Pendekatan
Tematik dan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika Materi
Membandingkan di Kelas I Semester 1
Oleh Arip Somantri Putra S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd
Pendahuluan
Kelas rendah merupakan
kelas awal, dimana dalam tahapan umur ini siswa sekolah dasar masuk pada tahap
operasional konkrit. Tahap operasional konkrit adalah tahap dimana seorang anak
masih membutuhkan benda nyata untuk mengerti tentang apa yang akan disajikan
oleh guru. Menurut Piaget, tahap operasional konkrit ini terjadi pada siswa
sekolah dasar yang berusia 6-12 tahun. Dalam tahap ini, siswa sudah mampu
mengurutkan atau menyusun kata-kata tentang sebuah benda. Mereka sudah mampu
menyebutkan ciri-ciri, sifat-sifat dan bentuk benda yang ada di disekitar
kehidupan mereka. Selanjutnya, selain pada tahap siswa sekolah dasar yang
berada pada tahap operasional konkrit, siswa sekolah dasar juga akan lebih
memahami tentang suatu konsep, jika mereka yang mengalami sendiri proses
pendapatan konsep tersebut. Dengan mengalami sendiri cara meraka mendapatkan
pengetahuan, tentunya mereka akan lebih mengingat lama atau mereka akan
menyimpan dalam ingatan mereka apa yang dulu telah terjadi.
Pembelajaran matematika
di lapangan cenderung konvensional, dimana pembelajaran hanya berpusat pada
guru. Disini, guru menjadi sumber pembelajaran, guru menjadi sumber pengetahuan
dan guru mendominasi pembelajaran. Pembelajaran hanya berlangsung satu arah,
hanya dari guru kepada siswa saja. Metode ceramah, ya, metode ini menjadi
sebuah alat yang paling dikuasai oleh sebagian besar guru yang ada di lapangan
pada saat ini. Menurut saya, pembelajaran seperti ini dalam beberapa materi
memang dapat digunakan. Namun juga tidak semua materi harus menggunakan cara
konvensional ini. Hal ini ditakutkan siswa lulusan sekolah itu akan menjadi
seseorang yang kurang dapat bergaul di masyarakat. Pada hakikatnya aplikasi
dari pembelajaran matematika sangat diperlukan oleh siswa ketika mereka ada di
masyarakat. Tentunya kita ketahui jika segala sesuatu pada jaman sekarang ini
dihitung, katakanlah menggunakan uang. Istilah lainnya kencing saja bayar. Nah
kalau menurut saya, pembelajaran konvensional ata berpusat pada guru ini boleh
digunakan pada materi tertentu. Namun kita juga harus memerhatikan, apakah
siswa ketika nanti di masyarakat akan selalu mengingat apa yang telah dipelajari
waktu di bangku sekolah. Nah dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa ini,
tentunya siswa akan selalu mengingat apa yang pernah mereka alami ketka mereka bersekolah. Pembelajaran yang berpusat pada
siswa ini berlangsung ketika siswa sendiri yang menjadi suber belajr. Mereka
sendiri yang melakukan proses mendapatkan sebuah pengetahuan.
Pendidikan modern yang bukan
hanya mencekokkan pengetahuan berupa kognitif saja, melainkan aspek sikap dan
psikomotor juga harus selalu disisipkan dalam setiap pembelajaran. Sebagai
guru, kita berkewajiban untuk menyisipkan
kedua aspek tersebut yakni aspek sikap dan psikomotor. Kita tidak ingin
kan siswa yang kita bina haya pintar kognitifnya saja. Buat apa kalau ia pintar
secara kognitif, tetapi ia miskin dalam hal sikap, tingah laku maupun akhlak.
Ia hanya akan pintar untuk dirinya sendiri. Sedangkan kita ketahui bahwa kodrat
manusia itu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Sebagai makhluk sosial
artinya, manusia tidak dapat hidup sendirian, manusia selalu memerlukan bantuan
orang lain. Contoh kecilnya yaitu ketika bayi lahir yang tak berdaya, tak dapat
berbuat apa-apa tanpa bantuan ibunya. Dan sebagai makhluk individu, artinya
manusia itu hidup dalam satu kesatuan antara jasmani dan rohani yang tak dapat
dipisahkan satu sama lainnya.
Mengklasifikasikan,
mengidentifikasikan, dan membandingkan, semuanyan ada pada tahap operasional
konkrit. Dalam artikel yang saya tulis ini akan dibahas tentang dua buah
pendekatan yang berpengaruh tentang konsep membandingkan pada siswa kelas I
semester 1 sekolah dasar. Masalah yang akan diangkat yaitu mampukah pendekatan
tematik dan pendekatan kontekstual diterapkan dalam materi membandingkan di
kelas I semester 1?. Bagaimana contoh pembelajaran membandingkan dengan
menggunakan pendekatan teatik dan kontekstual?
Pembahasan
Pendekatan tematik
adalah sebuah pendekatan yang dilakukan guru untuk memayungi beberapa pelajaran
yang memiliki kesamaan materi dalam sebuah tema. Tema ini berupa pokok
pembicaraan yang memiliki kesamaan pokok bahasan dari dua atau lebih mata
pelajaran yang dipadukan. Pembelajaran tematik merupakan usaha yang diakukan
guru untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai pembelajaran dan
pemikiran kreatif yang dipayungi atau terpadu dalam sebuah tema.
Dalam membelajarkan
materi membandingkan di kelas 1 semester 1 sangat cocok menggunakan pendekatan
tematik. Kita dapat mengaitkan materi membandingkan dengan pelajaran Seni
Budaya dan Kesenian dengan mengajak mereka bernyanyi lagu “Balonku” sebelum
pelajaran dimulai.. Pembelajaran membandingkan dikelas 1
semester 1 lebih cocok bila menggunakan pendekatan tematik. Materi
membandingkan dapat dipadukan dengan pelajaran IPS yaitu pada materi lingkungan
keluarga. Disini, dua orang siswa diminta untuk menceritakan anggota
keluarganya. Kemudian guru meminta dua orang siswa tersebut untuk menuliskan
jumlah anggota keluarga nya di papan tulis. Kemudian berlanjut pada
membandingkan jumlah anggota keluarga siswa yang bercerita tadi. Selanjutnya
materi membandingkan dapat pula dikaitkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, ya
itu tadi pada saat siswa diminta menceritakan anggota keluarganya ada siapa
saja. Nah, disini siswa diasah kemampuan berbicaranya. Selanjutnya, pada materi
IPA juga dapat dipadukan, yaitu materi mengenal bagiqan-bagian tubuh.
Menurut Teori Ausubel, bahwa pembelajaran bermakna
itu akan lebih baik karena siswa menemukan sendiri konsep-konsep. Dan menurut
teori ini, apabila siswa dalam pembelajarannya dengan teknik menghafal, maka
mereka tidak akan mampu memakai konsep itu pada kehidupan sehari-hari. Nah
dengan pembelajaran yang bermakna ini, siswa akan mampu menerapkan konsep pada
kehidupan sehari-hari. Bermakna berarti pembelajaran ini harus penting, artinya
penting bagi keberlangsungan hidup siswa, penting dan akan selalu mereka ingat
dalam situasi dan kondisi apapun. Selanjutnya bermakna berarti hidup, artinya
pembelajaran akan menjadi bekal kehidupan bagi para peserta didik. Selanjunya,
bermakna itu berarti bermanfaat, artinya pembelajaran atau hasil belajar siswa
itu dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Materi membandingkan
bilangan cacah dikelas I mulai dari 0 sampai 20. Dalam membandingkan banyak
benda, akan lebih baik menggunakan benda asli. Karena menurut teori gagne,
belajar matematika itu ada dua yang diperoleh siswa yaitu objek langsung dan
objek tidak langsung. Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan
aturan. Sedangkan objek tidak langsung ini berupa kemampuan menyelidiki,
memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap
positif terhadap matematika, dan tahhu bagaimana semestinya belajar.
Menurut saya membandingkan ini akan lebih dimengerti siswa jika dilakukan
dengan membawa objek langsung seperti buah-buahan, buku, pensil dan benda-benda
lain yang ada di sekitar siswa. Selain dari pada itu, sesuatu yang diajarkan di
kelas rendah haruslah berupa hal-hal yang ada di keseharian siswa. Hal ini
dimaksudkan agar pembelajaran tidak terlalu mengada-ada, karena kit ketahui
jika siswa pada usia 6-12 tahun masih berada pada tahap operasional konkrit.
Oleh karena itu, dalam materi membandingkan sebaiknya guru memanipulasi
benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa, agar pembelajaran dapat dengan
mudah dimengerti siswa.
Dalam mengenalkan
materi membandingkan ini dimulai dari banyak benda 1 sampai lima. Yaitu dengan
membandingkan dua kumpulan benda bisa lebih banyak, lebih sedikit, dan sama
banyak. Pembelajarannya membadingkan dengan menggunakan pendekatan kontekstual
ini sangat dianjurkan karena dalam pendekatan kontekstual itu membawa siswa
untuk berada pada kehidupan sehari-hari mereka, yang nyata. Hal ini diperlukan
agar siswa belajar itu benar-benar mempelajari hal-hal atau benda-benda yang
ada di lingkungan tempat mereka berada. Pembelajaran yang kontekstual ini juga
menuntut agar siswa berpikir tingkat tinggi, artinya siswa tidak hanya membaca
buku kemudian hafal buku tersebut, akan tetapi siswa dituntut untuk
mengungkapkan pendapat-pendapatnya sesuai dengan yang ia ketahui. Selanjutnya
dalam pembelajaran kontekstual ada yang namanya pembelajaran yang berpusat pada
siswa, artinya sumber belajar tidak hanya ada pada guru, melainkan siswa lah
yang menjadi sumber belajar. Disini, siswa dituntut untuk aktif dalam
pembelajarannya. Guru hanyalah menjadi seorang fasilitator, yang memfasilitasi
keberlangsungan pembelajaran. Selain itu dalam pendekatan kontekstual,
pembelajaran yang disajikan guru harus dekat dengan kehidupan nyata. Hal ini
bermaksud agar siswa belajar apa saja yang mereka ketahui dan hal-hal apa saja
yang mereka tidak ketahui itu harus bersifat nyata, mengapa karena siswa
sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit. Segala yang mereka pelajari harus merupakan hal-ha
yang nyata, hal-hal yang selalu dapat mereka rasa, lihat dan raba.
Penutup
Pendekatan tematik dan
pendekatan kontekstual merupakan satu kesatuan yang boleh dikatakan satu sama
lainnya memiliki hubungan yang klop atau cocok. Di satu sisi pembelajaran di
kelas rendah harus dibawakan dengan pendekatan tematik yang memadukan beberapa
materi yang saling berhubugan. Di sisi lain, pembelajaran yang disajikan guru
harus berupa sesuatu yang nyata, sesuatu yang dikenal siswa, dan juga harus
sesuatu yang dapat atau pernah mereka alami.
Dalam materi
membandingkan banyak bilangan ini lebih baik menggunakan dua pendekatan
tersebut. Yang mana keduanya sangat cocok dengan karakteristik siswa dikelas
rendah. Selain dari pada itu, siswa di kelas rendah juga memerlukan
pembelajaran yang tidak membosankan. Di mana siswa ini lebih suka pembelajaran
yang menyenangkan dan berkesan sehingga dapat mereka ingat sepanjang masa.
DAFTAR PUSTAKA
Haryono,
Jaelani. 2008. Matematika Untuk SD/MI
Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing
Herman,
Tatang, dkk. 2009. Pendidikan Matematika
I. Bandung : UPI PRESS.
Hernawan,
Edi, dan Hendayani, Endang. 2008. Ilmu
Pengetahuan Sosial Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia
Printing.
Rosalin, Elin.
2008. Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual. Bandung : PT. Karsa
Mandiri Persada.
Sulistyanto,
Heri, dan Wiyono, Edi. 2008. . Ilmu
Pengetahuan Alam Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing.
Suwangsih, Erna.
2006. Model Pembelajaran Matematika. Bandung : UPI PRESS.
Suyatno,
dkk. 2008. Indahnya Bahasa dan Sastra
Indonesia Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar