Pengikut

Kamis, 12 Oktober 2017

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA DENGAN PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH MATEMATIKA TENTANG MEMBANDINGKAN PECAHAN SEDERHANA MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME)
Oleh :
Ghina Raudlotul Jannah, S.Pd    
(Editor : Fitria Nuraeni, S.Pd)    

I.          PENDAHULUAN
Dalam KTSP 2006 sudah dipaparkan bahwa pada kelas 3 semester II Sekolah Dasar terdapat materi mengenai memecahkan masalah yang berkaitan dengan pecahan sederhana. Jika dilihat dari tujuan matematika itu sendiri dijelaskan bahwa matematika bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Oleh karena itu, kemampuan memecahkan masalah sangat perlu dipahami dan dimiliki oleh siswa-siswa di Sekolah Dasar. Jika dilihat dari realita yang ada di masyarakat, kemampuan menyelesaikan soal cerita terutama di kelas awal Sekolah Dasar masih sangat rendah karena kemampuan  memahami kalimat masih kurang. Padahal kemampuan memahami kalimat merupakan salah satu prasyarat untuk bisa mengerjakan soal cerita. Beberapa kenyataan perilaku siswa dalam pembelajaran, yaitu kurangnya aktifitas siswa yang mempunyai inisiatif untuk bertanya pada guru, sibuk menyalin apa yang ditulis dan diucapkan guru, apabila ditanya guru tidak ada yang mau menjawab tetapi mereka menjawab secara bersamaan sehingga suaranya tidak jelas, siswa terkadang ribut sendiri waktu guru menerangkan atau mengajar. Aktifitas siswa yang demikian kurang mendukung untuk bisa memahami kalimat dalam soal cerita, sehingga akan mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Selain itu, penyebab yang lain adalah kurangnya media pembelajaran yang digunakan guru dalam kegiatan belajar mengajar.
Pada dasarnya pecahan yaitu suatu bilangan bulat a adalah habis dibagi oleh suatu bilangan bulat b  0 jika dan hanya jika ada suatu bilangan bulat x sehingga a = bx. Sedangkan jika faktor persekutuan terbesar (FPB) dari (a,b) = 1, maka pecahan  disebut pecahan sederhana. Namun dalam buku paket Sekolah Dasar pecahan diartikan sebagai bagian dari sesuatu yang utuh. Dalam ilustrasi gambar, bagian yang dimaksud adalah bagian yang biasanya ditandai dengan arsiran yang disebut pembilang. Sedangkan bagian yang utuh atau bagian yang dianggap satuan dinamakan penyebut. Pecahan merupakan salah satu topik yang sulit untuk diajarkan karena terlihat dari kurang bermaknanya kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru dan sulitnya penggunaan media pembelajaran. Akibatnya, guru biasanya langsung mengajarkan pengenalan angka, seperti pada pecahan  dimana 1 disebut pembilang dan 2 disebut penyebut. Pemilihan teori belajar, metode, media dan pendekatan dalam pembelajaran pun harus selalu diperhatikan seorang guru, karena itu semua yang akan menilai berhasil atau tidaknya proses pembelajaran. Untuk kelas rendah biasanya menggunakan teori Jerome.S.Bruner dimana didalamnya terdapat tahap enactive, iconic, dan symbolic. Untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah bisa digunakan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), karena RME sebagai titik awal untuk pengembangan ide dan konsep matematika pada diri siswa. Pada dasarnya konsep RME ini berkembang sejalan dengan kebutuhan untuk memperbaiki pendidikan matematika khususnya Indonesia yang didominasi oleh persoalan bagaimana meningkatkan pemahaman siswa tentang matematika dan mengembangkan daya nalar pada diri siswa. Adapun ciri-ciri dari RME tersebut, yaitu menggunakan masalah yang kontekstual, menggunakan model atau alat pembelajaran, menggunakan hasil konstruksi siswa itu sendiri, pembelajarannya terfokus pada diri siswa, dan terjadinya interaksi antara siswa dan guru. Sehingga pada pelaksanaannya, RME ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan matematisasi dengan masalah kontekstual yang realistik bagi siswa dengan bantuan dari guru dan pada akhirnya siswa memiliki kemampuan dalam memecahkan masalah dalam pembelajaran matematika.
II.            PEMBAHASAN
Dari beberapa mata pelajaran yang diberikan pada Sekolah Dasar, matematika adalah salah satu mata pelajaran yang menjadi kebutuhan sistem dalam melatih penalaran siswa. Melalui pengajaran matematika diharapkan akan menambah kemampuan mengembangkan keterampilan pada diri siswa khususnya dalam pemecahan masalah yang berkaitan tentang pecahan sederhana. Dilihat dari buku paket Sekolah Dasar kelas 3 Semester II materi memecahkan masalah yang melibatkan pecahan sederhana yaitu membandingkan pecahan. Dapat kita analisis masalah yang akan muncul yaitu, penggunaan pendekatan pembelajaran yang tidak sesuai dan kurangnya pemahaman konsep dalam penyampaian materi dengan menggunakan benda-benda nyata atau media sehingga siswa hanya sekedar mendengar ceramah guru saja tanpa melakukan pembelajaran yang bermakna. Sebagai guru seharusnya kita bisa memilih media, metode apa yang sesuai dan pendekatan apa yang cocok dalam penyampaian materi tersebut.
Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru dalam mengajarkan materi memecahkan masalah tentang membandingkan pecahan sederhana adalah pendekatan Realistic Mathematics Education (RME), karena pendekatan pembelajaran ini dapat mendorong keaktifan, membangkitkan minat dan kreativitas belajar siswa agar dapat meningkatkan kemampuan memecahkan masalahnya yang akan berakibat langsung pada hasil belajar siswa tersebut. Metode yang digunakan bisa ekspositori serta penugasan, karena dengan ekspositori interaksi antara siswa dan guru akan lebih terlihat dan dengan penugasan kemampuan siswa bisa dioptimalkan. Disini guru juga bisa menggunakan teori belajar Bruner karena setiap pembelajarannya dimulai dengan pengenalan masalah sesuai dengan situasi (contextual problem) dan dengan bantuan media yang dimanipulasi oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika. Dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika dan melalui benda atau media pembelajaran yang ditelitinya, siswa akan menemukan sendiri pengetahuan dan konsep awalnya sehingga mempermudah siswa untuk memahami materi yang di pelajarinya.
Ketika dalam pembelajarannya, disini guru bisa mengajak siswa untuk bertanya jawab tentang membandingkan pecahan sederhana terlebih dahulu. Guru bisa menyuruh setiap siswa untuk menyediakan dua lembar kertas. Satu kertas dilipat menjadi dua bagian yang sama, dan salah satu bagian diarsir untuk menunjukkan pecahan  . Kemudian, kertas yang satu lagi dilipat menjadi 4 bagian yang sama, dan salah satu bagian diarsir untuk menunjukkan pecahan  (Tahap Enactive). Kemudian guru menyuruh siswa membandingkan dua kertas hasil lipatan yang telah diarsir dan meminta siswa untuk menggambarkan kertas hasil lipatan yang telah diarsir kedalam buku tugas (Tahap Iconic), setelah itu barulah guru meminta siswa mengubahnya ke dalam bentuk angka dan memberikan simbolnya yaitu lebih besar (>), lebih kecil (<), dan sama dengan (=)  (Tahap Symbolic).

Dalam menyampaikan materinya guru bisa memberikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan sederhana. Pada kegiatan inti, guru membagi siswa kedalam 3 kelompok kemudian setiap kelompok diberikan buah apel, kue, dan pisau untung memotongnya. Guru memberikan lembar kerja siswa yang didalamnya terdapat soal dan langkah-langkah pengerjaan yang harus dipecahkan secara berkelompok. Contohnya:
Soal 1 : Ibu mempunyai 1 buah apel, apel ini akan Ibu bagi menjadi 4 bagian yang sama besarnya dan akan Ibu berikan kepada Tina, Ani, Aji, dan Nani. Maka berapa bagian yang akan mereka dapatkan ?
Soal 2 : Ibu mempunyai 1 kue brownies, akan ibu bagikan sama banyak kepada 6 orang teman arisannya. Maka mereka mendapat berapa bagian?
Pertanyaan  : Dari soal diatas, coba jelaskan mana yang mendapat bagian banyak? Apakah yang mendapat bagian apel atau bagian kue ?
Setelah membaca soal-soal tersebut maka siswa akan berdiskusi dengan kelompoknya dan memecahkan masalah dengan menggunakan benda-benda nyata yang sudah disediakan (Tahap Enactive). Kemudian, guru bisa meminta setiap kelompok untuk menggambarkan apel dan kue yang sudah dipotong dipapan tulis (Tahap Iconic). Siswa menuliskan bentuk pecahan dari gambar tersebut dan guru menyajikan gambar simbol lebih besar (>), lebih kecil (<), atau sama dengan (=). Selanjutnya siswa diminta untuk membandingkannya dan menempelkan simbol tersebut (Tahap Symbolic). Barulah nantinya setiap kelompok menyampaikan hasil diskusi mereka dan dilanjutkan dengan menyamakan persepsi. Agar guru lebih mengetahui kemampuan siswa dalam memecahkan soal cerita, disini guru bisa memberikan beberapa latihan soal yang masih menyangkut dengan permasalahan yang kontekstual. Contoh :
a.       Ibu mempunyai roti. Roti tersebut dipotong menjadi 6 bagian sama besar. Kemudian ,bagian yang  dimakan oleh Kak Yuda dan yang   dimakan Ayah. Siapakah yang makan bagian roti paling banyak ?
b.      Untuk membuat bolu, Tante Yuli menggunakan terigu  gelas dan gula pasir  gelas. Bahan apakah yang lebih banyak dibutuhkan ?
Dengan menggunakan pembelajaran yang menggunakan konsep soal cerita yang berkaitan dengan permasalahan sehari-hari dan realistik (RME) serta penggunaan media pembelajaran, maka siswa akan lebih dapat memahami bagaiman cara menyelesaikan permasalahan tentang membandingkan pecahan sederhana. Kemampuan menyelesaikan soal cerita pecahan sangat diperlukan siswa, karena dalam kehidupan sehari-hari siswa sering dihadapkan dengan masalah pecahan. Maka siswa membutuhkan solusi agar mampu menjawab permasalahan yang dihadapi dan mampu menyampaikan pertanyaan dan tanggapan terhadap masalah yang berkaitan dengan pecahan.
III.            REKOMENDASI
            Berdasarkan analisis dari permasalahan yang ada serta pemecahan masalah dalam pembelajarannya. Disusunlah artikel ini yang membahas tentang penggunaan pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dalam mengatasi   kesulitan siswa memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan pecahan sederhana serta membantu guru dalam menerapkan konsep pecahan menggunakan media pembelajaran yang ada. Karena dengan menggunakan pendekatan RME dalam pemecahan masalah, siswa dapat lebih mengembangkan potensi dirinya dalam menanggapi permasalahan-permasalahan yang ada di kehidupan sehari-hari yang berkaitan dengan pecahan. Dengan adanya media yang digunakan juga akan lebih membangun kemampuan siswa dalam menemukan konsepnya sendiri. Sehingga pendekatan RME dan penggunaan media sangat perlu diterapkan dalam pembelajaran matematika khususnya di Sekolah Dasar.
DAFTAR PUSTAKA
Adjie, N. dan Maulana. (2009). Pemecahan Masalah Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan Kontekstual dalam Melaksanakan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Matematika.
Fajariyah, N. dan Triratnawati, D. (2008). Matematika 3 Untuk SD/MI Kelas 3. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2003. 
Heruman. (2007). Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.(2006). Jakarta: BP. Dharma Bhakti.
Sagala, S.(2003). Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Suwangsih, E. dan Tiurlina. (2010). Model Pembelajaran Matematika. Bandung: UPI PRESS.
Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.(2010). Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia 2010.
Priatna, D. et al. (2004). Pendidikan Matematika II. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Windayana, H. et  al. (2005). Pendidikan Matematika I. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia Kampus Cibiru.
Nurul Qamariyah, S. (2012). Pembelajaran Soal Cerita Pecahan Sederhana. [Online].Tersedia:http://mahkotangariboyo.wordpress.com/2012/11/14/pembelajaran-soal-cerita-pecahan-sederhana/ [19 Februari 2013]



           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...