MENINGKATKAN KEMAMPUAN
MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA TENTANG MEMBANDINGKAN PECAHAN SEDERHANA MELALUI PENDEKATAN
REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)
Oleh :
Ghina
Raudlotul Jannah, S.Pd
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)
I.
PENDAHULUAN
Dalam
KTSP 2006 sudah dipaparkan bahwa pada kelas 3 semester II Sekolah Dasar
terdapat materi mengenai memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan
sederhana. Jika dilihat dari tujuan matematika itu sendiri dijelaskan bahwa
matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah
yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika,
menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Oleh karena itu,
kemampuan memecahkan masalah sangat perlu dipahami dan dimiliki oleh
siswa-siswa di Sekolah Dasar. Jika dilihat dari realita yang ada di masyarakat,
kemampuan menyelesaikan soal cerita terutama di kelas awal Sekolah Dasar masih
sangat rendah karena kemampuan memahami kalimat masih kurang. Padahal
kemampuan memahami kalimat merupakan salah satu prasyarat untuk bisa
mengerjakan soal cerita. Beberapa kenyataan perilaku siswa dalam pembelajaran,
yaitu kurangnya aktifitas siswa yang mempunyai inisiatif untuk bertanya pada
guru, sibuk menyalin apa yang ditulis dan diucapkan guru, apabila ditanya guru tidak
ada yang mau menjawab tetapi mereka menjawab secara bersamaan sehingga suaranya
tidak jelas, siswa terkadang ribut sendiri waktu guru menerangkan atau
mengajar. Aktifitas siswa yang demikian kurang mendukung untuk bisa memahami
kalimat dalam soal cerita, sehingga akan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikannya. Selain itu, penyebab yang lain adalah kurangnya media
pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada
dasarnya pecahan yaitu suatu bilangan bulat a adalah habis dibagi oleh suatu
bilangan bulat b
0 jika dan hanya jika ada suatu bilangan bulat
x sehingga a = bx. Sedangkan jika faktor persekutuan terbesar (FPB) dari (a,b)
= 1, maka pecahan
disebut pecahan sederhana. Namun dalam buku
paket Sekolah Dasar pecahan diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh.
Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimaksud adalah bagian yang biasanya
ditandai dengan arsiran yang disebut pembilang. Sedangkan bagian yang utuh atau
bagian yang dianggap satuan dinamakan penyebut. Pecahan merupakan salah satu
topik yang sulit untuk diajarkan karena terlihat dari kurang bermaknanya
kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan sulitnya penggunaan media
pembelajaran. Akibatnya, guru biasanya langsung mengajarkan pengenalan angka,
seperti pada pecahan
dimana 1 disebut pembilang dan 2 disebut
penyebut. Pemilihan teori belajar, metode, media dan pendekatan dalam
pembelajaran pun harus selalu diperhatikan seorang guru, karena itu semua yang
akan menilai berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Untuk kelas rendah
biasanya menggunakan teori Jerome.S.Bruner dimana didalamnya terdapat tahap
enactive, iconic, dan symbolic. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah
bisa digunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME),
karena RME sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika pada
diri siswa. Pada dasarnya konsep RME ini berkembang sejalan dengan kebutuhan
untuk memperbaiki pendidikan matematika khususnya Indonesia yang didominasi
oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan
mengembangkan daya nalar pada diri siswa. Adapun ciri-ciri dari RME tersebut,
yaitu menggunakan masalah yang kontekstual, menggunakan model atau alat
pembelajaran, menggunakan hasil konstruksi siswa itu sendiri, pembelajarannya
terfokus pada diri siswa, dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru.
Sehingga pada pelaksanaannya, RME ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa
dengan bantuan dari guru dan pada akhirnya siswa memiliki kemampuan dalam
memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika.
II.
PEMBAHASAN
Dari
beberapa mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Dasar, matematika adalah
salah satu mata pelajaran yang menjadi kebutuhan sistem dalam melatih penalaran
siswa. Melalui pengajaran matematika diharapkan akan menambah kemampuan
mengembangkan keterampilan pada diri siswa khususnya dalam pemecahan masalah
yang berkaitan tentang pecahan sederhana. Dilihat dari buku paket Sekolah Dasar
kelas 3 Semester II materi memecahkan masalah yang melibatkan pecahan sederhana
yaitu membandingkan pecahan. Dapat kita analisis masalah yang akan muncul yaitu,
penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai dan kurangnya pemahaman
konsep dalam penyampaian materi dengan menggunakan benda-benda nyata atau media
sehingga siswa hanya sekedar mendengar ceramah guru saja tanpa melakukan
pembelajaran yang bermakna. Sebagai guru seharusnya kita bisa memilih media,
metode apa yang sesuai dan pendekatan apa yang cocok dalam penyampaian materi
tersebut.
Pendekatan
pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengajarkan materi
memecahkan masalah tentang membandingkan pecahan sederhana adalah pendekatan
Realistic Mathematics Education (RME), karena pendekatan pembelajaran ini dapat
mendorong keaktifan, membangkitkan minat dan kreativitas belajar siswa agar
dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalahnya yang akan berakibat langsung
pada hasil belajar siswa tersebut. Metode yang digunakan bisa ekspositori serta
penugasan, karena dengan ekspositori interaksi antara siswa dan guru akan lebih
terlihat dan dengan penugasan kemampuan siswa bisa dioptimalkan. Disini guru
juga bisa menggunakan teori belajar Bruner karena setiap pembelajarannya dimulai
dengan pengenalan masalah sesuai dengan situasi (contextual problem) dan dengan
bantuan media yang dimanipulasi oleh siswa dalam memahami suatu konsep
matematika. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap
dibimbing untuk menguasai konsep matematika dan melalui benda atau media
pembelajaran yang ditelitinya, siswa akan menemukan sendiri pengetahuan dan
konsep awalnya sehingga mempermudah siswa untuk memahami materi yang di
pelajarinya.
Ketika dalam pembelajarannya, disini
guru bisa mengajak siswa untuk bertanya jawab tentang membandingkan pecahan
sederhana terlebih dahulu. Guru bisa menyuruh setiap siswa untuk menyediakan
dua lembar kertas. Satu kertas dilipat menjadi dua bagian yang sama, dan salah
satu bagian diarsir untuk menunjukkan pecahan
. Kemudian, kertas yang satu lagi dilipat
menjadi 4 bagian yang sama, dan salah satu bagian diarsir untuk menunjukkan
pecahan
(Tahap Enactive). Kemudian guru menyuruh siswa
membandingkan dua kertas hasil lipatan yang telah diarsir dan meminta siswa
untuk menggambarkan kertas hasil lipatan yang telah diarsir kedalam buku tugas
(Tahap Iconic), setelah itu barulah guru meminta siswa mengubahnya ke dalam
bentuk angka dan memberikan simbolnya yaitu lebih besar (>), lebih kecil
(<), dan sama dengan (=) (Tahap
Symbolic).
Dalam menyampaikan materinya guru
bisa memberikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan
pecahan sederhana. Pada kegiatan inti, guru membagi siswa kedalam 3 kelompok
kemudian setiap kelompok diberikan buah apel, kue, dan pisau untung
memotongnya. Guru memberikan lembar kerja siswa yang didalamnya terdapat soal
dan langkah-langkah pengerjaan yang harus dipecahkan secara berkelompok. Contohnya:
Soal 1 : Ibu mempunyai 1 buah apel,
apel ini akan Ibu bagi menjadi 4 bagian yang sama besarnya dan akan Ibu berikan
kepada Tina, Ani, Aji, dan Nani. Maka berapa bagian yang akan mereka dapatkan ?
Soal 2 : Ibu mempunyai 1 kue
brownies, akan ibu bagikan sama banyak kepada 6 orang teman arisannya. Maka
mereka mendapat berapa bagian?
Pertanyaan : Dari
soal diatas, coba jelaskan mana yang mendapat bagian banyak? Apakah yang
mendapat bagian apel atau bagian kue ?
Setelah membaca soal-soal tersebut
maka siswa akan berdiskusi dengan kelompoknya dan memecahkan masalah dengan
menggunakan benda-benda nyata yang sudah disediakan (Tahap Enactive). Kemudian,
guru bisa meminta setiap kelompok untuk menggambarkan apel dan kue yang sudah
dipotong dipapan tulis (Tahap Iconic). Siswa menuliskan bentuk pecahan dari
gambar tersebut dan guru menyajikan gambar simbol lebih besar (>), lebih
kecil (<), atau sama dengan (=). Selanjutnya siswa diminta untuk
membandingkannya dan menempelkan simbol tersebut (Tahap Symbolic). Barulah
nantinya setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka dan dilanjutkan
dengan menyamakan persepsi. Agar guru lebih mengetahui kemampuan siswa dalam
memecahkan soal cerita, disini guru bisa memberikan beberapa latihan soal yang
masih menyangkut dengan permasalahan yang kontekstual. Contoh :
a. Ibu mempunyai roti. Roti tersebut
dipotong menjadi 6 bagian sama besar. Kemudian ,bagian yang
dimakan oleh Kak Yuda dan yang
dimakan Ayah. Siapakah yang makan bagian roti
paling banyak ?
b. Untuk membuat bolu, Tante Yuli
menggunakan terigu
gelas dan gula pasir
gelas. Bahan apakah yang lebih banyak
dibutuhkan ?
Dengan menggunakan pembelajaran yang
menggunakan konsep soal cerita yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari
dan realistik (RME) serta penggunaan media pembelajaran, maka siswa akan lebih
dapat memahami bagaiman cara menyelesaikan permasalahan tentang membandingkan
pecahan sederhana. Kemampuan menyelesaikan soal cerita
pecahan sangat diperlukan siswa, karena dalam kehidupan sehari-hari siswa sering
dihadapkan dengan masalah pecahan. Maka siswa membutuhkan solusi agar mampu
menjawab permasalahan yang dihadapi dan mampu menyampaikan pertanyaan dan
tanggapan terhadap masalah yang berkaitan dengan pecahan.
III.
REKOMENDASI
Berdasarkan analisis dari
permasalahan yang ada serta pemecahan masalah dalam pembelajarannya. Disusunlah
artikel ini yang membahas tentang penggunaan pendekatan Realistic
Mathematics Education (RME) dalam mengatasi kesulitan siswa memecahkan permasalahan yang
berkaitan dengan pecahan sederhana serta membantu guru dalam menerapkan konsep
pecahan menggunakan media pembelajaran yang ada. Karena dengan menggunakan
pendekatan RME dalam pemecahan masalah, siswa dapat lebih mengembangkan potensi
dirinya dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada di kehidupan
sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan. Dengan adanya media yang digunakan
juga akan lebih membangun kemampuan siswa dalam menemukan konsepnya sendiri.
Sehingga pendekatan RME dan penggunaan media sangat perlu diterapkan dalam
pembelajaran matematika khususnya di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Adjie,
N. dan Maulana. (2009). Pemecahan Masalah
Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Departemen
Pendidikan Nasional. (2008). Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan
Kontekstual dalam Melaksanakan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Matematika.
Fajariyah,
N. dan Triratnawati, D. (2008). Matematika
3 Untuk SD/MI Kelas 3. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional Tahun 2003.
Heruman.
(2007). Model Pembelajaran Matematika di
Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan.(2006). Jakarta: BP. Dharma Bhakti.
Sagala,
S.(2003). Konsep dan Makna Pembelajaran.
Bandung: Alfabeta.
Suwangsih,
E. dan Tiurlina. (2010). Model
Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.(2010).
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia 2010.
Priatna,
D. et al. (2004). Pendidikan Matematika II. Bandung:
Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Windayana,
H. et
al. (2005). Pendidikan
Matematika I. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Nurul
Qamariyah, S. (2012). Pembelajaran Soal
Cerita Pecahan Sederhana. [Online].Tersedia:http://mahkotangariboyo.wordpress.com/2012/11/14/pembelajaran-soal-cerita-pecahan-sederhana/ [19
Februari 2013]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar