Pengikut

Jumat, 15 Januari 2016

Pendekatan Scientific (Ilmiah)



PENERAPAN PENDEKATAN ILMIAH MODEL PENEMUAN DALAM MATERI SATUAN PANJANG DI KELAS IV
Fitria Nuraeni 
Abstrak : Miskonsepsi dalam pembelajaran materi satuan panjang pada umumnnya adalah ketika siswa keliru mengubah satuan panjang  menjadi satuan panjang yang dikehandaki. Kesalahan ini bermula dari ketidaktepatan siswa memahami konsep satuan panjang. Mengutip dari pendapat pengikut aliran kontruktivis, Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 255) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa. Kurikulum 2013 mengamanatkan esensi pendekatan ilmiah dalam pembelajaran. Pendekatan ilmiah (scientific approach) diyakini sebagai titian emas perkembangan dan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan peserta didik. Pembelajaran berbasis pendekatan ilmiah itu lebih efektif hasilnya dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. Pendekatan ini bercirikan penonjolan dimensi pengamatan, penalaran, penemuan, pengabsahan, dan penjelasan tentang suatu kebenaran. Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran sehingga miskonsepsi dapat berkurang. Penggunaan media kongkret juga dapat membantu mengkonstruk pemahaman siswa. Media digunakan sebagi sarana pengamatan yang dapat mengantarkan siswa mengabstraksi pemahamannya. Dengan melalui proses yang terstuktur dan alamiah siswa dapat menjadikan pengalamannya sebagai bentuk rekonstruksi terhadap pemahamannya.

A.    PENDAHULUAN
Kurikulum 2013 belum sepenuhnya dapat terealisasi. Hanya baru beberapa sekolah yang sudah menggunakan kurikulum 2013. Kendala yang masih sering terjadi adalah belum maksimalnya pendekatan ilmiah (Scientific Approach) dalam penerapan kurikulum 2013. Terkadang guru masih terjebak dalam persoalan teknis. Dengan hadirnya kurikulum 2013 terutama menggunakan pendekatan ilmiah maka tugus guru semakin kompleks, dalam artian guru harus dapat menciptakan suasana belajar yang dapat membuat siswa lebih aktif. Pendekatan ilmiah sangat bertolak belakang dengan proses belajar konvensional, dimana proses belajar lebih didominasi para siswa, guru hanya bertugas sebagai perancang kegiatan, pembimbing dan fasilitator dalam proses belajar. Perubahan atsmosfer dari konvensional menuju ilmiah atau dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada siswa membuat sebagian guru masih belum dapat mengimplementasikannya, meskipun mereka telah mengetahui bahwa pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 sudah dapat dikatakan bagus.
Dalam kurikulum 2013,  pelaksanaan pemebelajaran bersifat  terpadu (integrated)  atau tematik. Semuanya telah terancang dalam buku tema, guru tidak berkenan mengubah tema, namun diberi keluluasaan dalam merancang pembalajarannya. Namun merancang pembelajaran bukanlah hal mudah, perancangan membutuhkan landasan-landasan yang kuat dan didasarkan dari hasil pemikiran yang mendalam. Pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dalam kurikulum 2013 memiliki posisi dan potensi yang sangat strategis dalam keberhasilan proses pendidikan di SD. Hal ini terjadi karena pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah dilandasi oleh teori belajar yang telah diuji keefektifannya. Dengan posisi seperti itu, maka pembelajaran tematik dengan pendekatan ilmiah membutuhkan berbagai landasan yang kokoh dan kuat. Perlu  diperhatikan juga oleh para guru pada saat merencanakan, melaksanakan, dan menilai proses dan hasil pembelajaran. Beberapa teori yang dapat melandasi pendekatan tersebut diantaranya teori belajar progresivisme dan kontrtuktivisme. Teori belajar progresivisme menurut  Jhon Dewey (Rusman, 2010 : 253) memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemeberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), dan memperhatikan pengalaman siswa.
Dalam proses belajar siswa dihadapkan pada permasalahan yang menuntut pemecahan. Untuk memecahkan masalah tersebut, siswa harus memilih dan menyususn ulang pengetahuan dan pengalaman belajar yang telah dimilikinya. Teori belajar kontruktivis memenurut Piaget (Rusman, 2010 : 256) pembelajaran yang disasari aliran kontruktivisme melihat pengalaman langsung siswa (direct experience) sebagai kunci dalam pembelajaran. Dalam hal ini, isi atau materi pembelajran perlu dihubungkan dengan pengalaman siswa secara langsung. Menurut Piaget (Rusman, 2010 : 257) pengetahuan adalah hasil kontruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkinstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterprestasikan sendiri oleh masing-masing siswa.
B.     PEMBAHASAN
Materi pengukuran dengan sub materi yang penulis pilih yaitu mengenai hubungan antar satuan panjang di kelas 4, sebenarnya telah dikenalkan di kelas 3, namun hanya sebatas pengenalan satuan panjang dan belum pada penggunaan satuan panjang dalam konteks yang lebih kompleks. Di kelas 4, barulah ada indikator siswa harus mampu menggunakan satuan panjang yang berbeda dalam satu pemecahan masalah, misalnya contoh soal “jalan yang memiliki panjang 1 km akan ditanami pohon dengan jarak setiap pohonnya 25 meter, berapakah banyak pohon yang ditanam”. Soal diatas menuntut siswa untuk menguasai konsep mengkonversi satuan dengan menggunakan tangga satuan panjang. Atau siswa harus mengubah satuan panjang yang berbeda-beda menjadi satuan yang telah ditentukan melalui operasi satuan panajng, misalnya 3 km + 8 dam – 20 hm = ... m. Pada intinya siswa harus menguasai tangga satuan panjang untuk dapat mengkonversikan setiap satuan menjadi satuan yang setara. Dalam buku Asiknya belajar Matematika kelas 4 karangan Sumarmi dengan kurikulum KTSP 2006 materi satuan panjang disampaikan dengan langkah pertama mengingatkan siswa pada materi satuan panjang yang telah dipelajarinya dulu di kelas 3 melalui tangga satuan panjang, berikut gambar tangga satuan panjang .
 Selanjutnya setelah disajikan gambar, guru mengajak siswa untuk berlatih mengubah satuan melalui operasi satuan panjang. Seperti contoh soal yang penulis jelaskan diatas. Konsep yang harus dikuasai siswa adalah jika mengubah (mengkonversikan) satuan panjang terbesar ke satuan panjang terkecil maka setiap turun satu satuan harus dikalikan 10 (kelipatan 10), sedangkan jika ingin mengubah satuan terkecil ke satuan terbesar maka setiap naik satu satuan harus dibagi 10.
Konsep satuan panjang baik dalam kurikulum KTSP maupun Kurikulum 2013 tetaplah sama, namun dalam pembentukan pemahaman konsep terlihat jelas perbedaannya. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas materi satuan panjang dalam pandangan kurikulum 2013. Jadi pada saat penanaman konsep penulis akan melihat dari sudut pandang kurikulum 2013.
Untuk mendukung proses pembelajaran tentu dibutuhkan sebuah media pembelajaran, media tersebut haruslah mampu membantu siswa membangun pemahamannya. Khusus untuk materi satuan panjang, penulis akan menggunakan pendekatan ilmiah, otomatis media yang digunakan mendukung proses penemuan konsep oleh siswa. Dalam buku Tema Panduan untuk Guru, media yang disarankan adalah benda kongkret seperti penggaris dengan beragam satuan panjang, misalnya satuan milimeter (mm), satuan centimeter (cm), satuan desimeter (dm) dan satuan meter (m). Media ini nantinya akan digunakan siswa untuk melakukan pengamatan terhadap satuan panjang tersebut guna menemukan konsep kelipatan 10 dalam tangga satuan panjang.
Media lainnya yang dapat mendukung suksesnya pendekatan ilmiah adalah peta, sesuai dengan materi yang terdapat di dalam Buku Tema Pahlawanku dengan kurikulum 2013, penggunaan peta rute Anyer dan Panarukan membantu siswa dalam pemecahan masalah. Selanjutnya gambar tangga satuan pun diperlukan, hal ini berguna saat siswa mulai mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan yang penulis gunakan dalam materi satuan panjang adalah pendekatan ilmiah (scientific approach), seperti yang telah penulis singgung sebelumnya,  proses belajar haruslah mampu memberikan pengalaman belajar yang dapat merekonstruksi pemahaman siswa terhadap materi yang sedang dipelajari. Kurikulum 2013 menekankan pada dimensi pedagogik modern dalam pembelajaran, yaitu menggunakan pendekatan ilmiah.  Pendekatan ilmiah (scientific appoach) dalam pembelajaran sebagaimana dimaksud meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan, dan mencipta untuk semua mata pelajaran. Untuk mata pelajaran, materi, atau situasi  tertentu, sangat mungkin pendekatan ilmiah ini tidak selalu tepat diaplikasikan secara prosedural. Pada kondisi seperti ini, tentu saja proses pembelajaran harus tetap menerapkan nilai-nilai atau sifat-sifat ilmiah dan menghindari nilai-nilai atau sifat-sifat nonilmiah.
Menurut Faiq (http://penelitiantindakankelas.blogspot.com), Proses pembelajaran yang mengimplementasikan pendekatan scientific akan menyentuh tiga ranah, yaitu: sikap (afektif), pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor). Dengan proses pembelajaran yang demikian maka diharapkan hasil belajar melahirkan peserta didik yang produktif, kreatif, inovatif, dan afektif melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Ketiga ranah tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Ranah sikap menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu mengapa.”
2.     Ranah keterampilan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu bagaimana”.
3.     Ranah pengetahuan menggamit transformasi substansi atau materi ajar agar peserta didik “tahu apa.”
Hasil akhirnya adalah peningkatan dan keseimbangan antara kemampuan untuk menjadi manusia yang baik  (soft skills) dan manusia yang memiliki kecakapan dan pengetahuan untuk hidup secara layak (hard skills) dari peserta didik yang meliputi aspek kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Dalam bukunya, Trianto (2011 : 54) Pendekatan Scientific dalam pelajaran tertentu tidak sama dengan pelajaran lainnya. Dalam pelajaran Matematika pendekatan Scientific (5M) –nya adalah : Mengamati, Menanya, Menalar, Mencoba, dan Menyajikan (Mempublikasikan). Dalam pendekatan scientific ada tiga model pembelajaran yang digunakan, yaitu discovery learning (penemuan), project based learning (berbasis proyek), dan problem based learning (berbasis masalah).
Dengan Pendekatan Scientific siswa dapat berpikir kritis, analitis, dan tepat dalam mengidentifikasi, memahami, memecahkan masalah, dan mengaplikasikan materi pembelajaran. Selain itu, siswa juga mampu menerapkan, dan mengembangkan pola berpikir yang rasional dan objektif dalam merespon materi pembelajaran. Dalam materi satuan panjang penulis akan memakai model penemuan (discovery learning), tahapan proses pembelajranya sebagai berikut :
1.      Mengamati
Dalam matematika, hal yang diamati berupa fakta. Dalam buku Tema Pahlawanku Kurikulum 2013, sebelum menuju konsep satuan panjang siswa diarahkan untuk mengamati Peta Rute Anyer sampai Panarukan. Siswa harus mencatat hal-hal penting dari hasil pengamatan itu. Misalnya jarak dari Anyer sampai Panarukan.
2.      Menanya
Untuk menumbuhkan pola berpikir yang rasional pada siswa, maka dapat dimulai dengan pertanyaan. Misalkan guru bertanya jika sepanjang rute Anyer sampai Panaruka akan ditanami pohon asem dengan jarak 25 m setiap pohonnya, berapa banyak pohon asem yang dapat ditanam. Guru memberikan siswa untuk mengerjakan sesuai penalarannya. Guru menanpung semua jawaba siswa.
3.      Menalar
Menalar berarti melakukan proses berpikir secara logis dan sistematis atas fakta-fakta yang ada untuk mendapatkan suatu kesimpulan. Untuk proses penalaran guru mengajak siswa bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan mengenai pengamatan satuan panjang. Setiap kelompok harus dapat membuktikan bahwa 1m=100 cm, 1 dm=10 cm, 1m= 10dm dengan bantuan media yang telah disediakan guru.
4.      Mencoba
Mencoba dapat diartikan sebagai menunjukkan atau membuktikan. Misalnya dari kesimpulan yang di dapat dari penalaran tadi akan dibuktikan bahwa kesimpulan yang diambil itu benar dengan cara memasukkan nilai-nilai yang diperlukan. Pada tahap ini siswa bereksplorasi menemukan hubungan antar satuan panjang.
5.      Menyajikan
Setelah dilakukan pembuktian terhadap kesimpulan dari penalaran yang di dapat tadi, maka kesimpulan akhirnya dapat disajikan atau dipublikasikan. Jika siswa belum mencapai kesimpulan yang diharapkan, maka guru mengingatkan untuk kembali mengkaji hasil pengamatannya.

Untuk pemahaman konsep tangga satuan, guru dapat mengulangi langkah diatas dengan media tangga satuan panjang, diawali dengan pengamatan, menjawab pertanyaan, mencoba, menalar, dan menyajikannya.

C.     PENUTUP
Pengertian penerapan pendekatan ilmiah dalam pembelajaran tidak hanya fokus pada bagaimana mengembangkan kompetensi siswa dalam melakukan observasi atau eksperimen, namun bagaimana mengembangkan pengetahuan dan keterampilan berpikir sehingga dapat mendukung aktivitas    kreatif dalam berinovasi atau berkarya. 
Pengalaman dalam belajar sangatlah berpengaruh terhadap pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajarinya. Penting bagi seorang guru menciptakan sebuah proses belajar yang dapat memberikan pengalaman nyata yang dapat mengantarkan siswanya mengabstraksi pemahamannya.
Pendekatan ilmiah dengan model penemuan akan memberikan pengalaman dalam belajar, menghargai setiap usaha siswa dalam menemukan sebuah pemahaman lalu mengkondisikannya untuk terus berada dalam pemahaman yang benar.
DAPTAR PUSTAKA
Trianto. 2011. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik: Konsep, Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya. Jakarta : Prestasi Pustaka Raya.
Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
Buku Panduan Guru. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Buku Panduan Siswa. 2013. Tema 5 Pahlawanku Tematik Terpadu Kurikulum 2013 untuk SD / MI kelas IV. Jakarta : KEMENDIKBUD.
Sumarmi. Mas Titing dkk. 2009. Asyiknya Belajar Matematika untuk SD/MI kelas IV. Jakarta : Pusat Perbukuan DEPDIKNAS.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...