Pengikut

Senin, 09 Oktober 2017

Menjadi Guru Kreatif Untuk Mengembangkan Siswa Kreatif



MENJADI GURU KREATIF
UNTUK MENGEMBANGKAN SISWA  KREATIF

A.    Ringkasan
Kreativitas merupakan istilah yang sudah sangat akrab di kalangan para guru dan pendidik di negeri ini. Hal itu kiranya dapat dipahami, karena kreativitas merupakan sebuah terminologi penting dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan SDM. Meskipun demikian, jika ditanyakan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan kreativitas, terlebih bagaimana kiat-kiat menumbuhkan kreativitas dalam konteks pembelajaran di sekolah, penulis tidak yakin akan semua guru dan pendidik dapat menjelaskanya, terlebih telah mempraktikannya.
Konon akibat dari kurangnya perhatian terhadap masalah ini, hingga saat ini kreativitas masih merupakan barang langka di lingkungan dunia pendidikan kita, baik di lingkungan guru maupun para siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa yang masih dikatakan jauh dari harapan kita sebagai orang-orang pendidikan. Kebanyakan sekolah konvensional di Indonesia khususnya di daerah Kabupaten Bandung masih ditemukan proses belajar mengajar yang memiliki tingkat kreatifitas yang dapat dikatakan kurang. Hal ini tentu dapat diangkat sebagai masalah yang memerlukan solusi. Dilatarbelakangi hal ini penulis merasa tergerak untuk mencoba menggali dan mencari solusi mengenai persoalan kreatif di lingkungan pendidikan khususnya dalam hal ini pendidikan di sekolah dasar. Pentingnya pembenahan cara berpikir dan pandangan guru terhadap kreatif itu dapat membantu terbukanya jalan untuk membuat suasana belajar yang kratif, yang tentu dapat mendorong siswa belajar lebih kreatif. Guru yang kreatif tentu secara tidak langsung akan mengajar dengan kreatif dan mengarah juga pada pembentukan pesrta didik yang kreatif.


B.     Pendahuluan
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan Indonesia saat ini. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya menyampaikan hasilnya. Merujuk pada teori filsafat Progresivisme, pembelajaran haruslah mampu menyiapkan peserta didik untuk kehidupan dimasa depannya, masa depan yang penuh tantangan dan perlu keterampilan untuk tetap bersaing menghadapinya. Karenanya sikap kreatif menjadi salah satu keterampilan yang harus dimiliki peserta didik. Karena pendidikan bukanlah ssesuatu yang dapat berjalan instan melainkan bentuk pembiasaan yang berkelanjutan.

C.    Tinjauan Pustaka
Dalam pembahasan suatu masalah, sebelum kita sampai pada pembahasan yang lebih detail tentang masalah tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengemukakan batasan tentang masalah yang kita bahas tersebut agar kita mempunyai persepsi yang sama tentang pengertian masalah yang akan dibahas tersebut. Dalam karya ilmiah ini penulis membatasi permasalahan yang akan dibahas,  yaitu tentang konsep kreatif dalam pandangan pendidikan, proses belajar mengajar yang merujuk pada aktifitas kreatif serta hasil belajar yang kreatif.
Konsep tentang kreativitas termasuk konsep yang luas dan kompleks sehingga sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan kreativitas tersebut, berikut dikemukakan definisi kreativitas dari para ahli atau peneliti yang pernah membahas masalah tersebut.
Freedam (1982) mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan untuk memahami dunia, menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang baru dan asli. Sedangkan Woolfook (1984) memberikan batasan bahwa kreativitas adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah. Guilford (1976) mengemukakan kreatifitas adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta berpikir heuristik dan berpikir lateral.
Berbeda pula dari pendapat Rhodes yang dikutip oleh Munandar (1987) yang mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan dalam 4 P yaitu person, process, press, dan product. Menurut Rhodes, kreativitas harus ditinjau dari segi pribadi (person) yang kreatif, proses yang kreatif, pendorong kreatif dan hasil kreatifitas.
Para pakar Bangsa Indonesia diantaranya juga mengemukakan batasan tentang kreatifitas. Cony Semiawan (1987) memberi batasan kreativitas sebagai kemampuan untuk menghasilkan atau menciptakan suatu produk baru. S.C.Utami Munandar dalam bukunya mengemukakan bahwa kreativitas sebagai kemampuan untuk mengubah dan memperkaya dunianya dengan penemuan-penemuan di bidang ilmu teknologi, seni mapun penemuan-penemuan di bidang lainnya. kreatifitas  atau  berfikir  kreatif  merupakan  suatu  bentuk pemikiran yang  kurang  mendapat  perhatian dalam pendidikan  formal. Kebanyakan sekolah yang utama  dilatih  adalah  pengetahuan,  ingatan  dan  kemampuan  berfikir  logis  atau penalaran,  yaitu  kemampuan  menemukan  satu  jawaban  yang  paling  tepat  terhadap masalah  yang  diberikan  berdasarkan  informasi  yang  tersedia. 
Menurut pendapat Gordon, seorang yangmencetus model Sinektik, mengatakan kreativitas sebagai suatu bagian dari kehidupan sehari-hari dan berlangsung seumur hidup. Gordon Gordon percaya jika individu mengerti basis proses kreatif mereka dapat belajar menggunakan pengertian dalam meningkatkan kreativitas dimana mereka hidup dan bekerja secara bebas (mandiri) dan sebagai anggota dari suatu kelompok. Gordon memandang bahwa kreativitas dapat ditingkatkan dengan kesadaran analisis untuk menggambarkannya dan menciptakan prosedur-prosedur latihan yang dapat diterapkan di sekolah dan situasi yang lain.
Berdasarkan atas berbagai pendapat tentang pengertian kreativitas tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan dan menemukan sesuatu yang baru dan asli, yang sebelumnya belum dikenal ataupun dapat dikatakan proses memecahkan masalah dengan cara yang tidak umum. Hasil dari kreativitas itu tidak harus seluruhnya baru, tetapi dapat pula sebagai gabungan yang sudah ada dipadukan sesuatu yang baru. Dan kreatifitas merupakan sebuah proses yang dapat dikondisikan dalam suatu situasi belajar.
Cakupan wilayah kreativitas tidak hanya terbatas pada perbuatan yang sifatnya kerja fisik. Kemampuan untuk menjadi seorang penyimak yang baik, yang mendengarkan gagasan yang datang dari dunia luar dan dari dalam diri sendiri atau dari alam bawah sadar juga merupakan wilayah kreativitas. Dengan demikian kreativitas lebih tepat didefinisikan sebagai suatu pengalaman seorang individu untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas dirinya secara terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan juga alam lingkungan sekitarnya. Hal yang menjadi landasan untuk berkreatif sangatlah beragam, namun kebanyakan muncul ketika adanya dorongan (motivasi) sebagai respon sebuah kondisi.
Beralih dari persoalan kreatif, kini penulis akan memaparkan mengenai proses belajar mengajar yang merujuk pada kreatifitas. Proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan intraksi antara guru dan  murid dimana akan diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar ( dimyati dan mudjiono, 2006 : 3 ). Proses pembelajaran juga diartikan sebagai suatu proses terjadinya intraksi antara pelajar, pengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu lokasi tertentu dalam jangka satuan waktu tertentu pula ( hamalik dalam, 2006 : 162 ).
Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran sebagai suatu proses intraksi antara guru dan murid dimana akan dikhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang berlangsung dalam suatu lokasi dan jangka waktu tertentu.
Menurut Taufik (2009) dalam bukunya yang berjudul Inspiring Teaching menjelaskan bahwa proses belajar mengajar merupakan proses yang memerlukan beberapa faktor pendukung, faktor tersebut diantaranya:
1.      Guru haruslah memiliki self continous impproment.
Seorang guru mutlak harus meningkatkan kapasitas dirinya yaitu dengan mengadakan perubahan di semua lini kehidupan karena perubahan merupakan landasan mengapa setiap orang belajar. Menghargai kesalahan sebagi sikap yang harus diperbaiki dengan proses belajar juga mampu keluar dari zona nyaman dengan mengadakan trobosan-trobosan baru yang menarik. Ketika seorang guru mampu mengendalikan self cuntinous immproment dalam proses secara tak langsung akan  menciptakan kondisi yang sama untuk peserta didiknya. Kondisi yang nyaman dan diri yang siap dengan tantangan dapat menjadi modal awal terbentuknya atmosfer keratif dalam pembelajran.
2.      Mengubah Mind set Inspiring Teaching
Kurang berkembangnya proses belajar mengajar di Indonesia dipengaruhi oleh pola pikir guru yang  masih kurang terbuka terhadap bentuk pembelajaran. Memberdayakan Inner competencies Inspiring Teacher. Guru yang baik mampu melihat masalah dan fokus pada solusi, mengetahi kesulitan namun memiliki keyakinan untuk mengatasinya, menghadapai kondisi terburuk dengan tindakan terbaik dan mempunyai alasan utnuk mengeluh nanmun lebih memilih untuk tersenyum. Berfikir kreatif berarti berfikir berbeda dari kebanyakan orang berfikir. Pemaparan  diatas merupakan cara berpikir diluar kebiasan umum. Namun dengan membiasakan diri seperti itu akan membentuk sebuah pola pikir baru yang tentu lebih terbuka dan baik bagi orientasi pembelajaran kedepanya.
3.      Memberdayakan Inner competencies teacher
Inner competencies teacher ini meliputi segala hal yang dikelola di dalam diri seorang guru. Seorang guru haruslah mampu memahami hakikat belajar dan memahami setiap potensi yang dapat dikembangkan dirinya ketika menjadi seorang guru. Seorang guru yang tidak mengahayati dirinya seorang guru mustahil dapat membelajarakan siswa dengan baik. Seorang guru seyogyanya harus mampu menjadikan dirinya fasilitas bagi siswa untuk belajar. Tanpa adanya keilmuan dan kepahaman dalam diri seorang guru menganai proses belajar tentu akan berdampak terhadap hassil belajar yang diraih siswa. Menjadi guru yang visioner, oriented ddan profesional dirasa mampu menciptakan proses pembelajaran yang kondusif bagi perkembangan diri siswa.
4.      Memaksimalkan Outer competencies Inspiring Teaching
Kesuksesan siswa dalam memahami suatu pembelajaran sehingga mampu menyelelaraskan dengan kehidupannya merupakan salah satu hasil belajar yang diimpikan seorang guru. Karena tujuan dari pembelajaran itu sendiri adalah mengantarkan siswa untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki siswa sehingga menjadi pribadi yang berpendidikan. Untuk mengahsilkan hassil belajar yang optimal tentu harus mengalami proses yang optimal  juga diantara proses tersebut sesuai dengan apa yang dipaparkan Taufik dalam bukunya, seorang guru harus memberikan pembelajaran yang relevan yaitu menyesusikan kapasitas belajar dengan kemampuan siswa, menyampaikan pembelajaran dengan menarik dan menatang, senantiasa menyelaraskan dengan kondisi kelas dan mampu memngelola kelompok di dalam kelas.

Sejalan dengan pendapat Taufik diatas, penulis pun merasa bahawa pembelajran memang harus didesai lebih terbuka. Gunakalah pendekatan open ended serta model-model pembelajaran yang mengasah skill peserta didik baik secara kognisi maupun afeksi siswa. Salah satu model yang mengedepankan kreatifitas dalam belajar adalah model yang dikembangkan oleh Gordon,  jangan   batasi  pengalaman  yang  mungkin diperoleh  peserta  didik,  hormatilah  gagasan-gagasan  mereka,  hargailah  proses belajar  mandiri,  jangan  menakut-nakuti  mereka  dengan  ujian,  hargai  perbedaan individu dan toleransi terhadap situasi kelas yang ribut.
Memang tak mudah menciptakan susana belajar yang diharapkan, namun lebih tak mudah lagi jika hanya diam dan menyaksikan kemerosotan hasil belajar siswa. Gunakan kemampuan yang dimiliki untuk memaksimalkan proses belajar. Para guru bukannya tidak mampu namun kurang berani mengeksplore lebih luas mengenai proses pembelajaran.
Sebuah proses tentunya akan bermuara pada sebuah hasil, kesuksesan sebuah proses dapat terlihat dari hal yang dihasilakan dari proses tersebut. Begitupun proses belajar mengajar, dengan menerapkan sebuah kondisi belajar yang beragam tentu akan menghasilkan hasil belajar yang beragam juga. Dimyati dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam jenis perilaku ranah kognitif, sebagai berikut:
1.      Pengetahuan, mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2.      Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap arti dan maknatentang hal yang dipelajari.
3.      Penerapan, mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4.      Analisis, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil.
5.      Sintesis, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
6.       Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya, kemampuan menilai hasil ulangan.

Berdasarkan pengertian hasil belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Bertemali dengan kreatif, salah satu hasil belajar yang didambakan adalah munculnya sikap kreatif dalam diri siswa. Selain itu selama proses belajar diharapkan selalu berhubungan dengan aktifitas kreatif. Tugas seorang guru agar dapat mengahsilkan siswa-siswa yang kreatif tentu adalah dengan menciptakan sebuah kondisi belajar yang mendorong siswa untuk berkreatif. Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah. Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental.

A.    Analisis dan Sintesis
Masalah yang diangkat oleh penulis adalah mengenai kreatifitas, dalam lingkup bahwa seorang guru perlu kreatif agar siswanya terdorong menjadi kreatif. Jika di analisis penulis merasa ada keterhungungan antara prilaku guru dengan prilaku siswa. Seorang guru yang kreatif tentu akan memiliki gaya belajar yang berbeda dari kebanyakan guru pada umumnya. Sebuah kondisi dimana guru mengemas pembelajaran menjadi sesuatu yang menarik dan menantang bagi siswa. Kreatif tidaklah harus menggunakan media yang mahal, kreatif tidak selalu harus menggunakan kombinasi model yang rumit dan menyita waktu. Kreatif adalah dengan memberdayakan segala hal yang ada, baik sarana, ide ataupun keterampilan.
Sekolah dasar merupakan tempat dimana pendidikan dasar diberikan, anak sekolah dasar menurut teori Piaget masuk dalam kategori operasional kongkret, dimana pola berfikirnya masih harus berhubungan dengan benda kongkret. Jadi usahakan dalam setiap pembelajaran guru mengahdirkan benda kongkret. Selain benda kongkret, mengacu pada teori CTL (contekstual Teaching Learning ) maka pembelajaran haruslah bermula dari hal-hal yang bersifat kontektual atau pengalaman nyata anak dalam kehidupan sehari-hari. Guru tidak perlu terjebak dalam teori, ajaklah siswa mengenal dirinya dan lingkungan lalu arahkan pada proses kreatif dalam memahami semua itu. Yang diperlukan oleh seorang guru adalah memandang kehidupan siswa lalu mengajak mereka kedalam kehidupan guru (belajar). Dan proses ajakan ini tentulah memerlukan teknik dan strategi tertentu. Disinilah diperlukan kreatif dalam berpikir.
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang maka peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Dengan adanya kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah. Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik fisik maupun mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik yang dinilai lebih penting dari yang lainnya.
Kebanyakn masalah terletak dari cara pandang guru terhadap kreatifitas, kreatif identik dengan sesuatu hal yang bersifat baru ataupun memerlukan peralatan yang banyak yang tentunya menguras biaya. Pola pikir seperti inilah yang membuat guru hanya berjalan ditempat tanpa mencoba mengembangkan pembelajaran ke arah kreatifitas. Padalah kraetifitas itu sendiri mudah, misalnya guru membiasakan diri menggunakan pendekatan yang bersifat open ended. Selain memancing kreatifitas siswa juga membiasakan siswa untuk berpikir terbuka. Gunakalah media, soal atau materi yang dapat mendukung pendekatan secara open ended. Proses pembelajaranpun diusahakan bersifat terbuka dan demokratis.
Pengembangan kreatifitas dapat dilakukan melalui proses belajar diskaveri/inkuiry dan belajar bermakna, dan tidak dapat dilakukan hanya dengan kegiatan belajar yang hanya bersifat ekspositori. Karena inti dari kreatifitas adalah pengembangan kemampuan berpikir divergen dan bukan berpikir konvergen. Untuk pengembangan kemampuan demikian guru perlu menciptakan situasi belajar- mengajar yang banyak memberikan kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah, melakukan beberapa percobaan, mengembangkan konsep-konsep atau gagasan siswa sendiri.
Dalam proses pembelajaran peserta didik perlu diupayakan pengembangan aktifitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pebelajaran. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan kreativitas para peserta didiknya, salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan pelajaran seni rupa yang telah ada dalam kurikulum pembelajaran, seperti yang dibahas pada salah satu jurnal. Disana dijelaskan bahwa mata pelajaran seni rupa bertujuan untuk meningkatkan kreativitas, sensitivitas. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah, membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun dorongan eksternal.
Berdasarkan temuan masalah serta hasil tinjauan pustaka, penulis merasa bahawa selalu ada hubungan yang erat antar tingkat kreatifitas guru dengan tingkat kreatifitas siswa. Guru yang mengajar dengan kreatif akan mendorong anak untuk berpikir lebih kreatif dibandingkan denga annak yang belajara dalam situasi yang bisa saja. Hal ini penulis rasa akibat dari stimulus yang diberikan guru untuk merangsang siswa berpikir diluar kebiasaanya berpikir. Dengan adanya pembiasaan-pembiasaan yang positif makan siswa akan terbiasa tanpa mereka sadari. Pembelajaran kreatif sangat bergantung pada guru yang mengolah kratifitas itu sendiri, siswa hanya menerima dan menjalankan instruksi. Jadi dapat disimpulkan bahwa tingkat kreatifitas siswa dalam belajar dipengaruhi oleh tingkat kreatifitas guru dalam mengelola pengajarannya.

B.     Simpulan dan Rekomendasi
Dari hasil pemaparan diatas menganai hubungan kreatifitas guru dengan kratifitas siswa maka penulis menyimpulkan bahwa kreatifitas siswa dapat dibentuk dan dibiasakan melalui kondisi-kondisi yang dibentuk oleh guru dalam proses belajar mengajar. Guru yang kreatif mengelola pembelajaran akan menstimulus siswa untuk belajar secara kratif. Kembangkan mindset inspiring teaching, self continous immproment, inner and outer competencies teacher agar dapat menjadi guru yang inspiratif dan kreatif. Guru sebagai pengendali dan pengelola kelas sangat berperan dalam pembentukan sikap kreatif siswa. Siswa diberikan fasilitas berpikir terbuka melalui materi dan proses belajar yang disajikan guru. Karenanya sangatlah penting guru berpikir terbuka dan kratif dalam belajar agar siswa pun terdorong untuk berpikir terbuka dan kratif.
Rekomendasi untuk seluruh guru di nusantara, jangalah takut untuk berpikir diluar kebiasaan. Carilah sebanyak mungkin pengetahuan dan cara mengajar kreatif, kenalilah dunia siswa lalu ajaklah dengan mereka dengan cara yang menyenangkan ke dunia belajar. Doronglah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Jangan takut untuk berkreasi menggabungkan model-model pembelajaran atau menggunakan media yang murahan, segala sesuatunya tergantung dari mana kita memandangnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kreatif bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas 3

Kreatif Bersama Operasi Hitung Campuran di Kelas III (Pengembangan Pendekatan Open Ended dengan Model Sinektik) Abstrak :...