuk menghantarkan
konsep tersebut kedalam struktur kognitif siswa. Media yang akan dibahas
penulis adalah Cuisenaire Rods.
Cuisenaire
rods merupakan media pembelajaran berbentuk balok kayu yang pertama
diperkenalkan di dunia pendidikan oleh Georges Cuisenaire dari tahun 1950.
Media ini biasanya digunakan dalam operasi hitung bilangan cacah, pecahan atau
pengukuruan panjang. Namun kali ini penulis akan membahas pemanfaatan
Cuisenaire rods dalam pembelajaran KPK dan FPB. Alasan penulis menggunakan
media ini adalah karena kepraktisan dan efisiensi penggunaan.
Untuk
menentukan KPK menggunakan Cuisenaire rods sangatlah mudah, sebagai contoh
siswa akan menentukan KPK dari 4 dan 6, yang perlu dilakukan adalah menyusun
dua baris masing-masing dari 4 dan 6 batang Cuisenaire rods. Karena yang dicari
adalah KPK maka yang harus diperhatikan adalah kelipatan sama yang pertama
ditemukan, atau jumlah batang sama yang ditemukan pertama kali setelah sejumlah
4 batang dan 6 batang ditambahkan pada masing-masing baris.
Gambar 2 di atas menunjukkan kedua
baris mencapai panjang yang sama setelah tersusun sebanyak 12 batang, dengan
kata lain kelipatan sama dari 4 dan 6 yang pertama ditemukan adalah 12.
Untuk menentukan FPB sedikit berbeda
dengan KPK, siswa tidak perlu menambahkan batang pada setiap baris, melainkan
menemukan jumlah batang terpanjang yang
apabila disambungkan dapat menyusun batang yang sama pada barisan. Tentu saja
setiap baris dapat disusun dari 1 batang dengan menyusun sebanyak jumlah batang
tersebut, tetapi yang perlu diperhatikan adalah batang terbanyak yang mampu
membangun barisan. Sebagai contoh siswa akan menentukan FPB dari 4 dan 6, siswa
mencoba menyusun barisan mengunakan batang-batang Cuisenaire rod sehingga
mencapai 4 dan 6 batang.
Gambar 3 barisan 1 menunjukan 2 batang
yang disusun sebanyak 2 kali akan menghasilkan jumlah batang yang sama pada
barisan yaitu 4, barisan 2 menunjukkan 2 batang yang disusun sebanyak 3 kali
akan menghasilkan jumlah batang yang sama yaitu 6. Sedangkan pada gambar 4, barisan 1 menunjukan 3 batang yang disusun
sebanyak 2 kali tidak membangun sebanyak 4 batang melainkan 6 batang Cuisenaire
rod, tetapi pada barisan 2, 3 batang yang disusun sebanyak 2 kali membentuk
jumlah batang yang sama yaitu 6. Kesimpulannya batang terpanjang yang dapat
menyusun kedua barisan adalah 2 batang.
Kegiatan
tadi merupakan rangkain proses manipulasi benda kongkrit yang harus dilakukan
siswa untuk memahami konsep dasar KPK dan FPB. Selanjutnya siswa diarahkan
untuk mentransformasikan hasil temuannya ke bentuk yang lebih abstrak, bahwa
untuk menentukan KPK dari dua bilangan yang harus dilakukan adalah menuliskan
dahulu kelipatan dari dua bilangan tersebut, kemudian cari kelipatan yang sama
terkecilnya. Sedangkan untuk menentukan FPB dari dua bilangan adalah dengan
menentukan faktor-faktor pembaginya seperti yang sudah dijelaskan di atas,
kemudian cari faktor yang sama terbesarnya.
C.
REKOMENDASI
Seorang guru jangan
memandang sebelah mata bahwa konsep dasar KPK dan FPB hanyalah materi yang
mudah diterima oleh siswa karena tingkat kesukarannya rendah dibanding materi
lanjutannya. Justru konsep dasar harus diperkuat terlebih dahulu sebelum
melangkah lebih jauh ke materi selanjutnya, karena konsep dasar merupakan
pondasi yang tertanam dalam struktur kognitif siswa yang selanjutnya digunakan
untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan KPK dan FPB.
Salah
satu cara memperkuat konsep dasar KPK dan FPB adalah dengan menggunakan
Cuisenaire rods. Siswa berperan aktif untuk mengotak-atik media tersebut dan mereka merasakan langsung
hubungan serta keteraturan benda yang sedang dimanipulasinya sehingga proses
pembelajaran akan lebih bermakna
D.
DAFTAR
PUSTAKA
Depdiknas. (2006). Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puslitbang.
Ngapiningsih. (2009). Matematika Khusus Untuk Guru SBI. Klaten: PT Intan Pariwara
Panitia Sertifikasi Guru UPI. (2011). Bahan Ajar Matematika SD/MI. Bandung:
UPI PRESS
Suhe Suhendra dan Suwarma, Mayadiana. (2009). Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI
PRESS
Su Suwangsih, Erna. dan Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung:
UPI PRESS
Wikipedia. (2013). Cuisenaire rods. [Online]. Tersedia:
http://en.wikipedia.org/wiki/Cuisenaire_rods [28
Februari 2013]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar