Keberanian Juga perlu Pendidikan
Masih ingtkah kasus seorang bocah yang ditangkap warga karena mencuri
sendal atau mencoba membobol kencleng mesjid, atau bocah yang berani melaporkan
suatu tindak kejahatan yang dialaminya. Keduanya tentu memerlukan suatu sikap
berani, entah itu berani berbuat salah atau berani berbuat benar. Sikap
“berani” inilah yang harus mulai diperhatikan para pendidik, pendidikan yang
salah dapat menjadikan sikap berani menjadi salah, namun pendidikan yang tepat
tentu akan melahirkan sikap berani yang benar.
Keberanian merupakan salah satu karakter yang dicanangkan dalam pendidikan berkarakter yang sekarang sedang hangat diperbincangkan, tentunya perlu perhatian khusus untuk membangun keberanian seorang siswa karena salah-salah bukannya berani membela kebenaran justru malah berani menutupi kebenaran. Pendidikan bukan proses dadakan. Begitu pula menjadi berani, perlu proses dan pendidikan didalamnya.
Keberanian diperlukan karena dengan modal berani siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Keberanian pun dapat menghilangkan ketakutan, atau ketidakpercaya dirian siswa yang akhirnya menjadi hambatan siswa dalam belajar. Keberanian yang benar akan lahir dari pendidikan yang benar, kasih sayang yang cukup, serta merupakan anugrah dari Allah untuk dijaga keberadaannya.
Sejarah islam telah mencatat panglima-panglima muda gagah berani dan berakhlaq mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid Bin Tsabit, serta Usamah yang dimana semuanya merupakan murid didikan Muhammad SAW. Berarti pendidikan keberanian telah dicontohkan oleh Rasulullah jauh sebelum kita.
Metode berani ini sudah diperaktekan Rasul terhadap siswanya. Rasul menjadikan setiap kegagalan siswanya sebagai bagian dari keberanian, memberikan reward kepada siswanya, memberikan tanggung jawab serta membela siswanya dengan cara yang benar. Metode yang dicontohkan Rasul tersebut dapat melahirkan siswa yang berani, dalam artian berani untuk benar.. Selain siswa yang dituntut berani guru pun dituntut untuk menjadi guru pemberani. Hanya sebuah lelucon jika seorang guru menyuruh siswanya berani berbuat benar namun gurunya sendiri berani menutupi kebenaran. Pendidikan keberanian ini jelas harus sudah dimiliki seorang guru sehingga terjalin kerjasama yang baik karena kedua pelaku pendidikan baik siswa maupun guru sama-sama memiliki keberanian untuk menjadi benar dan memelihara kertakutan pada tempatnya. Inilah pendidikan super yang sudah mulai dilupakan, sehingga terjadi kemerosotan moral pendidikan.
Keberanian merupakan salah satu karakter yang dicanangkan dalam pendidikan berkarakter yang sekarang sedang hangat diperbincangkan, tentunya perlu perhatian khusus untuk membangun keberanian seorang siswa karena salah-salah bukannya berani membela kebenaran justru malah berani menutupi kebenaran. Pendidikan bukan proses dadakan. Begitu pula menjadi berani, perlu proses dan pendidikan didalamnya.
Keberanian diperlukan karena dengan modal berani siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Keberanian pun dapat menghilangkan ketakutan, atau ketidakpercaya dirian siswa yang akhirnya menjadi hambatan siswa dalam belajar. Keberanian yang benar akan lahir dari pendidikan yang benar, kasih sayang yang cukup, serta merupakan anugrah dari Allah untuk dijaga keberadaannya.
Sejarah islam telah mencatat panglima-panglima muda gagah berani dan berakhlaq mulia seperti Ali bin Abi Thalib, Zaid Bin Tsabit, serta Usamah yang dimana semuanya merupakan murid didikan Muhammad SAW. Berarti pendidikan keberanian telah dicontohkan oleh Rasulullah jauh sebelum kita.
Metode berani ini sudah diperaktekan Rasul terhadap siswanya. Rasul menjadikan setiap kegagalan siswanya sebagai bagian dari keberanian, memberikan reward kepada siswanya, memberikan tanggung jawab serta membela siswanya dengan cara yang benar. Metode yang dicontohkan Rasul tersebut dapat melahirkan siswa yang berani, dalam artian berani untuk benar.. Selain siswa yang dituntut berani guru pun dituntut untuk menjadi guru pemberani. Hanya sebuah lelucon jika seorang guru menyuruh siswanya berani berbuat benar namun gurunya sendiri berani menutupi kebenaran. Pendidikan keberanian ini jelas harus sudah dimiliki seorang guru sehingga terjalin kerjasama yang baik karena kedua pelaku pendidikan baik siswa maupun guru sama-sama memiliki keberanian untuk menjadi benar dan memelihara kertakutan pada tempatnya. Inilah pendidikan super yang sudah mulai dilupakan, sehingga terjadi kemerosotan moral pendidikan.
Mengutip dari
pendapat Dr.
H. Buchari Alma, M.Pd.(2011) dalam artikelnya “Tanpa meningkatkan
keberanian, mutu pendidikan itu tetap rendah bahkan dapat merosot terus. Jika
kita mulai menerapkan konsep keberanian itu dalam pendidikan meski
variabel-variabel lainnya tetap seperti sekarang, maka kelemahan esensial dari
pendidikan itu akan teratasi, dan akan memberi potensi kekuatan terhadap
variabel-variabel lainnya.”
Benar adanya apa
yang dikatakan Dr. H. Buchari Alma, M.Pd, bahwa pendidikan
kita sedang membutuhkan variabel keberanian dalam setiap bentuk pendidikannya. Keberanian
merupakan sifat kepahlawanan dalam diri manusia, tak ubahnya diantara
sifat-sifat manusiawi lainnya, sering sifat keberanian mengalami pasang surut
dalam konteks ketika ia harus dihadapkan kepada suatu keadaan tertentu.
Sudah barang tentu, banyak hal yang menyebabkan nyali menjadi ciut ketika
dihadapkan pada sesuatu hal yang baru.
Harus diakui
bahwa pendidikan super ala rasulullah berhasil mecetak murid-murid pemberani.
Mereka kemudian hari dicatat sejarah sebagai orang-orang yang mencetak
kegemilangan berkat nyali yang mengagumkan. Keberanian itu tidak hadir begitu
saja pada diri anak. Rasulullah menyalakan nyali anak didiknya melalui proses
panjang dan melalui pembinaan berkelanjutan.
Sebuah
pembaharuan jika pendidikan kita dilengkapi dengan pendidikan keberanian.
Membuka paradigma baru bahwa kita harus berani jika kita ingin maju. Banyak
metode yang dapat diterapkan guna memunculkan keberanian murid dalam proses
belajar. Dan keberanian ini dapat di kembangkan lebih jauh untuk memaksimalkan
faktor-faktor lain dalam proses belajar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar