Pengikut

Senin, 09 Oktober 2017

Penggunaan Media Cuisenaire Dalam Peningkatan Pemahaman Konsep Kpk Dan Fpb Di Kelas 5 Sekolah Dasar

PENGGUNAAN MEDIA CUISENAIRE DALAM PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP KPK DAN FPB
DI KELAS 5 SEKOLAH DASAR

Teguh Firmansyah, S.Pd 
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)


A.      PENDAHULUAN
KPK dan FPB merupakan materi yang pertama dipelajari di kelas 4. Namun setelah penulis melakukan observasi lapangan dengan memberikan pertanyaan seputar masalah yang berhubungan dengan KPK dan FPB kepada kelas 5 yang mestinya sudah memahami konsep tersebut seperti: Lampu A menyala setiap 4 detik, Lampu B menyala setiap 3 detik. Pada detik berapa kedua lampu menyala bersama-sama? hanya sebagian kecil yang mengerti dan mampu menjawab,  itupun dengan dibantu arahan-arahan, sedangkan sebagian siswa yang lain sudah benar-benar lupa apa itu KPK dan FPB. Tentu saja konsep bilangan khususnya kelipatan persekutuan dan faktor persekutuan tidak berbekas atau belum mereka pahami. Ini bisa disebabkan pembelajaran pada kelas 4 dahulu tidak menarik ataupun guru kurang tepat dalam menyampaikan konsep baik dalam segi strategi, metode atau media. Pembelajaran yang baik idealnya meliputi komponen-komponen tersebut yang tentu saja telah disesuaikan dengan tujuan pembelajaran, karakteristik siswa, materi pembelajaran dan faktor lainnya.
            Materi KPK dan FPB masih abstrak untuk dipelajari siswa sekolah dasar, untuk itu materi KPK dan FPB perlu disajikan dalam bentuk yang lebih kongkrit yaitu dengan menggunakan media. Peran media dalam proses pembelajaran sangatlah penting dalam tercapainya tujuan pembelajaran. Media pembelajaran yang efektif dapat menumbuhkan sikap ketertarikan siswa terhadap pembelajaran. Dengan adanya ketertarikan siswa terhadap pembelajaran, diharapkan pemahaman konsep KPK dan FPB tidak sekedar menjadi pemahaman instrumental atau hanya hafal rumus, melainkan menjadi pemahaman yang didapatkan dari mengaitkan konsep satu dengan lainnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Bruner menyatakan hal berikut sebagaimana dikutip Erna Suwangsih dan Tiurlina (2006:90): 
Dalam proses belajar anak sebaiknya diberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Melalui alat peraga yang ditelitinya itu, anak akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang sedang diperhatikannya itu. Keteraturan tersebut kemudia oleh anak dihubungkan dengan keterangan intuitif yang telah melekat pada dirinya.
Bruner juga membagi pemerolehan pengetahuan siswa menjadi tiga tahapan. Pertama tahap enaktif, dalam tahap ini siswa memanipulasi benda kongkrit untuk mendapatkan informasi secara langsung. Kedua tahap ikonik, pada tahap ini, informasi yang didapat ditransformasikan dalam bentuk gambar atau grafik (semi kongkrit). Tahap ketiga adalah simbolik, dalam tahap ini siswa sudah mampu mengkomunikasikan pengetahuan yang didapat kedalam symbol-simbol abstrak.
Dalam bahasan kali ini, penulis hanya akan menjelaskan mengenai pemanfaatan cuiseneire rods dalam peningkatan pemahaman konsep siswa terhadap KPK dan FPB. Siswa ditunutut untuk mampu memodifikasi sendiri media yang disediakan, setelah paham mengenai konsep KPK dan FPB, siswa diinstruksikan untuk mentransformasikan hasil temuannya itu kedalam bentuk yang lebih abstrak.

B.       PEMBAHASAN
Sebelum mempelajari KPK dan FPB, ada beberapa prasyarat yang harus siswa pahami seperti konsep perkalian, pembagian dan bilangan prima. Perkalian akan menjadi dasar dalam menentukan kelipatan suatu bilangan. Kelipatan merupakan hasil kali suatu bilangan dengan bilangan asli, sebagai contoh kelipatan 3 = 3x1, 3x2, 3x3, 3x4, 3x5,…. Namun ironisnya masih banyak siswa dalam menentukan kelipatan suatu bilangan tidak menggunakan konsep perkalian melainkan menggunakan penjumlahan yang pastinya memakan waktu cukup lama. Konsep perkalian tidak terlepas dari pembagian, yang selanjutnya akan menjadi dasar dalam menentukan faktor suatu bilangan, tinjau a x b = c dengan a, b dan c adalah anggota bilangan bulat dan a,b dan c , maka a dan b adalah faktor dari c. Sebagai contoh,
1 x 12 = 12
2 x 6   = 12
3 x 4   = 12
Dalam table di atas dapat dilihat bahwa 1, 2, 3, 4, 6, dan 12  merupakan pengali yang menghasilkan bilangan 12 atau bilangan-bilangan tersebut bisa membagi habis 12. Oleh karena itu faktor dari 12 adalah 1, 2, 3, 4, 6, 12.            Apabila siswa sudah memahami prasyarat tersebut, tahap selanjutnya adalah menentukan KPK atau FPB dari dua buah bilangan atau lebih.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, konsep KPK dan FPB di sekolah dasar masih abstrak untuk dipelajari secara langsung. Oleh karena itu kurang tepat jika guru mengajarkan konsep KPK dan FPB dari segi definisi disertai rumus untuk menyelesaikannya. Diperlukan benda kongkrit untuk menghantarkan konsep tersebut kedalam struktur kognitif siswa. Media yang akan dibahas penulis adalah Cuisenaire Rods.


Cuisenaire rods merupakan media pembelajaran berbentuk balok kayu yang pertama diperkenalkan di dunia pendidikan oleh Georges Cuisenaire dari tahun 1950. Media ini biasanya digunakan dalam operasi hitung bilangan cacah, pecahan atau pengukuruan panjang. Namun kali ini penulis akan membahas pemanfaatan Cuisenaire rods dalam pembelajaran KPK dan FPB. Alasan penulis menggunakan media ini adalah karena kepraktisan dan efisiensi penggunaan.
Untuk menentukan KPK menggunakan Cuisenaire rods sangatlah mudah, sebagai contoh siswa akan menentukan KPK dari 4 dan 6, yang perlu dilakukan adalah menyusun dua baris masing-masing dari 4 dan 6 batang Cuisenaire rods. Karena yang dicari adalah KPK maka yang harus diperhatikan adalah kelipatan sama yang pertama ditemukan, atau jumlah batang sama yang ditemukan pertama kali setelah sejumlah 4 batang dan 6 batang ditambahkan pada masing-masing baris.






            Gambar 2 di atas menunjukkan kedua baris mencapai panjang yang sama setelah tersusun sebanyak 12 batang, dengan kata lain kelipatan sama dari 4 dan 6 yang pertama ditemukan adalah 12.
            Untuk menentukan FPB sedikit berbeda dengan KPK, siswa tidak perlu menambahkan batang pada setiap baris, melainkan menemukan jumlah batang  terpanjang yang apabila disambungkan dapat menyusun batang yang sama pada barisan. Tentu saja setiap baris dapat disusun dari 1 batang dengan menyusun sebanyak jumlah batang tersebut, tetapi yang perlu diperhatikan adalah batang terbanyak yang mampu membangun barisan. Sebagai contoh siswa akan menentukan FPB dari 4 dan 6, siswa mencoba menyusun barisan mengunakan batang-batang Cuisenaire rod sehingga mencapai 4 dan 6 batang.
           
           





Gambar 3 barisan 1 menunjukan 2 batang yang disusun sebanyak 2 kali akan menghasilkan jumlah batang yang sama pada barisan yaitu 4, barisan 2 menunjukkan 2 batang yang disusun sebanyak 3 kali akan menghasilkan jumlah batang yang sama yaitu 6. Sedangkan pada gambar 4,  barisan 1 menunjukan 3 batang yang disusun sebanyak 2 kali tidak membangun sebanyak 4 batang melainkan 6 batang Cuisenaire rod, tetapi pada barisan 2, 3 batang yang disusun sebanyak 2 kali membentuk jumlah batang yang sama yaitu 6. Kesimpulannya batang terpanjang yang dapat menyusun kedua barisan adalah 2 batang.
            Kegiatan tadi merupakan rangkain proses manipulasi benda kongkrit yang harus dilakukan siswa untuk memahami konsep dasar KPK dan FPB. Selanjutnya siswa diarahkan untuk mentransformasikan hasil temuannya ke bentuk yang lebih abstrak, bahwa untuk menentukan KPK dari dua bilangan yang harus dilakukan adalah menuliskan dahulu kelipatan dari dua bilangan tersebut, kemudian cari kelipatan yang sama terkecilnya. Sedangkan untuk menentukan FPB dari dua bilangan adalah dengan menentukan faktor-faktor pembaginya seperti yang sudah dijelaskan di atas, kemudian cari faktor yang sama terbesarnya.   


C.      REKOMENDASI
Seorang guru jangan memandang sebelah mata bahwa konsep dasar KPK dan FPB hanyalah materi yang mudah diterima oleh siswa karena tingkat kesukarannya rendah dibanding materi lanjutannya. Justru konsep dasar harus diperkuat terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh ke materi selanjutnya, karena konsep dasar merupakan pondasi yang tertanam dalam struktur kognitif siswa yang selanjutnya digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan KPK dan FPB.
Salah satu cara memperkuat konsep dasar KPK dan FPB adalah dengan menggunakan Cuisenaire rods. Siswa berperan aktif untuk mengotak-atik  media tersebut dan mereka merasakan langsung hubungan serta keteraturan benda yang sedang dimanipulasinya sehingga proses pembelajaran akan lebih bermakna
D.      DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Puslitbang.
Ngapiningsih. (2009). Matematika Khusus Untuk Guru SBI. Klaten: PT Intan Pariwara
Panitia Sertifikasi Guru UPI. (2011). Bahan Ajar Matematika SD/MI. Bandung: UPI PRESS   
Suhe     Suhendra dan Suwarma, Mayadiana. (2009). Kapita Selekta Matematika. Bandung: UPI PRESS
Su        Suwangsih, Erna. dan Tiurlina. (2006). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS
Wikipedia. (2013). Cuisenaire rods. [Online]. Tersedia: http://en.wikipedia.org/wiki/Cuisenaire_rods [28 Februari 2013]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...