Pengikut

Selasa, 10 Oktober 2017

Pendekatan Tematik dan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika Materi Membandingkan di Kelas I Semester 1


Pendekatan Tematik dan Pendekatan Kontekstual dalam Pembelajaran Matematika Materi Membandingkan di Kelas I Semester 1
Oleh Arip Somantri Putra S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd

Pendahuluan
Kelas rendah merupakan kelas awal, dimana dalam tahapan umur ini siswa sekolah dasar masuk pada tahap operasional konkrit. Tahap operasional konkrit adalah tahap dimana seorang anak masih membutuhkan benda nyata untuk mengerti tentang apa yang akan disajikan oleh guru. Menurut Piaget, tahap operasional konkrit ini terjadi pada siswa sekolah dasar yang berusia 6-12 tahun. Dalam tahap ini, siswa sudah mampu mengurutkan atau menyusun kata-kata tentang sebuah benda. Mereka sudah mampu menyebutkan ciri-ciri, sifat-sifat dan bentuk benda yang ada di disekitar kehidupan mereka. Selanjutnya, selain pada tahap siswa sekolah dasar yang berada pada tahap operasional konkrit, siswa sekolah dasar juga akan lebih memahami tentang suatu konsep, jika mereka yang mengalami sendiri proses pendapatan konsep tersebut. Dengan mengalami sendiri cara meraka mendapatkan pengetahuan, tentunya mereka akan lebih mengingat lama atau mereka akan menyimpan dalam ingatan mereka apa yang dulu telah terjadi.
Pembelajaran matematika di lapangan cenderung konvensional, dimana pembelajaran hanya berpusat pada guru. Disini, guru menjadi sumber pembelajaran, guru menjadi sumber pengetahuan dan guru mendominasi pembelajaran. Pembelajaran hanya berlangsung satu arah, hanya dari guru kepada siswa saja. Metode ceramah, ya, metode ini menjadi sebuah alat yang paling dikuasai oleh sebagian besar guru yang ada di lapangan pada saat ini. Menurut saya, pembelajaran seperti ini dalam beberapa materi memang dapat digunakan. Namun juga tidak semua materi harus menggunakan cara konvensional ini. Hal ini ditakutkan siswa lulusan sekolah itu akan menjadi seseorang yang kurang dapat bergaul di masyarakat. Pada hakikatnya aplikasi dari pembelajaran matematika sangat diperlukan oleh siswa ketika mereka ada di masyarakat. Tentunya kita ketahui jika segala sesuatu pada jaman sekarang ini dihitung, katakanlah menggunakan uang. Istilah lainnya kencing saja bayar. Nah kalau menurut saya, pembelajaran konvensional ata berpusat pada guru ini boleh digunakan pada materi tertentu. Namun kita juga harus memerhatikan, apakah siswa ketika nanti di masyarakat akan selalu mengingat apa yang telah dipelajari waktu di bangku sekolah. Nah dengan pembelajaran yang berpusat pada siswa ini, tentunya siswa akan selalu mengingat apa yang pernah mereka alami ketka mereka  bersekolah. Pembelajaran yang berpusat pada siswa ini berlangsung ketika siswa sendiri yang menjadi suber belajr. Mereka sendiri yang melakukan proses mendapatkan sebuah pengetahuan.
Pendidikan modern yang bukan hanya mencekokkan pengetahuan berupa kognitif saja, melainkan aspek sikap dan psikomotor juga harus selalu disisipkan dalam setiap pembelajaran. Sebagai guru, kita berkewajiban untuk menyisipkan  kedua aspek tersebut yakni aspek sikap dan psikomotor. Kita tidak ingin kan siswa yang kita bina haya pintar kognitifnya saja. Buat apa kalau ia pintar secara kognitif, tetapi ia miskin dalam hal sikap, tingah laku maupun akhlak. Ia hanya akan pintar untuk dirinya sendiri. Sedangkan kita ketahui bahwa kodrat manusia itu sebagai makhluk sosial dan makhluk individu. Sebagai makhluk sosial artinya, manusia tidak dapat hidup sendirian, manusia selalu memerlukan bantuan orang lain. Contoh kecilnya yaitu ketika bayi lahir yang tak berdaya, tak dapat berbuat apa-apa tanpa bantuan ibunya. Dan sebagai makhluk individu, artinya manusia itu hidup dalam satu kesatuan antara jasmani dan rohani yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya.
Mengklasifikasikan, mengidentifikasikan, dan membandingkan, semuanyan ada pada tahap operasional konkrit. Dalam artikel yang saya tulis ini akan dibahas tentang dua buah pendekatan yang berpengaruh tentang konsep membandingkan pada siswa kelas I semester 1 sekolah dasar. Masalah yang akan diangkat yaitu mampukah pendekatan tematik dan pendekatan kontekstual diterapkan dalam materi membandingkan di kelas I semester 1?. Bagaimana contoh pembelajaran membandingkan dengan menggunakan pendekatan teatik dan kontekstual?


Pembahasan
Pendekatan tematik adalah sebuah pendekatan yang dilakukan guru untuk memayungi beberapa pelajaran yang memiliki kesamaan materi dalam sebuah tema. Tema ini berupa pokok pembicaraan yang memiliki kesamaan pokok bahasan dari dua atau lebih mata pelajaran yang dipadukan. Pembelajaran tematik merupakan usaha yang diakukan guru untuk mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan, nilai pembelajaran dan pemikiran kreatif yang dipayungi atau terpadu dalam sebuah tema.
Dalam membelajarkan materi membandingkan di kelas 1 semester 1 sangat cocok menggunakan pendekatan tematik. Kita dapat mengaitkan materi membandingkan dengan pelajaran Seni Budaya dan Kesenian dengan mengajak mereka bernyanyi lagu “Balonku” sebelum pelajaran dimulai.. Pembelajaran membandingkan dikelas 1 semester 1 lebih cocok bila menggunakan pendekatan tematik. Materi membandingkan dapat dipadukan dengan pelajaran IPS yaitu pada materi lingkungan keluarga. Disini, dua orang siswa diminta untuk menceritakan anggota keluarganya. Kemudian guru meminta dua orang siswa tersebut untuk menuliskan jumlah anggota keluarga nya di papan tulis. Kemudian berlanjut pada membandingkan jumlah anggota keluarga siswa yang bercerita tadi. Selanjutnya materi membandingkan dapat pula dikaitkan dengan pelajaran Bahasa Indonesia, ya itu tadi pada saat siswa diminta menceritakan anggota keluarganya ada siapa saja. Nah, disini siswa diasah kemampuan berbicaranya. Selanjutnya, pada materi IPA juga dapat dipadukan, yaitu materi mengenal bagiqan-bagian tubuh.
Menurut Teori Ausubel, bahwa pembelajaran bermakna itu akan lebih baik karena siswa menemukan sendiri konsep-konsep. Dan menurut teori ini, apabila siswa dalam pembelajarannya dengan teknik menghafal, maka mereka tidak akan mampu memakai konsep itu pada kehidupan sehari-hari. Nah dengan pembelajaran yang bermakna ini, siswa akan mampu menerapkan konsep pada kehidupan sehari-hari. Bermakna berarti pembelajaran ini harus penting, artinya penting bagi keberlangsungan hidup siswa, penting dan akan selalu mereka ingat dalam situasi dan kondisi apapun. Selanjutnya bermakna berarti hidup, artinya pembelajaran akan menjadi bekal kehidupan bagi para peserta didik. Selanjunya, bermakna itu berarti bermanfaat, artinya pembelajaran atau hasil belajar siswa itu dapat bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari siswa.
Materi membandingkan bilangan cacah dikelas I mulai dari 0 sampai 20. Dalam membandingkan banyak benda, akan lebih baik menggunakan benda asli. Karena menurut teori gagne, belajar matematika itu ada dua yang diperoleh siswa yaitu objek langsung dan objek tidak langsung. Objek langsung adalah fakta, keterampilan, konsep dan aturan. Sedangkan objek tidak langsung ini berupa kemampuan menyelidiki, memecahkan masalah, belajar mandiri, bersikap  positif terhadap matematika, dan tahhu bagaimana semestinya belajar. Menurut saya membandingkan ini akan lebih dimengerti siswa jika dilakukan dengan membawa objek langsung seperti buah-buahan, buku, pensil dan benda-benda lain yang ada di sekitar siswa. Selain dari pada itu, sesuatu yang diajarkan di kelas rendah haruslah berupa hal-hal yang ada di keseharian siswa. Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tidak terlalu mengada-ada, karena kit ketahui jika siswa pada usia 6-12 tahun masih berada pada tahap operasional konkrit. Oleh karena itu, dalam materi membandingkan sebaiknya guru memanipulasi benda-benda nyata yang ada di sekitar siswa, agar pembelajaran dapat dengan mudah dimengerti siswa.
Dalam mengenalkan materi membandingkan ini dimulai dari banyak benda 1 sampai lima. Yaitu dengan membandingkan dua kumpulan benda bisa lebih banyak, lebih sedikit, dan sama banyak. Pembelajarannya membadingkan dengan menggunakan pendekatan kontekstual ini sangat dianjurkan karena dalam pendekatan kontekstual itu membawa siswa untuk berada pada kehidupan sehari-hari mereka, yang nyata. Hal ini diperlukan agar siswa belajar itu benar-benar mempelajari hal-hal atau benda-benda yang ada di lingkungan tempat mereka berada. Pembelajaran yang kontekstual ini juga menuntut agar siswa berpikir tingkat tinggi, artinya siswa tidak hanya membaca buku kemudian hafal buku tersebut, akan tetapi siswa dituntut untuk mengungkapkan pendapat-pendapatnya sesuai dengan yang ia ketahui. Selanjutnya dalam pembelajaran kontekstual ada yang namanya pembelajaran yang berpusat pada siswa, artinya sumber belajar tidak hanya ada pada guru, melainkan siswa lah yang menjadi sumber belajar. Disini, siswa dituntut untuk aktif dalam pembelajarannya. Guru hanyalah menjadi seorang fasilitator, yang memfasilitasi keberlangsungan pembelajaran. Selain itu dalam pendekatan kontekstual, pembelajaran yang disajikan guru harus dekat dengan kehidupan nyata. Hal ini bermaksud agar siswa belajar apa saja yang mereka ketahui dan hal-hal apa saja yang mereka tidak ketahui itu harus bersifat nyata, mengapa karena siswa sekolah dasar berada pada tahap operasional konkrit. Segala yang mereka pelajari harus merupakan hal-ha yang nyata, hal-hal yang selalu dapat mereka rasa, lihat dan raba.

Penutup
Pendekatan tematik dan pendekatan kontekstual merupakan satu kesatuan yang boleh dikatakan satu sama lainnya memiliki hubungan yang klop atau cocok. Di satu sisi pembelajaran di kelas rendah harus dibawakan dengan pendekatan tematik yang memadukan beberapa materi yang saling berhubugan. Di sisi lain, pembelajaran yang disajikan guru harus berupa sesuatu yang nyata, sesuatu yang dikenal siswa, dan juga harus sesuatu yang dapat atau pernah mereka alami.
Dalam materi membandingkan banyak bilangan ini lebih baik menggunakan dua pendekatan tersebut. Yang mana keduanya sangat cocok dengan karakteristik siswa dikelas rendah. Selain dari pada itu, siswa di kelas rendah juga memerlukan pembelajaran yang tidak membosankan. Di mana siswa ini lebih suka pembelajaran yang menyenangkan dan berkesan sehingga dapat mereka ingat sepanjang masa.

DAFTAR PUSTAKA
Haryono, Jaelani. 2008. Matematika Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing
Herman, Tatang, dkk. 2009. Pendidikan Matematika I. Bandung : UPI PRESS.      
Hernawan, Edi, dan Hendayani, Endang. 2008. Ilmu Pengetahuan Sosial Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing.
Rosalin, Elin. 2008. Gagasan Merancang Pembelajaran Kontekstual. Bandung : PT. Karsa Mandiri Persada.
Sulistyanto, Heri, dan Wiyono, Edi. 2008. . Ilmu Pengetahuan Alam Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing.
Suwangsih, Erna. 2006. Model Pembelajaran Matematika. Bandung : UPI PRESS.

Suyatno, dkk. 2008. Indahnya Bahasa dan Sastra Indonesia Untuk SD/MI Kelas I. Bogor : PT. Ghalia Indonesia Printing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...