Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di
Kelas III
(Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan
Model Sinektik)
Abstrak : Matematika merupakan
salah satu mata pelajaran yang diajarkan mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi,
selain sebagai sumber dari ilmu yang lain, matematika juga merupakan sarana berpikir logis, analis, dan sistematis.
Sebagai mata pelajaran yang berkaitan dengan konsep-konsep yang abstrak, maka
dalam penyajian materi pelajaran, matematika harus dapat disajikan lebih
menarik dan sesuai dengan kondisi dan keadaan siswa.. Pendekatan open ended dalam pembelajaran matematika
memberikan peluang yang besar untuk mengembangkan kreatifitas dan cara berpikir
siswa dengan memberikan stimulus berupa masalah terbuka kepada siswa. Model sinektik merupakan salah satu model yang terkenal
dalam ilmu bahasa, namun dalam hal ini penulis merancang sebuah model
pembelajaran sinektik dalam pelajaran matematika. Hal ini sejalan dengan
pendapat Joyce dan Weil (1980:182) bahwa model sinektik merupakan strategi
pengajaran yang baik sekali untuk mengembangkan kemampuan kreatif (Joyce dan
Weil, 1980:182). Kegiatan pembelajaran harus mengarah dan membawa siswa dalam
menjawab masalah dengan banyak cara serta mungkin juga dengan banyak jawaban
(yang benar), sehingga merangsang kemampuan intelektual dan pengalaman siswa
dalam proses menemukan sesuatu yang baru. Materi operasi hitung campuran dapat dikemas menjadi sesuatu yang menarik
dan menantang dengan didukung media yang menfasilitasi peserta didik untuk
kreatif. Hasil yang diharapkan adalah berkembangnya kreatifitas siswa dalam
pembelajaran
PENDAHULUAN:
Dalam upaya
mengembangkan potensi anak
didik, guru memegang
peran penting dan berfungsi sebagai kunci
utama dalam
proses belajar di
sekolah. Tanggung jawab
guru sangatlah berat, sebab
guru sebagai pendidik
haruslah mampu mencetak anak-anak bangsa menjadi penerus masa depan bangsa
ini. Seorang guru haruslah mampu menciptakan suasana belajar yang mendorong
siswa aktif dan semangat dalam menerima pembelajaran, termasuk didalamnya guru
harus mampu mendorong anak berpikir kreatif yang tak lain untuk menghasilkan
proses belajar bermakna. Masa anak-anak adalah masa kreatif, masa
mengeksplorasi, masa mencari tahu, dan proses belajar adalah proses
pengembangan dan pengoptimalan masa-masa tersebut. Model proses belajar mengajar
bercirikan peningkatan kemampuan berfikir kreatif dan
kritis yang dihasilkan
melalui pendidikan atau
pelatihan terbukti kondusif dan
efektif untuk meningkatkan
berfikir kreatif dan
berfikir kritis siswa.
Menurut Munandar (1992 :
45) kreatifitas atau
berfikir kreatif merupakan
suatu bentuk pemikiran yang kurang
mendapat perhatian dalam
pendidikan formal. Kebanyakan sekolah
yang utama dilatih adalah
pengetahuan, ingatan dan
kemampuan berfikir logis
atau penalaran, yaitu kemampuan
menemukan satu jawaban
yang paling tepat
terhadap masalah yang diberikan
berdasarkan informasi yang
tersedia. Di samping
itu sistem pembelajaran yang dilakukan
di Indonesia adalah sistem klasikal. Sepakat dengan pendapat Munandar, penulis merasa proses
pembelajaran khususnya pelajaran matematika dalam hal pemecahan masalah hanya
diarahkan pada penggunaan satu cara saja, hal ini tentu saja mematikan
kreatifitas siswa dan tidak mengembangkan pola berpikir siswa dalam memecahkan
masalah.
PEMBAHASAN:
Berdasarkan kurikulum KTSP 2006 mengenai materi bilangan,
terdapat standar kompetensi dimana siswa mampu melakukan operasi hitung
bilangan sampai tiga angka dengan kompetensi dasar siswa mampu melakukan
operasi hitung campuran. Dengan prasyarat siswa telah menguasai konsep
penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian. Kebanyakan guru mengajarkan
materi operasi hitung campuran ini dengan cara tradisional yaitu melakukan
perhitungan yang dilakukan dengan cara standar dimana siswa hanya menjawab soal
yang berisi operasi hitung yang telah ditentukan dan memiliki jawaban pasti (close
problem). Cara tersebut memang tidak salah selama masih dalam proses
penanaman konsep, namun terkadang terjadi kondisi statis dimana proses tersebut
berlangsung berulang-ulang tanpa memberikan sebuah pengalaman yang bermakna. Materi
operasi hitung campuran dikelas tiga sebenarnya sangat membuka peluang
kreatifitas siswa. Ketika seorang siswa dikatakan telah mampu menguasai syarat
operasi hitung campuran seperti sifat komutatif (penukaran), sifat asosiatif
(pengelompokan) dan sifat distributif (penyebaran). Meskipun dengan penalaran
yang sederhana namun kesederhanaan pola penalaran siswa tersebut dapat
dikembangkan dalam proses pembelajaran tindak lanjut. Proses tindak lanjut
inilah yang harus dikemas menjadi sebauh proses belajar yang mengarahkan pada
pengembangan kreatifitas bagi siswa yang telah memahami konsep juga sebagai
sarana penemuan konsep bagi siswa yang belum memahami konsep operasi hitung
campuran. Oleh karena itu mau tak mau seorang guru harus mampu menciptakan
suasana belajar yang mendukung pengembangan kreatifitas juga pola berfikir siswa.
Pendekatan Open Ended dan Model Sinektik diharapkan mampu membuat suasana
belajar efektif dan kreatif pada materi bilangan mengenai operasi hitung
campuran.
Banyak model
pengajaran yang dapat
dipergunakan, Bruce Joyce
dan Marsha Weill (1980 13) mengemukakan
dua puluh lima
buah model, Salah satu
model pengajaran yang dikemukakan
oleh Bruce Joyce dan Marsha Weill (1986 : 159) adalah model
sinektik. Model sinektik ini masuk pada rumpun
model pribadi. Penulis memilih model
sinektik ini dengan alasan
bahwa model ini merupakan
model pengajaran yang baru yang berguna untuk mengembangkan kreativitas
siswa. Hal ini juga sejalan dengan teori belajar Ausubel mengenai belajar bermakna,
teori ini mengatakan bahwa proses belajar haruslah mengantarkan siswa pada
tahap kebermaknaan. Siswa tak hanya menerima namun juga menemukan serta tak
hanya menghafal namun juga memaknai pembelajaran tersebut. Menurut Suherman dkk (2003:124) mengemukakan bahwa dalam kegiatan
matematik siswa haruslah memenuhi ketiga aspek
berikut:
1. Kegiatan siswa harus terbuka .
Yang dimaksud kegiatan siswa harus terbuka
adalah kegiatan pembelajaran harus mengakomodasi kesempatan siswa untuk
melakukan segala sesuatu secara bebas sesuai kehendak mereka.
2. Kegiatan matematika merupakan ragam berpikir.
Kegiatan matematik adalah kegiatan yang
didalamnya terjadi proses pengabstraksian dari pengalaman nyata dalam kehidupan
sehari-hari ke dalam dunia matematika atau sebaliknya.
3. Kegiatan siswa dan kegiatan matematika merupakan satu kesatuan.
Dalam pembelajaran matematika, guru diharapkan
dapat mengangkat pemahaman dalam berpikir matematika sesuai dengan kemampuan
individu. Guru bisa membelajarkan siswa melalui kegiatan-kegiatan matematika
tingkat tinggi yang sistematis atau melalui kegiatan-kegiatan matematika yang
mendasar untuk melayani siswa yang kemampuannya rendah. Pendekatan uniteral semacam ini dapat dikatakan terbuka terhadap
kebutuhan siswa ataupun terbuka terhadap ide-ide matematika.
Pada dasarnya, pendekatan Open-Ended
bertujuan untuk mengangkat kegiatan kreatif siswa dan berpikir matematika
secara simultan. Oleh karena itu hal yang perlu diperhatikan adalah kebebasan
siswa untuk berpikir dalam membuat progres pemecahan sesuai dengan kemampuan,
sikap, dan minatnya sehingga pada akhirnya akan membentuk intelegensi
matematika siswa. Pendekatan ini tentunya menuntut siswa untuk berpikir kreatif, kritis
terhadap masalah dan menciptakan alternatif jawaban sesuai pengalaman belajarnya.
Kerangka dasar dari pendekatan ini dimasukan
dalam model sinektik agar dapat terealisasikan dalam proses belajar mengajar. Model
sinektik adalah salah
satu model yang
termasuk pada rumpun
pribadi. Model pribadi
merupakan model mengajar
yang berorientasi kepada perkembangan diri
individu, model ini
menitik beratkan kepada
psikologis individual dan pengembangan
kreativitas melalui aktualisasi
diri, kesehatan mental,
dan pengembangan kreativitas. Salah satu
ciri kreativitas menurut
Munandar (1992 :
34) adalah mempunyai dorongan ingin tahu yang besar dan
kemampuan mengembangkan suatu gagasan.
Model
sinektik adalah model
yang pertama kali
dirancang oleh William
J.J. Gordon dalam bidang
industri. Gordon mengembangankannya untuk
keperluan aktivitas
individu dalam kelompok
agar mereka mampu
memecahkan masalah (problem
solver), atau untuk
mengembangkan produksi (product
developmen). Model Sinektik
yang telah berkembang di dunia industri,
akhirnya oleh Gordon dikembangkan
untuk digunakan di
sekolah, tujuannya yaitu untuk
menumbuhkan kreativitas sehingga
diharapkan siswa mampu menghadapi permasalahannya. Menurut Gordon (1980 : 166 – 167) sinektis dibangun oleh empat dasar
yaitu pandangan bahwa kreatifitas merupakan aktivitas sehari-hari, kreatifitas
merupakan hal yang dapat dipelajari, kreativitas menunjang semua bidang (seni,
teknologi, pengetahuan dsb.), dan proses penemuan individu di tunjang oleh
penemuan kelompok.
Dalam teknik pengajarannya, Gani
dalam Suryaman (1990
: 10) menyarankan hal- hal
sebagai berikut ;
Jangan batasi pengalaman
yang mungkin diperoleh peserta
didik, hormatilah gagasan-gagasan mereka,
hargailah proses belajar mandiri,
jangan menakut-nakuti mereka
dengan ujian, hargai
perbedaan individu dan toleransi terhadap situasi kelas yang ribut.
Untuk strategi sinektik, Gordon dalam Joyce (1980 :
1970) mengemukakan
mengenai
dua strategi prosedur sinektik, yaitu :
1. Menciptakan sesuatu yang baru dengan metafora.
2. Mengakrabkan
sesuatu yang asing
melalui analogi-analogi yang
sudah dikenal dengan baik.
Berdasarkan
pandangan diatas penulis mencoba merancang sebuah media yang dapat menunjang terlaksananya
model sinektik tersebut dalam materi operasi hitung campuran. Penulis
mengguakan media kartu yang diberi nama “Kartu Kesempatan” kartu tersebut
berisi bilangan yang harus diurai dalam bentuk operasi hitung campuran yaitu
dengan melibatkan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
Angka-angka yang digunakan serta jumlah operasi hitung bilangan disesuaikan
dengan jumlah siswa dalam kelompok. Hal ini bertujuan untuk menyamaratakan tugas
setiap siswa dalam kelompok juga menciptakan kegiatan belajar yang menyenangkan
bersama kelompok.
Selain
kemampuan berfikir kreatif siswa juga diarahkan untuk mampu menjalin kerjasama
dengan kelompoknya agar hasil dari operasi hitung campuran sesuai dengan angka
yang tertulis dalam kartu kesempatan. Pelaksanaan kegiatan ini dapat diberi
nama permainan “Komuniangka”. Yaitu mengkomunikasikan angka-angka yang harus di
kombinasikan dengan operasi hitung campuran agar menghasilkan angka yang
dihendaki. Berikut contoh “Kartu
Kesempatan” dengan jumlah anggota kelompok 4 orang misalnya.
Sebelum diisi
oleh siswa setelah
diisi oleh siswa
|
|
Persyaratan menjawab benar adalah
1. Jumlah hasil operasi hitung campuran sesuai
dengan angka yang diharapkan.
2. Banyaknya angka sesuai dengan banyak siswa
dalam kelompok boleh lebih asal jangan kurang.
3. Waktu penyelesaian sesuai dengan waktu yang
ditentukan oleh guru.
Jika ketiga persyaratan diatas terpenuhi maka kelompok tersebut menang dan
diberi poin.
Tujuan dari permainan ini sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang terdapat dalam kurikulum (SK/KD) yaitu siswa mampu melakukan
operasi hitung bilangan sampai tiga angka dengan kompetensi dasar siswa mampu
melakukan operasi hitung campuran. Kegiatan diatas menuntut siswa menguasai
konsep operasi hitung campuran, karena jika siswa tidak menguasainya bisa jadi
hasil yang diperoleh akan berbeda dengan angka tujuan. Disetiap akhir permainan
guru beserta siswa mengkorekasi hasil setiap kelompok bersama-sama. Tujuannya
selain untuk mengkoreksi hasil juga secara tidak langsung guru mengingatkan
kembali konsep yang benar.
KESIMPULAN :
Pendekatan Open Ended berpaham bahwa proses belajar haruslah menigkatkan
daya berpikir siswa, hal ini disejalankan dengan Model Sinektik yang menuntut
kreatifitas siswa dalam hal berfikir, dalam hal ini materi Operasi hitung
campuran dipresiksi cocok di belajarkan dengan model ini. Penerapannya dapat dengan
menggunakan teknik permainan “Komuniangka” yang didasarkan pada strategi model
Sinektik disertai media “Kartu Kesempatan” untuk menerapkan konsep juga
mendorong kreatifitas siswa dalam hal memecahkan masalah matematis. Sehingga
pelajaran matematika tidak lagi menakutkan dan menyulitkan siswa. Rekomendasi
untuk tindak lanjut, model ini dapat dikembangkan dengan menggunakan soal
cerita sederhana atau media lain yang bersifat Open Problem.
Daftar Pustaka :
Abidin, Yunus. 2012. Pembelajaran Bahasa Berbasis Pendidikan Karakter.
Bandung : PT. Refika Aditama.
Daswan. 2013. Penerapan Model Sinektik Meningkatkan Kemampuan Berfikir
Kreatif dan Komuikasi Matematis Siswa Tsanawiah. Universitas Pendidikan
Indonesia: Repository.com
http://Pendekatan_Open_Ended_Dalam_Pembelajaran_Matematika_Zulfikarnasution's
Blog.htm [online]
21-02-2014
Fajariah, Nur. Triratnawati, Defi. 2008. Cerdas Berhitung Matematika
3. Jakarta : Pusat perbukuan Depdiknas.
Rusman. 2012. Model-Model Pembelajaran (Mengembangkan Profesional Guru)
Edisi Kedua. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Silabus Pelajaran Matematika Kurikulum KTSP 2006
Suwaningsih, Erna. Tiurlina. 2010. Model Pembelajran Matematika.
Bandung: Upi Press
Wahyudin. 2007. A to Z Anak Kreatif. Bandung : Gema Insani
assalammu'alaykum mba fitri, saya tertarik dengan tulisan mba dan rasanya saya ingin mengaplikasikannya di kelas. mba maaf tapi gambar kartu kesempatannya tak terlihat dan tak bisa dibuka mba huhu
BalasHapuswaalaikumsalam,, terimakasih karena sudah membaca tulisan saya,,, mohon maaf karena kesalahan teknis kartu kesempatannya tidak terbaca...
Hapusitu hanya kartu soal yang harus siswa isi, guru hanya menyediakan clue jawaban. biar siswa yang mengembangkan soalnya