Pengikut

Kamis, 12 Oktober 2017

Umi Amira #4 Be a Teacher or Mother

Umi Amira

#4 “ Be a Teacher OR Mother“


Hai, Assalamualaikum…
Gimana kabar kalian ? semoga Allah seantiasa memberkahi kalian dengan sehat dan kebaikan… Aamiin
Episode kali ini Ummi ingin bercerita tentang pengalaman Ummi yang superrr sekali. Kenapa super, karena pengalaman ini berkaitan dengan sebuah pilihan yang berat dan rumit. Tapi dengan bantuan Allah Yang Maha Kuasa, InsyaAllah Ummi akhirnya bisa memilih pilihan yang paling BAIK, InsyaAllah.

Pilihan apa itu mi ? ko ampe segitunya…
Umi adalah seorang lulusan pendidikan guru sekolah dasar disingkat PGSD, inget ya PGSD (googling aja kalo ga tau yaa) bukan PDKT !!! heheheh. So setelah lulus kuliah umi harus menjadi GURU SD, mungkin bisa disebut mengabdi, mungkin bisa disebut nguli (baca:kerja). Entahlah mana yang lebih tepat, dan nanti kalian akan tau mana yang lebih tepat.

Singkat cerita, setelah sidang skripsi selesai umi langsug melamar ke sebuah sekolah swasta, karena kebetulan pada waktu itu hanya sekolah itu yang nerima lowongan tanpa KKN seperti kebanyak sekolah lainnya (KKN itu buka Kuliah Kerja Nyata, tapi singkatan dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme, atau lebih dikenal jalur persaudaraan dan pertemanan). Alhamdulillah lolos uji tes dan wawancara, lalu mengajarlah umi disana. Dengan semangat yang menggelora karena masih Fresh Graduate (Lulusan Baru) umi mendidik dan mengajari siswa-siswa SD tersebut. Pada awalnya umi sangat nyaman mengajar di sekolah tersebut, selain kesejahteraan yang lumayan terjamin, fasilitas sekolah yang lengkap serta guru-guru berkualitas dan dedikasi yang tinggi pada yayasan. Mungkin seperti itulah gambarang kebanyakan sekolah swasta yang notabene siswa siswinya berasal dari kalangan menengah keatas. Jujur sebagai guru umi merasa dihargai dan dibanggakan. Namun masalah mulai mucul ketika umi menikah dan hamil, waktu tersita habis di sekolah, 8 jam bekerja dari pagi hingga sore, hampir tidak ada waktu bersama suami selain week end, ditambah suami yang kerja nya tidak beraturan semakin menyita waktu kebersamaan kami. akhirnya demi sikecil yang sedang tumbuh dalam perut umi juga demi si cinta yang perlu perhatian, umi tinggalkan dunia pendidikan. Hampir setahun ummi mengajar disana, dengan segala pengalaman berharga yang takan pernah umi lupakan.
Tak lama kemudian, putri kecil kamipun lahir kedunia, segala perhatian dan dedikasi sebagai seorang ibu, dilimpahkan tanpa hambatan dan halangan apapun, I’am A Mother ! and I proud of it. Meski cibiran datang silih berganti, belum lagi sindiran yang cukup menyakitkan hati “sarjana ko jadi ibu rumah tangga sih, ga sayang sama gelarnya”. Ingin rasanya ngelitikin sampe jungkir balik ibu-ibu yang ngomong gini, dikiranya jadi ibu rumah tangga ga pake ilmu apa, modal pendidikan bagi seorang perempuan itu penting, karena dialah madrasah pertama anak-anaknya, menurut umi seorang perempuan punya pendidikan tinggi itu sangat penting,  karena dari tangan merekalah tercetak generasi bangsa dan agama yang berkualitas. Bedakan dengan ibu yang hanya sekolah apa adanya, mengasuh anak asal-asalan, jadi apa anak-anaknya ? …
Maka dari itu, untuk para orangtua, mertua dan ibu-ibu yang suka ngegosipin tetangganya. Berhentilah menghakimi pilihan kami, menjadi seorang ibu dengan titel sarjana membuatku sangat bangga. Kewajiban mengmalkan ilmu tak harus selalu dalam kelas atau sekolah. Karena mengurus anak dan keluarga juga adalah sebuah kewajiban mulia dan utama.
Umi tak bermaksud menyalahkan mereka yang tetap memilih jalur karir, umi pun bangga pada mereka, karena umi tau susahnya menjalani dua peran sekaligus (menjadi ibu dan menjadi wanita karir), sibuknya luar biasa. Dan mereka adalah wanita-wanita kuat,  mereka sanggup mengorbankan salah satu hal yang mereka cintai (mungkin waktu, mungkin perasaan). Yang terpenting segalanya sudah dibicarakan dan diridhoi oleh suami dan anak, karena mereka bisa saja mereka menjadi korban dari waktu dan perhatian yang tersita karena pekerjaan.
 Bagi umi seperti apa pilihan dari seorang perempuan, itu sudah menjadi pilihannya, tak perlu didebat atau dipermasalahkan. Menjadi ibu rumah tangga atau ibu rumah tangga yang berkarir, keduanya tetaplah seorang IBU.
Dan umi salah satu dari mereka yang memilih stay at home with my little princes, dan Umi BANGGA dengan itu !!


Bandung, 11102017

Bersama putri kecilku

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...