Umi
Amira
(Curhatan Emak-Emak Pemula )
#2
“Suamiku ohhh suamiku”
“kamu mau nonton film Fast and Fourios atau mau aku
yang pasti dan serius…” ucapnya penuh mantap dan percaya diri. Merah merona
wajah umi kala itu. Kalau inget momen itu suka pengen ketawa sendiri. Abisnya
dia lucu dan bikin kangen heheh #upss.
Itulah salah satu kenangan masa-masa perkenalan
dulu. Dialah suamiku, sesosok pria dengan janggut khasnya juga mata sipitnya
yang kini menurun pada anaku, Amira. Banyak yang bilang dia mirip orang arab,
tampan tampan gimana gitu mirip artis turki yang suka tayang di
sinetron-sinetron itu lohhh. Tapi dimataku gak ada tampang arab-arabnya tuh, ya
secara mana ada orang arab sipit. Kalau umi jalan berdua sama abiyah suka
dibilang pasangan internasional, dia kaya orang arab nahh umi katanya mirip
orang jepang. Katanya yaaaa, bukan kata umi. Tapi menurut umi mau dibilang apa
juga umi dan suami tetap mirip kedua orang tua kita ko #yaiyalah colek dulu
jenggot abiyah heheheh.
Episode kali ini umi mau bercerita tentang abiyah,
bukan ngegosip yaaa. Tuhh dia lagi disamping umi dan tulisan ini juga udah
dapet ijin dari dia ko. Untuk informasi aja biar ga bikin yang baca bingung.
Umi manggil suami dengan panggilan abiyah, panggilan cinta heheheh.
Perkenalan umi dengan suami benar-benar atas
kehendak Allah. Dia yang entah siapa tiba-tiba datang kedalam kehidupanku,
merampok segenggam hati yang sedang rapuh kala itu. Dulu umi mengira bahwa
jodoh umi itu orang yang udah kenal lama, atau orang yang dekat dengan umi, pasalnya
umi adalah tipikal orang yang tidak mudah menerima orang baru. Tapi dengan
sedikit kehendak Allah, kun fayakun jadilah dia yang entah dari mana menjadi
jodoh umi heheh.. Nggak entah dari mana sihh hehe#pisss.
kami berkenalan secara tak sengaja di sebuah media
social berlambang lebah (waktu itu aplikasi ini ngehits lohh). Umi gak pernah
berpikir kalau dia jodoh umi, bahkan kadang-kadang umi masih suka berpikir
“kok bisa ya”, itulah scenario Allah, ajaib dan indah. Berawal dari
ketertarikan umi pada tulisannya akhirnya umi berteman dengannya (ngeinvite
ceritanya).
“assalamualaikum, hai ta’aruf yuuu” begitulah
kira-kira kalimat pertama yang mengawali kisah hubungan kami. Kata “ta’aruf”
yang umi kirimkan padanya bermakna bahwa umi ingin berkenalan. Tapi ternyata
setelah di cek di toko sebelah artinya benar-benar dahsyat. Dia kaget dan
mengartikan kata”ta’aruf” sebagai bentuk keseriusan dalam hal mencario jodoh.
Yaa seperti itulah scenario Allah. Bermula dari satu kata akhirnya kita menjadi
dekat,dan sampai terucap akad nikah.
Bagiku dia seorang pejuang, dia berjuang untuk
hidupnya. Jauh dari kedua orang tuanya dia bisa bertahan menjadi orang baik
(secara banyak anak muda hilang arah ketika jauh dari orang tuanya). Jauh dalam
arti yang lebih luas yaa. Bagiku dia seorang yang baik, dia berhijrah dari
kehidupannya yang kosong akan makna menuju kehidupan yang hangat dan penuh
hikmah. Jenggot itulah saksinya hehehe.
Dia adalah sosok laki-laki yang sanggup membawaku
bangkit dari gelapnya masa lalu #ceilehhh. Umi dulu sempet trauma karena patah
hati, dan dia datang ketika umi mencoba bangkit. Dengan kesabarannya dia mampu
membimbing umi menghadapi keegoisan dan rasa trauma. Satu hal yang umi suka
dari sikap dia adalah rasa syukur. Bagi dia tak ada hal di dunia ini yang tak
pantas disyukuri. Selalu mengingat bahwa hidup ini hanyalah sementara dan tak
usah risau jika orang lain terlihat “lebih” dari kita. cara pandang dia tentang
hiduplah yang membuat umi bertahan disampingnya, hingga kini.
Umi juga bahagia karena dia adalah orang yang
sangat memperhatikan shalat. Ketika awal bertemu, dia udah nanyain masjid.
Padahal bisa shalat di kosan umi waktu itu. Tapi katanya “Laki-laki itu
shalatnya di masjid”. Gak gagah gimana coba kata-katanya. Dan akhinya hal
itulah yang membuat umi meleleh dan memutuskan untuk memilihnya sebagai calon
imam. Bukan imam shalat aja yaa, imam hati dan imam berumahtangga juga. Modal
yang sangat mahal dan istimewa bukan ?. Limited edision bahasanya.
“kita nikah lebaran ini ya..” J
dia melamarkuuuuuu !!!
Suamiku..ohhh suamiku, begitulah gambaran kira-kira
tentang suamiku. Pria sederhana yang tak punya apa-apa, namun berani meminang
seorang wanita aneh yang galau berat karena disakiti pria. Karena scenario
Allah lah yang sesungguhnya menjadikan kita berjodoh. Huhuhuhuhu, peluk cium
sumiku ahhh. Aku mencintainya karena Allah.
Sekian episode 2 kali ini, jadi curhat tentang
suami nih. Tapi intinya jodoh itu cerminan diri kita dihadapan Allah. Sepasang
suami istri itu akan saling melengkapi meskipun dalam kaca mata dunia terlihat
jomplang. Percayalah jika calonmu belum mapan, belum punya rumah, atau cuman
punya motor matik doing jangan sedih atau risau. Jika dia rajin shalat, berlaku
baik pada kedua orangtuamu, menghormati dan memulikannmu sebagai seorang
wanita. Percaya padaku pertahankanlah ia !!. karena Rasulullah menganjurkan
kita memilih pasangan bukan dari harta, tahta, atau tampang tapi dari agamanya,
akhlaknya. Ingat itu yaaa ! ummi sudah buktikan, yang tajir memang menggiurkan
tapi yang sholeh lebih menjanjikan ! menjanjikan dunia akhirat maksudnya
hehehe.
Banyak kisah seru lainnya yang mau ummi ceritain ke
kalian. Penasaran dengan kisah umi amira lainnya, tetap stay baca celotehan
emak-emak muda ini yaaa,,
Baleendah, 21022017
Bersama keluarga
kecilku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar