MENJADI GURU
KREATIF
UNTUK
MENGEMBANGKAN SISWA KREATIF
A.
Ringkasan
Kreativitas merupakan
istilah yang sudah sangat akrab di kalangan para guru dan pendidik di negeri
ini. Hal itu kiranya dapat dipahami, karena kreativitas merupakan sebuah
terminologi penting dalam dunia pendidikan dan pengajaran serta pengembangan
SDM. Meskipun demikian, jika ditanyakan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan
kreativitas, terlebih bagaimana kiat-kiat menumbuhkan kreativitas dalam konteks
pembelajaran di sekolah, penulis tidak yakin akan semua guru dan pendidik dapat
menjelaskanya, terlebih telah mempraktikannya.
Konon akibat dari
kurangnya perhatian terhadap masalah ini, hingga saat ini kreativitas masih
merupakan barang langka di lingkungan dunia pendidikan kita, baik di lingkungan
guru maupun para siswa. Hal ini berdampak pada hasil belajar siswa yang masih
dikatakan jauh dari harapan kita sebagai orang-orang pendidikan. Kebanyakan
sekolah konvensional di Indonesia khususnya di daerah Kabupaten Bandung masih
ditemukan proses belajar mengajar yang memiliki tingkat kreatifitas yang dapat
dikatakan kurang. Hal ini tentu dapat diangkat sebagai masalah yang memerlukan
solusi. Dilatarbelakangi hal ini penulis merasa tergerak untuk mencoba menggali
dan mencari solusi mengenai persoalan kreatif di lingkungan pendidikan
khususnya dalam hal ini pendidikan di sekolah dasar. Pentingnya pembenahan cara
berpikir dan pandangan guru terhadap kreatif itu dapat membantu terbukanya
jalan untuk membuat suasana belajar yang kratif, yang tentu dapat mendorong
siswa belajar lebih kreatif. Guru yang kreatif tentu secara tidak langsung akan
mengajar dengan kreatif dan mengarah juga pada pembentukan pesrta didik yang
kreatif.
B. Pendahuluan
Suatu sistem pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses
belajar-mengajar berlangsung secara menarik dan menantang sehingga peserta
didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu
dan relevan dengan pembangunan Indonesia saat ini. Untuk mewujudkan pendidikan
yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan program-program
pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan, karena
dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai keunggulan
sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan dan keahlian
sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berkembang.
Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas diperlukan
manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan.
Manajemen pendidikan itu terkait dengan manajemen peserta didik yang isinya
merupakan pengelolaan dan juga pelaksanaannya. Fakta-fakta dilapangan ditemukan
sistem pengelolaan anak didik masih menggunakan cara-cara konvensional dan
lebih menekankan pengembangan kecerdasan dalam arti yang sempit dan kurang
memberi perhatian kepada pengembangan bakat kreatif peserta didik. Padahal
Kreativitas disamping bermanfaat untuk pengembangan diri anak didik juga
merupakan kebutuhan akan perwujudan diri sebagai salah satu kebutuhan paling
tinggi bagi manusia. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya
masalah, membuat dugaan tentang kekurangan, menilai dan meguji dugaan atau
hipotesis, kemudian mengubahnya dan mengujinya lagi sampai pada akhirnya
menyampaikan hasilnya. Merujuk pada teori filsafat Progresivisme, pembelajaran
haruslah mampu menyiapkan peserta didik untuk kehidupan dimasa depannya, masa
depan yang penuh tantangan dan perlu keterampilan untuk tetap bersaing
menghadapinya. Karenanya sikap kreatif menjadi salah satu keterampilan yang
harus dimiliki peserta didik. Karena pendidikan bukanlah ssesuatu yang dapat
berjalan instan melainkan bentuk pembiasaan yang berkelanjutan.
C.
Tinjauan
Pustaka
Dalam pembahasan suatu masalah, sebelum kita sampai pada pembahasan
yang lebih detail tentang masalah tersebut, terlebih dahulu kita perlu
mengemukakan batasan tentang masalah yang kita bahas tersebut agar kita
mempunyai persepsi yang sama tentang pengertian masalah yang akan dibahas
tersebut. Dalam karya ilmiah ini penulis membatasi permasalahan yang akan
dibahas, yaitu tentang konsep kreatif dalam
pandangan pendidikan, proses belajar mengajar yang merujuk pada aktifitas
kreatif serta hasil belajar yang kreatif.
Konsep tentang kreativitas termasuk konsep yang luas dan kompleks
sehingga sulit merumuskan secara tepat apa yang dimaksud dengan kreativitas
tersebut, berikut dikemukakan definisi kreativitas dari para ahli atau peneliti
yang pernah membahas masalah tersebut.
Freedam (1982) mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan untuk memahami
dunia, menginterprestasi pengalaman dan memecahkan masalah dengan cara yang
baru dan asli. Sedangkan Woolfook (1984) memberikan batasan bahwa kreativitas
adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau
asli atau pemecahan suatu masalah. Guilford (1976) mengemukakan kreatifitas
adalah cara-cara berpikir yang divergen, berpikir yang produktif, berdaya cipta
berpikir heuristik dan berpikir lateral.
Berbeda pula dari pendapat Rhodes yang dikutip oleh Munandar (1987) yang
mengemukakan kreativitas sebagai kemampuan dalam 4 P yaitu person, process,
press, dan product. Menurut Rhodes, kreativitas harus ditinjau dari segi
pribadi (person) yang kreatif, proses yang kreatif, pendorong kreatif dan hasil
kreatifitas.
Para pakar Bangsa Indonesia diantaranya juga mengemukakan batasan tentang
kreatifitas. Cony Semiawan (1987) memberi batasan kreativitas sebagai kemampuan
untuk menghasilkan atau menciptakan suatu produk baru. S.C.Utami Munandar dalam
bukunya mengemukakan bahwa kreativitas sebagai kemampuan untuk mengubah dan
memperkaya dunianya dengan penemuan-penemuan di bidang ilmu teknologi, seni
mapun penemuan-penemuan di bidang lainnya. kreatifitas atau berfikir
kreatif merupakan suatu
bentuk pemikiran yang kurang mendapat
perhatian dalam pendidikan
formal. Kebanyakan sekolah yang utama
dilatih adalah pengetahuan,
ingatan dan kemampuan
berfikir logis atau penalaran, yaitu
kemampuan menemukan satu
jawaban yang paling
tepat terhadap masalah yang
diberikan berdasarkan informasi
yang tersedia.
Menurut pendapat Gordon, seorang yangmencetus model Sinektik,
mengatakan kreativitas sebagai suatu bagian dari
kehidupan sehari-hari
dan berlangsung seumur hidup. Gordon Gordon percaya jika individu mengerti
basis proses kreatif mereka dapat belajar menggunakan pengertian dalam
meningkatkan kreativitas dimana mereka hidup dan bekerja secara bebas (mandiri)
dan sebagai anggota dari suatu kelompok. Gordon memandang bahwa kreativitas
dapat ditingkatkan dengan kesadaran analisis untuk menggambarkannya dan
menciptakan prosedur-prosedur
latihan yang dapat diterapkan di sekolah dan situasi yang lain.
Berdasarkan atas berbagai pendapat tentang pengertian kreativitas tersebut,
maka dapat diambil kesimpulan bahwa kreativitas adalah kemampuan seseorang
untuk menghasilkan dan menemukan sesuatu yang baru dan asli, yang sebelumnya
belum dikenal ataupun dapat dikatakan proses memecahkan masalah dengan cara yang
tidak umum. Hasil dari kreativitas itu tidak harus seluruhnya baru, tetapi
dapat pula sebagai gabungan yang sudah ada dipadukan sesuatu yang baru. Dan
kreatifitas merupakan sebuah proses yang dapat dikondisikan dalam suatu situasi
belajar.
Cakupan wilayah kreativitas tidak hanya terbatas pada perbuatan
yang sifatnya kerja fisik. Kemampuan untuk menjadi seorang penyimak yang baik,
yang mendengarkan gagasan yang datang dari dunia luar dan dari dalam diri
sendiri atau dari alam bawah sadar juga merupakan wilayah kreativitas. Dengan
demikian kreativitas lebih tepat didefinisikan sebagai suatu pengalaman seorang
individu untuk mengungkapkan dan mengaktualisasikan identitas dirinya secara
terpadu dalam hubungan eratnya dengan diri sendiri, orang lain, dan juga alam
lingkungan sekitarnya. Hal yang menjadi landasan untuk berkreatif sangatlah
beragam, namun kebanyakan muncul ketika adanya dorongan (motivasi) sebagai
respon sebuah kondisi.
Beralih dari persoalan kreatif, kini penulis akan memaparkan
mengenai proses belajar mengajar yang merujuk pada kreatifitas. Proses
pembelajaran merupakan suatu kegiatan
intraksi antara guru dan murid dimana akan diakhiri dengan proses
evaluasi hasil belajar ( dimyati dan mudjiono, 2006 : 3 ). Proses pembelajaran
juga diartikan sebagai suatu proses terjadinya intraksi antara pelajar,
pengajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, yang berlangsung dalam suatu
lokasi tertentu dalam jangka satuan waktu tertentu pula ( hamalik dalam, 2006 :
162 ).
Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut di atas maka dapat disimpulkan
bahwa proses pembelajaran sebagai suatu proses intraksi antara guru dan
murid dimana akan dikhiri dengan proses evaluasi hasil belajar dalam upaya
mencapai tujuan pembelajaran yang berlangsung dalam suatu lokasi dan jangka
waktu tertentu.
Menurut Taufik (2009) dalam bukunya yang berjudul Inspiring Teaching menjelaskan
bahwa proses belajar mengajar merupakan proses yang memerlukan beberapa faktor
pendukung, faktor tersebut diantaranya:
1. Guru haruslah memiliki self continous impproment.
Seorang guru mutlak harus meningkatkan kapasitas dirinya yaitu dengan mengadakan
perubahan di semua lini kehidupan karena perubahan merupakan landasan mengapa
setiap orang belajar. Menghargai kesalahan sebagi sikap yang harus diperbaiki
dengan proses belajar juga mampu keluar dari zona nyaman dengan mengadakan
trobosan-trobosan baru yang menarik. Ketika seorang guru mampu mengendalikan
self cuntinous immproment dalam proses secara tak langsung akan menciptakan kondisi yang sama untuk peserta
didiknya. Kondisi yang nyaman dan diri yang siap dengan tantangan dapat menjadi
modal awal terbentuknya atmosfer keratif dalam pembelajran.
2. Mengubah Mind set Inspiring Teaching
Kurang berkembangnya proses belajar mengajar di Indonesia dipengaruhi oleh
pola pikir guru yang masih kurang
terbuka terhadap bentuk pembelajaran. Memberdayakan Inner competencies
Inspiring Teacher. Guru yang baik mampu melihat masalah dan fokus pada solusi,
mengetahi kesulitan namun memiliki keyakinan untuk mengatasinya, menghadapai
kondisi terburuk dengan tindakan terbaik dan mempunyai alasan utnuk mengeluh
nanmun lebih memilih untuk tersenyum. Berfikir kreatif berarti berfikir berbeda
dari kebanyakan orang berfikir. Pemaparan
diatas merupakan cara berpikir diluar kebiasan umum. Namun dengan
membiasakan diri seperti itu akan membentuk sebuah pola pikir baru yang tentu
lebih terbuka dan baik bagi orientasi pembelajaran kedepanya.
3. Memberdayakan Inner competencies teacher
Inner competencies teacher ini meliputi segala hal yang dikelola di dalam
diri seorang guru. Seorang guru haruslah mampu memahami hakikat belajar dan
memahami setiap potensi yang dapat dikembangkan dirinya ketika menjadi seorang
guru. Seorang guru yang tidak mengahayati dirinya seorang guru mustahil dapat
membelajarakan siswa dengan baik. Seorang guru seyogyanya harus mampu
menjadikan dirinya fasilitas bagi siswa untuk belajar. Tanpa adanya keilmuan
dan kepahaman dalam diri seorang guru menganai proses belajar tentu akan
berdampak terhadap hassil belajar yang diraih siswa. Menjadi guru yang
visioner, oriented ddan profesional dirasa mampu menciptakan proses
pembelajaran yang kondusif bagi perkembangan diri siswa.
4. Memaksimalkan Outer competencies Inspiring Teaching
Kesuksesan siswa dalam memahami suatu pembelajaran sehingga mampu
menyelelaraskan dengan kehidupannya merupakan salah satu hasil belajar yang
diimpikan seorang guru. Karena tujuan dari pembelajaran itu sendiri adalah
mengantarkan siswa untuk mampu mengembangkan potensi yang dimiliki siswa
sehingga menjadi pribadi yang berpendidikan. Untuk mengahsilkan hassil belajar
yang optimal tentu harus mengalami proses yang optimal juga diantara proses tersebut sesuai dengan
apa yang dipaparkan Taufik dalam bukunya, seorang guru harus memberikan
pembelajaran yang relevan yaitu menyesusikan kapasitas belajar dengan kemampuan
siswa, menyampaikan pembelajaran dengan menarik dan menatang, senantiasa
menyelaraskan dengan kondisi kelas dan mampu memngelola kelompok di dalam
kelas.
Sejalan dengan pendapat Taufik diatas, penulis pun merasa bahawa
pembelajran memang harus didesai lebih terbuka. Gunakalah pendekatan open ended
serta model-model pembelajaran yang mengasah skill peserta didik baik secara
kognisi maupun afeksi siswa. Salah satu model yang mengedepankan kreatifitas
dalam belajar adalah model yang dikembangkan oleh Gordon, jangan batasi
pengalaman yang mungkin diperoleh peserta
didik, hormatilah gagasan-gagasan mereka,
hargailah proses belajar mandiri,
jangan menakut-nakuti mereka
dengan ujian, hargai
perbedaan individu dan toleransi terhadap situasi kelas yang ribut.
Memang tak mudah menciptakan susana belajar yang
diharapkan, namun lebih tak mudah lagi jika hanya diam dan menyaksikan
kemerosotan hasil belajar siswa. Gunakan kemampuan yang dimiliki untuk
memaksimalkan proses belajar. Para guru bukannya tidak mampu namun kurang
berani mengeksplore lebih luas mengenai proses pembelajaran.
Sebuah proses tentunya akan bermuara pada sebuah hasil,
kesuksesan sebuah proses dapat terlihat dari hal yang dihasilakan dari proses
tersebut. Begitupun proses belajar mengajar, dengan menerapkan sebuah kondisi
belajar yang beragam tentu akan menghasilkan hasil belajar yang beragam juga. Dimyati
dan Mudjiono (2006: 3-4) juga menyebutkan hasil belajar merupakan hasil dari
suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tindak
mengajar diakhiri dengan proses evaluasi hasil belajar. Dari sisi siswa, hasil
belajar merupakan berakhirnya pengajaran dari puncak proses belajar.
Benjamin
S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 26-27) menyebutkan enam jenis perilaku
ranah kognitif, sebagai berikut:
1. Pengetahuan,
mencapai kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan tersimpan
dalam ingatan. Pengetahuan itu berkenaan dengan fakta, peristiwa, pengertian
kaidah, teori, prinsip, atau metode.
2. Pemahaman,
mencakup kemampuan menangkap arti dan maknatentang hal yang dipelajari.
3. Penerapan,
mencakup kemampuan menerapkan metode dan kaidah untuk menghadapi masalah yang nyata
dan baru. Misalnya, menggunakan prinsip.
4. Analisis,
mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian sehingga
struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah
menjadi bagian yang telah kecil.
5. Sintesis,
mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.
6. Evaluasi, mencakup kemampuan membentuk
pendapat tentang beberapa hal berdasarkan kriteria tertentu. misalnya,
kemampuan menilai hasil ulangan.
Berdasarkan pengertian hasil
belajar di atas, disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan-kemampuan
yang dimiliki siswa setelah menerima pengalaman belajarnya. Kemampuan-kemampuan
tersebut mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil belajar
dapat dilihat melalui kegiatan evaluasi yang bertujuan untuk mendapatkan data
pembuktian yang akan menunjukkan tingkat kemampuan siswa dalam mencapai tujuan
pembelajaran.
Bertemali dengan kreatif, salah
satu hasil belajar yang didambakan adalah munculnya sikap kreatif dalam diri
siswa. Selain itu selama proses belajar diharapkan selalu berhubungan dengan
aktifitas kreatif. Tugas seorang guru agar dapat mengahsilkan siswa-siswa yang
kreatif tentu adalah dengan menciptakan sebuah kondisi belajar yang mendorong
siswa untuk berkreatif. Dengan adanya
kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik
nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan
masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada
nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.
Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik
fisik maupun mental.
A.
Analisis
dan Sintesis
Masalah yang
diangkat oleh penulis adalah mengenai kreatifitas, dalam lingkup bahwa seorang
guru perlu kreatif agar siswanya terdorong menjadi kreatif. Jika di analisis
penulis merasa ada keterhungungan antara prilaku guru dengan prilaku siswa. Seorang
guru yang kreatif tentu akan memiliki gaya belajar yang berbeda dari kebanyakan
guru pada umumnya. Sebuah kondisi dimana guru mengemas pembelajaran menjadi
sesuatu yang menarik dan menantang bagi siswa. Kreatif tidaklah harus
menggunakan media yang mahal, kreatif tidak selalu harus menggunakan kombinasi
model yang rumit dan menyita waktu. Kreatif adalah dengan memberdayakan segala
hal yang ada, baik sarana, ide ataupun keterampilan.
Sekolah dasar
merupakan tempat dimana pendidikan dasar diberikan, anak sekolah dasar menurut
teori Piaget masuk dalam kategori operasional kongkret, dimana pola berfikirnya
masih harus berhubungan dengan benda kongkret. Jadi usahakan dalam setiap
pembelajaran guru mengahdirkan benda kongkret. Selain benda kongkret, mengacu
pada teori CTL (contekstual Teaching Learning ) maka pembelajaran haruslah
bermula dari hal-hal yang bersifat kontektual atau pengalaman nyata anak dalam
kehidupan sehari-hari. Guru tidak perlu terjebak dalam teori, ajaklah siswa
mengenal dirinya dan lingkungan lalu arahkan pada proses kreatif dalam memahami
semua itu. Yang diperlukan oleh seorang guru adalah memandang kehidupan siswa
lalu mengajak mereka kedalam kehidupan guru (belajar). Dan proses ajakan ini
tentulah memerlukan teknik dan strategi tertentu. Disinilah diperlukan kreatif
dalam berpikir.
Suatu sistem
pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses belajar-mengajar berlangsung
secara menarik dan menantang maka peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin
melalui proses belajar yang berkelanjutan. Proses pendidikan yang bermutu akan
membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk
mewujudkan pendidikan yang bermutu dan efisien perlu disusun dan dilaksanakan
program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara
berkelanjutan, karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan
dicapai keunggulan sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan,
keterampilan dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
terus berkembang.
Dengan adanya
kreativitas yang diimplementasiakan dalam sistem pembelajaran, peserta didik
nantinya diharapkan dapat menemukan ide-ide yang berbeda dalam memecahkan
masalah yang dihadapi sehingga ide-ide kaya yang progresif dan divergen pada
nantinya dapat bersaing dalam kompetisi global yang selalu berubah.
Perkembangan anak didik yang baik adalah perubahan kualitas yang seimbang baik
fisik maupun mental. Tidak ada satu aspek perkembangan dalam diri anak didik
yang dinilai lebih penting dari yang lainnya.
Kebanyakn
masalah terletak dari cara pandang guru terhadap kreatifitas, kreatif identik
dengan sesuatu hal yang bersifat baru ataupun memerlukan peralatan yang banyak
yang tentunya menguras biaya. Pola pikir seperti inilah yang membuat guru hanya
berjalan ditempat tanpa mencoba mengembangkan pembelajaran ke arah kreatifitas.
Padalah kraetifitas itu sendiri mudah, misalnya guru membiasakan diri
menggunakan pendekatan yang bersifat open ended. Selain memancing kreatifitas
siswa juga membiasakan siswa untuk berpikir terbuka. Gunakalah media, soal atau
materi yang dapat mendukung pendekatan secara open ended. Proses
pembelajaranpun diusahakan bersifat terbuka dan demokratis.
Pengembangan kreatifitas dapat dilakukan melalui proses belajar
diskaveri/inkuiry dan belajar bermakna, dan tidak dapat dilakukan hanya dengan
kegiatan belajar yang hanya bersifat ekspositori. Karena inti dari kreatifitas
adalah pengembangan kemampuan berpikir divergen dan bukan berpikir konvergen. Untuk pengembangan kemampuan demikian
guru perlu menciptakan situasi belajar- mengajar yang banyak memberikan
kesempatan kepada siswa untuk memecahkan masalah, melakukan beberapa percobaan,
mengembangkan konsep-konsep atau gagasan siswa sendiri.
Dalam proses pembelajaran peserta didik perlu diupayakan pengembangan
aktifitas, kreativitas, dan motivasi siswa di dalam proses pebelajaran. Ada
banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk dapat meningkatkan kreativitas
para peserta didiknya, salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan pelajaran seni
rupa yang telah ada dalam kurikulum pembelajaran, seperti yang dibahas pada
salah satu jurnal. Disana dijelaskan bahwa mata pelajaran seni rupa bertujuan
untuk meningkatkan kreativitas, sensitivitas. Kreativitas adalah proses merasakan dan mengamati adanya masalah,
membuat dugaan tentang kekurangan (masalah) ini, menilai dan mengujinya. Proses
kreativitas dalam perwujudannya memerlukan dorongan (motivasi intristik) maupun
dorongan eksternal.
Berdasarkan
temuan masalah serta hasil tinjauan pustaka, penulis merasa bahawa selalu ada
hubungan yang erat antar tingkat kreatifitas guru dengan tingkat kreatifitas
siswa. Guru yang mengajar dengan kreatif akan mendorong anak untuk berpikir
lebih kreatif dibandingkan denga annak yang belajara dalam situasi yang bisa
saja. Hal ini penulis rasa akibat dari stimulus yang diberikan guru untuk
merangsang siswa berpikir diluar kebiasaanya berpikir. Dengan adanya
pembiasaan-pembiasaan yang positif makan siswa akan terbiasa tanpa mereka
sadari. Pembelajaran kreatif sangat bergantung pada guru yang mengolah
kratifitas itu sendiri, siswa hanya menerima dan menjalankan instruksi. Jadi
dapat disimpulkan bahwa tingkat kreatifitas siswa dalam belajar dipengaruhi
oleh tingkat kreatifitas guru dalam mengelola pengajarannya.
B.
Simpulan
dan Rekomendasi
Dari hasil
pemaparan diatas menganai hubungan kreatifitas guru dengan kratifitas siswa
maka penulis menyimpulkan bahwa kreatifitas siswa dapat dibentuk dan dibiasakan
melalui kondisi-kondisi yang dibentuk oleh guru dalam proses belajar mengajar.
Guru yang kreatif mengelola pembelajaran akan menstimulus siswa untuk belajar secara
kratif. Kembangkan mindset inspiring teaching, self continous immproment, inner
and outer competencies teacher agar dapat menjadi guru yang inspiratif dan
kreatif. Guru sebagai pengendali dan pengelola kelas sangat berperan dalam
pembentukan sikap kreatif siswa. Siswa diberikan fasilitas berpikir terbuka
melalui materi dan proses belajar yang disajikan guru. Karenanya sangatlah
penting guru berpikir terbuka dan kratif dalam belajar agar siswa pun terdorong
untuk berpikir terbuka dan kratif.
Rekomendasi
untuk seluruh guru di nusantara, jangalah takut untuk berpikir diluar
kebiasaan. Carilah sebanyak mungkin pengetahuan dan cara mengajar kreatif,
kenalilah dunia siswa lalu ajaklah dengan mereka dengan cara yang menyenangkan
ke dunia belajar. Doronglah mereka menjadi pribadi-pribadi yang kreatif. Jangan
takut untuk berkreasi menggabungkan model-model pembelajaran atau menggunakan
media yang murahan, segala sesuatunya tergantung dari mana kita memandangnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar